
Sering merasa capek sendiri urus rumah dan anak? Bisa jadi pembagian tugas rumah tangga dengan pasangan belum adil. Kenali tandanya, Mommies!
Pernah nggak sih, Mommies, merasa hari belum selesai padahal energi sudah habis duluan? Rumah masih berantakan, anak belum mandi, kerjaan kantor belum kelar, sementara pasangan terlihat santai dan bilang, “Kan tinggal bilang kalau butuh bantuan.”
Padahal masalahnya sering bukan soal dibantu atau nggak. Tapi kenapa semua urusan rumah terasa otomatis jadi tanggung jawab satu orang saja?
Kalau akhir-akhir ini Mommies gampang lelah, emosian, atau diam-diam kesal sama pasangan, bisa jadi pembagian tugas rumah tangga di rumah memang belum adil.
Dan ini bukan soal siapa yang paling sibuk atau paling banyak cari uang, ya. Tapi soal partnership.
BACA JUGA: Hubungan Mulai Terasa Hambar? Ini 7 Tanda Suami Istri Butuh Quality Time Berdua
Banyak pasangan masih tanpa sadar menjalani pola lama:
Padahal, ada perbedaan besar antara membantu dan ikut bertanggung jawab.
Kalau satu orang terus jadi “manager rumah tangga” seperti mengatur jadwal anak, stok kebutuhan rumah, urusan sekolah, sampai menu makan setiap hari, tentu saja beban mentalnya bisa sangat melelahkan.

Supaya Mommies dan Daddies paham kalau rumah bersih itu bukan default, tapi ada sosok yang mengerjakan segalanya, ini beberapa tanda kalau pembagian tugas rumah tangga nggak adil.
Pasangan mungkin mau diminta tolong, tapi harus disuruh dulu, harus diingatkan dulu, dan harus diarahkan dulu.
Contohnya, “Tolong jemput anak.”, “Tolong buang sampah.”, hingga “Coba cek galon, habis nggak.”
Apakah kalimat-kalimat seperti ini familiar? “Kan aku udah bantu cuci piring.”, “Aku tadi udah jagain anak.”, atau “Kalau disuruh juga aku mau.”
Masalahnya, mengurus rumah dan anak bukan sekadar membantu pasangan, tapi tanggung jawab bersama.
Walaupun badan lagi duduk, pikiran tetap kerja terus. Mulai dari mikirin bekal suami dan anak besok, jadwal imunisasi anak, seragam sekolah belum dicuci, hingga belum beresin rumah yang berantakan.
Sementara pasangan bisa benar-benar santai melakukan kegiatannya seperti main game dan media sosial tanpa kepikiran urusan domestik.
Kalau hanya satu orang yang terus siaga, burnout gampang terjadi.
Awalnya mungkin cuma capek biasa. Tapi lama-lama muncul pikiran seperti: “Kenapa semua harus aku?”, “Kenapa dia nggak peka?”, dan “Kenapa aku harus minta terus?”
Kalau dibiarkan, rasa kesal ini bisa berubah jadi resentment dalam hubungan.
Coba perhatikan, kalau anak lupa PR, siapa yang panik? Kalau rumah berantakan, siapa yang merasa bersalah? Kalau stok kebutuhan habis, siapa yang langsung mikir solusi?
Sering kali, beban emosional rumah tangga jatuh ke perempuan, bahkan ketika sama-sama bekerja.
Dengan kondisi yang terjadi, ternyata banyak perempuan yang akhirnya memilih untuk diam saja. Beberapa alasannya mulai dari karena:
Padahal, ingin merasa didukung itu kebutuhan yang valid, lho, Mommies. Hubungan sehat bukan tentang siapa yang paling banyak berkorban, tapi bagaimana dua orang saling menopang.

Kalau Mommies sudah mengalami beberapa tanda di atas, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasinya.
Pilih waktu yang tenang dan ngobrol tanpa menyalahkan. Daripada bilang “Kamu nggak pernah bantu”, Mommies bisa coba ubah jadi “Aku capek karena rasanya semua ada di kepala aku.”
Fokus pada perasaan, bukan menyerang pasangan.
Mommies dan Daddies juga bisa membagi tanggung jawab, sehingga nggak merasa pekerjaan rumah adalah tugas. Misalnya, Daddies pegang urusan sekolah anak, Mommies pegang jadwal makan, hingga jadwal beberes rumah dibuat jelas.
Jadi bukan modelan yang disuruh dulu baru jalan dan dikerjakan.
Kadang kita juga perlu menerima bahwa rumah nggak harus selalu rapi dan sempurna, cara pasangan ingin melakukan pekerjaan rumah bisa berbeda, dan nggak semua harus dikerjakan sendiri karena nggak puas melihat yang dikerjakan pasangan.
Karena rumah yang nyaman bukan rumah yang paling rapi, tapi rumah yang penghuninya nggak kelelahan sendiri.
BACA JUGA: 10 Hal yang Tidak Boleh Dilakukan Setelah Bertengkar dengan Pasangan
Merasa capek sendiri di rumah bukan berarti kurang bersyukur. Bisa jadi tubuh dan mental memang sedang memberi sinyal kalau bebannya terlalu banyak.
Dan untuk Daddies, partnership dalam rumah tangga bukan cuma soal mencari nafkah, tapi juga hadir secara mental dan emosional di rumah.
Karena rumah seharusnya jadi tempat paling nyaman untuk pulang, bukan tempat satu orang yang merasa kerja tanpa shift selesai.