banner-detik
EDUCATION

Vira & Aimee: Aksi Nyata Remaja Indonesia Atasi Kesenjangan Pendidikan hingga Juara Internasional

author

Katharina Mengein 6 hours

Vira & Aimee: Aksi Nyata Remaja Indonesia Atasi Kesenjangan Pendidikan hingga Juara Internasional

Vira dan Aimee raih juara internasional lewat aksi nyata mengajar dan membangun mini library untuk atasi kesenjangan pendidikan di Indonesia.

Kalau Mommies punya anak remaja, mungkin pernah bertanya: di usia mereka sekarang, sebenarnya sudah bisa bikin dampak apa, ya?

Vira dan Aimee punya jawabannya.

Berawal dari tugas sekolah, dua siswi kelas 11 dari SMA Cikal Surabaya ini memilih untuk tidak berhenti di riset. Mereka membawa isu kesenjangan pendidikan di Indonesia ke level yang lebih nyata, bahkan hingga ke panggung internasional.

Lewat ide dan aksi yang mereka jalankan, Vira dan Aimee berhasil meraih Juara 2 kategori Best Idea Innovation di Korea Youth Summit 2026. Namun yang membuat cerita mereka istimewa bukan hanya prestasi, tapi aksi nyata di lapangan.

Mommies Daily berbincang langsung dengan mereka, dan dari obrolan ini terasa, perubahan memang bisa dimulai dari siapa saja, bahkan dari remaja.

BACA JUGA: Cornelio Mahatma Utomo: Dari Game Ponsel Berujung Jadi Music Director

Berawal dari Riset, Lalu Muncul Kesadaran

Kesadaran mereka terhadap isu pendidikan tidak datang tiba-tiba. Bagi Vira, momen “klik” itu terjadi saat ia duduk di kelas Geografi.

“Saya mulai menyadari bahwa pendidikan di daerah terpencil di Indonesia masih sangat kurang. Isu ini penting karena semua anak berhak mendapatkan pendidikan setara demi menumbuhkan generasi penerus yang cerdas,” ungkap Vira.

Senada dengan temannya, Aimee menemukan fakta serupa saat melakukan riset untuk sebuah proyek. Ia melihat kontras yang tajam antara kualitas pendidikan di kota besar dan area pedesaan. Sebagai sesama siswa, mereka merasa punya tanggung jawab moral untuk membantu.

“Karena kita siswa, membantu orang mendapatkan pendidikan yang layak adalah hal yang bisa kita lakukan,” tambah Aimee.

Dari Ide ke Aksi di Panti Asuhan

Tak sekadar berteori, mereka terjun langsung ke lapangan. Pengalaman pertama mengajar di panti asuhan meninggalkan kesan mendalam bagi keduanya. Ada rasa prihatin, tapi juga haru melihat antusiasme anak-anak di sana.

Vira menceritakan bagaimana ia melihat minimnya tenaga pengajar dan fasilitas yang layak. Namun, di tengah keterbatasan itu, semangat anak-anak tak padam. “Yang paling membekas adalah bagaimana anak-anak di sana sangat antusias belajar bahasa Inggris dan softskill baru,” kenangnya.

Salah satu aksi nyata yang mereka lakukan adalah membangun mini library. Mengapa perpustakaan? Karena bagi mereka, buku adalah jendela dunia yang paling mudah diakses.

“Buku membantu menyediakan informasi yang kita inginkan,” jelas Aimee. Buku yang diberikan mulai dari buku belajar bahasa Inggris dasar, buku keagamaan, hingga buku cerita fantasi untuk mengasah kreativitas dan imajinasi mereka.

Dari Proyek Sekolah ke Kompetisi Internasional

Perjalanan mereka tidak selalu mulus. Tantangan terbesar justru datang dari hal yang paling klasik, yaitu Manajemen Waktu. Sebagai pelajar kelas akhir yang sedang sibuk mempersiapkan diri masuk universitas dan fokus pada kegiatan PONDA, mereka harus pintar membagi waktu.

Apalagi, proyek ini dikerjakan bersama dua teman lain dari sekolah yang berbeda. “Kami harus mencari waktu yang tepat di mana kami berempat bisa berkumpul untuk berdiskusi dan mengajar di panti asuhan,” ujar Vira.

Kerja keras itu pun terbayar. Mereka berhasil membawa isu ini ke kompetisi internasional di Korea. Di Korea Youth Summit 2026 yang diikuti 26 peserta dari 8 negara, mereka mempresentasikan ide yang sudah dipersiapkan.

Bertemu dengan peserta dari berbagai belahan dunia membuka mata mereka bahwa banyak orang di luar sana yang memiliki kegelisahan yang sama. “Melihat inovasi dari orang-orang di dunia dengan isu yang sama membuat perspektif saya melihat dunia mulai terbuka luas,” kata Vira.

Support System: Sosok di Balik Layar

Di balik perjalanan ini, mereka tidak berjalan sendiri. Ada mentor mereka, Pak Radix, yang membantu mengarahkan proyek. Keluarga juga punya peran besar, mulai dari dukungan moral hingga hal-hal sederhana seperti mengantar ke lokasi. Tak kalah penting, teman-teman satu tim yang terus bekerja sama dari awal hingga akhir.

Pesan untuk Sesama Remaja

Vira dan Aimee percaya bahwa usia bukan penghalang untuk melakukan perubahan. Dari cerita mereka, satu hal terasa jelas, bahwa perubahan tidak harus menunggu dewasa.

“Perubahan bisa dimulai dari hal kecil, seperti riset isu yang ada di Indonesia dan mengajak teman terdekat untuk lebih sadar masalah tersebut,” pesan Vira.

Aimee pun menambahkan, “Mulailah dengan pemikiran simpel tentang permasalahan di sekitar kita, lalu bantu dengan perencanaan dan kerja sama.”

Bagi Vira dan Aimee:

Vira: Remaja itu… tidak boleh takut berinovasi dan melakukan perubahan.

Aimee: Remaja itu… generasi penerus bangsa.

BACA JUGA: Jesslyn Anastasia Tambunan: Mengubah Hobi Menjadi Prestasi dengan Suara Emasnya

Foto: Dok. Pribadi

Share Article

author

Katharina Menge

-

banner-detik

POPULAR ARTICLE

banner-detik
banner-detik

COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan