
Kata psikolog, ada kalimat yang sebaiknya tidak diucapkan orang tua saat anak mengalami kegagalan. Alih-alih menguatkan, malah bisa melukai mental anak.
Pernahkah berada di posisi ini? Kita sudah menemani si kecil belajar sampai larut, memberikan semangat penuh, bahkan memberikan fasilitas terbaik agar ia sukses. Namun, hasilnya ternyata tidak sesuai harapan. Mungkin nilai ujiannya anjlok, dia nggak terpilih dalam audisi drama sekolah, atau tendangan penaltinya meleset mentok tiang gawang di menit terakhir pertandingan bola.
Sebagai orang tua, melihat anak menghadapi kegagalan memang tidak mudah. Rasanya ada campur aduk antara kecewa, sedih, dan mungkin sedikit rasa lelah. Namun, saat anak mengalami kegagalan, respons orang tua justru bisa menjadi penentu apakah mereka akan bangkit atau semakin terpuruk. Momen ini adalah golden moment dalam pengasuhan, bukan karena rasanya menyenangkan, tapi karena momen inilah yang akan membentuk bagaimana cara anak menghadapi hambatan di masa depan.
BACA JUGA: 7 Hal yang Harus Jadi Pelajaran Saat Anak Mengalami Kegagalan

Kita semua tentu ingin anak kita sukses. Namun, hidup tidaklah sempurna, begitu pula manusia. Anak-anak yang tidak pernah diizinkan gagal (atau sangat takut akan kegagalan) sering kali tumbuh menjadi orang dewasa yang sulit mengelola stres, menghindari tantangan, atau mudah menyerah.
Di sinilah pentingnya resiliensi atau ketangguhan. Resiliensi adalah kemampuan untuk bangkit kembali, mencoba lagi, dan tetap kuat saat segala sesuatunya tidak berjalan sesuai rencana. Kemampuan ini tidak dibawa sejak lahir, melainkan dipelajari, terutama melalui dukungan orang tua.
Menurut Psikolog Klinis Anak dan Remaja, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., M.Psi., kehadiran orang tua di saat kritis ini sangat krusial. “Ketika mengalami kegagalan, yang dibutuhkan anak adalah rasa aman secara emosional. Anak perlu merasa mereka tetap diterima dan dicintai, terlepas dari hasil apa pun yang mereka capai (unconditional love),” jelas Psikolog Vera.
Lalu, bagaimana cara memberikan dukungan yang tepat saat anak gagal? Menurut Psikolog Vera, orang tua dapat hadir dengan cara:
Sebagai orang tua, kita selalu berusaha memberikan yang terbaik. Namun, ada kalanya rasa lelah atau emosi membuat kita tanpa sengaja mengucapkan kalimat-kalimat yang seharusnya tidak ada dalam kamus pengasuhan. Kata-kata kasar yang digunakan untuk menegur anak bisa melukai hati mereka dan membuat mereka merasa demotivasi serta patah semangat.
Berdasarkan kategorinya, ada empat jenis kalimat negatif yang sebaiknya dihindari orang tua:
Banyak orang tua yang mulai meninggalkan hukuman fisik, namun beralih ke ancaman verbal. Padahal, ancaman tidak hanya membuat anak merasa tidak aman, tetapi juga sangat mematahkan semangatnya. Ancaman biasanya digunakan untuk mengontrol situasi, namun dampaknya destruktif.
Hanya sedikit orang tua yang bisa menggunakan humor secara positif. Sering kali, maksud hati ingin bercanda atau menyindir agar anak introspeksi, malah berakhir dengan sarkasme yang menyakitkan.
Kalimat-kalimat yang mematahkan semangat ini justru menetapkan kegagalan tersebut dalam diri anak. Akibatnya, tujuan awal orang tua untuk mengubah perilaku anak tidak akan tercapai karena anak justru membangun pola pikir negatif berdasarkan ucapan tersebut.
Beberapa orang tua mengadopsi sikap keras dengan harapan anak akan kapok. Padahal, pendekatan yang kasar secara verbal dapat menyebabkan kerusakan parah pada kesejahteraan emosional dan psikologis anak.
Sering kali, karena sudah bingung harus merespons apa, orang tua mengeluarkan pernyataan yang tidak masuk akal atau sekadar menunjukkan otoritas tanpa logika yang jelas. Hal ini membuat anak bingung.

Mommies dan Daddies perlu ingat, anak mungkin terlihat diam saat mendengar kalimat di atas. Namun, kata-kata tersebut berisiko tersimpan dalam memori jangka panjang dan membentuk cara mereka memandang diri sendiri. Kalimat-kalimat yang terdengar sepele bagi orang tua bisa meninggalkan bekas yang panjang pada anak, terutama bila terus berulang.
Menurut psikolog Vera, dampak jangka panjangnya meliputi:
Daripada fokus pada kesalahan, cobalah gunakan kalimat-kalimat yang membangun resiliensi dan kepercayaan diri berikut ini:
Kita manusia biasa yang bisa lepas kendali. Jika Mommies atau Daddies telanjur mengeluarkan kalimat yang menyakiti perasaan anak, Psikolog Vera menyarankan langkah-langkah berikut:
Seorang dokter bedah tidak belajar dari kegagalan saat sedang mengoperasi pasien, begitu juga pilot. Namun, dalam proses belajar, kita tidak boleh membingkai kesalahan sebagai identitas anak. Jika kita ingin membesarkan anak yang percaya diri dan mampu beradaptasi, kita harus mengubah cara kita berbicara tentang kegagalan.
Bisa jadi, suara orang tua hari ini akan menjadi suara di kepala anak seumur hidupnya. Karena pada dasarnya, kegagalan itu sendiri bukanlah guru. Refleksi dan dukungan hangat dari orang tualah yang menjadi guru terbaik bagi mereka.
BACA JUGA: 10 Cara Melatih Anak Mampu Menghadapi Kegagalan
Cover: Pexels