
Berikut 16 tanda Mommies atau Daddies tumbuh di toxic family atau keluarga toksik serta dampak yang bisa muncul dan terjadi pada anak.
Jika Mommies tumbuh atau hidup dalam dinamika keluarga yang nggak sehat, perasaan yang muncul sering kali bukan sekadar kesal atau jengkel. Berinteraksi dengan anggota keluarga, atau hanya memikirkannya, bisa memicu tekanan emosional yang cukup berat, seperti cemas, sedih, atau merasa nggak aman.
Sayangnya, pola hubungan keluarga toksik atau disfungsional sering sulit dikenali, terutama jika Mommies masih berada di dalam situasi tersebut setiap hari. Kenapa sulit disadari? Bisa jadi karena orang itu menganggapnya sebagai hal yang “lumrah” karena sudah terbiasa sejak lama.
Padahal, ada beberapa tanda yang bisa bantu Mommies menyadarinya. Bagaimana caranya? Bisa dimulai dengan melihat beberapa pertanyaan di bawah ini.
BACA JUGA: Mau Hubungan Sehat antara Menantu dan Mertua? Terapkan 10 Hal Ini

Bagaimana cara mengetahui apakah keluarga kita bukan hanya punya keterbatasan, tetapi benar-benar toksik? Seiring bertumbuh dewasa, hal-hal ini sering tidak disadari.
Menurut buku Parenting in Modern Societies, keluarga disfungsional telah menjadi masalah besar dalam masyarakat modern. Memang, tidak ada keluarga yang sempurna, tetapi perilaku toxic family dan kurangnya keharmonisan dalam beberapa keluarga perlu dikhawatirkan. Berikut tanda-tanda keluarga disfungsional:
Dikutip dari artikel Verywell Mind yang ditinjau oleh psikiater bersertifikat, Mommies bisa memulainya dengan menjawab sejumlah pertanyaan ini. Jika menjawab “ya” bahkan untuk satu pertanyaan, barangkali hal ini menandakan bahwa keluarga Mommies disfungsional.
Sayangnya, dalam beberapa keluarga, ketika kita mengutarakan ada yang salah, keluarga disfungsional atau yang punya perilaku toksik cenderung akan mengecilkan masalah itu, mengelak, atau bahkan menghukum orang tersebut.
Hal ini bisa bikin seseorang justru berpikir dirinya terlalu sensitif atau membesar-besarkan masalah yang ada di rumah.
Ditambah, anak belum punya pengalaman hidup yang memadai untuk tahu perbedaan perilaku yang normal dan tidak normal dari orang tua atau wali. Inilah kenapa beberapa orang nggak sadar sudah tumbuh dalam keluarga yang toksik.
BACA JUGA: Perlu Introspeksi, Ini Tanda Anda adalah Menantu yang Sangat Menyebalkan

Tumbuh di keluarga disfungsional menimbulkan dampak buruk bagi anak, bahkan efeknya hingga mereka dewasa. Alih-alih mengungkapkan kekhawatiran dan menyelesaikan masalah dengan cara yang positif, anak dalam keluarga disfungsional menormalisasi situasi dan terbiasa mentolerir perilaku toksik.
Dinamika buruk yang ditemukan di keluarga disfungsional berdampak negatif bagi tumbuh-kembang anak, hal itu menimbulkan rasa sakit dan meninggalkan luka emosional yang nggak mudah pulih.
Melansir Bab “The Impact of Dysfunctional Families on the Mental Health of Children”, berikut dampak negatif bagi anak yang tumbuh di keluarga disfungsional atau toxic family:
Anak terus-menerus merasa tidak aman dan siap siaga karena lingkungan rumah tidak stabil serta perilaku orang tua sulit diprediksi dan tidak harmonis.
Jarak emosional yang diciptakan oleh orang tua membuat anak sulit memiliki ikatan keluarga yang normal atau sehat.
Dampak dari lingkungan tersebut secara langsung menurunkan rasa percaya diri pada anak
Anak mengalami kesulitan mengutarakan perasaan mereka dengan cara yang sehat.
Tindakan, perkataan, dan sikap orang tua menyebabkan rasa sakit dan trauma yang berulang bagi anak.
Anak tumbuh dengan trauma yang tidak tertangani sehingga meninggalkan bekas luka emosional dan mental yang permanen, serta rasa sedih dan penderitaan yang mendalam.
Anak dari keluarga toksik sering kali dilabeli dengan stigma atau pandangan negatif karena situasi di rumah mereka
Anak berisiko tinggi untuk menarik diri dan mengisolasi diri dari lingkungan keluarga atau pertemanan karena tekanan di rumah atau stigma dari luar.
Paparan trauma emosional yang terus-menerus selama tumbuh di keluarga toksik meningkatkan risiko anak terkena penyakit mental di masa depan.
BACA JUGA: Agar Rukun dan Bebas Drama, Ini 12 Tips Tinggal Bersama Mertua yang Wajib Dicoba!
Dengan mengetahui tanda-tanda dan dampak jika tumbuh di keluarga toksik atau disfungsional, Mommies selangkah lebih maju dalam perjalanan memahami dan menyembuhkan diri. Berada di lingkungan toxic family mungkin telah meninggalkan luka, tetapi luka itu tidak harus mendefinisikan masa depan Mommies. Mommies layak mendapatkan kedamaian batin, dan tidak apa-apa memprioritaskan kesehatan mental sendiri di atas segalanya.