
Water birth terlihat nyaman, tapi apakah aman? Simak manfaat, risiko, dan fakta praktiknya di Indonesia sebelum memilih metode persalinan ini.
Buat ibu baru dan calon Mommies, ternyata memilih metode persalinan sering banget jadi salah satu keputusan besar yang penuh pertimbangan. Mulai dari persalinan normal, caesar, hypnobirthing, sampai gentle birth, semuanya punya kelebihan masing-masing dan bisa disesuaikan dengan kondisi Mommies.
Nah, belakangan ini ada satu metode yang kembali ramai dibahas, yaitu water birth atau melahirkan di dalam air. Sekilas metode ini terlihat lebih tenang, minim rasa sakit, bahkan disebut-sebut lebih “natural”.
Tapi sebelum ikut tertarik, penting banget buat Mommies untuk cari tahu dulu faktanya di lapangan. Apakah water birth benar-benar aman? Dan bagaimana sebenarnya praktiknya di Indonesia?
Yuk, kita bahas satu per satu supaya Mommies bisa mengambil keputusan yang lebih tepat dan terinformasi.
BACA JUGA: Isi Tas Melahirkan Apa Saja? Ini Checklist Lengkap untuk Ibu & Bayi ke Rumah Sakit
Water birth adalah metode persalinan yang dilakukan di dalam air hangat, biasanya menggunakan kolam atau bathtub khusus. Prosesnya bisa dimulai sejak fase pembukaan hingga bayi lahir di dalam air.
Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), berendam air hangat selama tahap awal persalinan memang bisa membantu ibu lebih rileks. Namun, untuk proses melahirkan, organisasi ini merekomendasikan agar persalinan tetap dilakukan di darat karena belum ada bukti yang cukup terkait keamanan water birth.
Namun, penting dipahami bahwa praktik ini masih menjadi perdebatan di dunia medis, terutama untuk proses kelahiran bayi di dalam air.
Metode water birth menawarkan pengalaman persalinan yang lebih tenang dengan memanfaatkan kehangatan air untuk menciptakan efek relaksasi yang mendalam untuk Mommies. Menurut Cochrane Review, berendam dalam air hangat secara signifikan mengurangi kebutuhan akan intervensi medis seperti epidural karena air membantu tubuh melepaskan endorfin sebagai pereda nyeri alami.
Selain itu, American College of Nurse-Midwives (ACNM) menyoroti beberapa manfaat fisik utama yang didapat ibu, antara lain:
Dengan kombinasi manfaat tersebut, water birth menjadi salah satu pilihan untuk mendukung persalinan yang minim trauma tapi tetap terkendali secara medis.

Meskipun memberikan manfaat relaksasi yang besar, water birth ternyata juga punya beberapa risiko potensial yang memerlukan pemantauan ketat dari tenaga medis profesional, ya, Mommies.
Karena alasan inilah, banyak organisasi kesehatan tidak merekomendasikan water birth untuk proses kelahiran bayi.
Meski terlihat menarik, penting untuk diketahui bahwa water birth belum menjadi praktik medis yang direkomendasikan di Indonesia.
Dikutip dari RRI, Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) menyatakan bahwa metode ini belum memiliki standar keamanan yang jelas dan tidak termasuk dalam kurikulum pendidikan medis di Indonesia.
Selain itu, dikutip dari CNN Indonesia, sejumlah dokter spesialis kandungan juga menegaskan bahwa water birth memiliki risiko tertentu, terutama bagi bayi, seperti infeksi dan gangguan pernapasan.
Karena itu, sebagian besar rumah sakit di Indonesia saat ini tidak menjadikan water birth sebagai layanan utama dan lebih mengutamakan metode persalinan yang sudah terstandarisasi secara medis.
Meski tidak direkomendasikan secara luas, faktanya di lapangan masih ada beberapa fasilitas kesehatan yang pernah atau masih menawarkan layanan water birth.
Berdasarkan data yang beredar, seperti di:
Estimasi biaya water birth berkisar mulai dari Rp11 – Rp16 juta (RSIA Permata Sarana Husada) hingga Rp38 juta (RS Happy Land), tergantung kelas perawatan dan tindakan medis yang dilakukan.
Namun, perlu diingat bahwa harga tersebut biasanya hanya bersifat estimasi dan bisa berubah tergantung kondisi ibu dan bayi saat persalinan.
Yang paling penting, keputusan memilih metode persalinan tetap harus melalui konsultasi dengan dokter spesialis kandungan.

Jawabannya kembali ke kondisi masing-masing Mommies.
Water birth memang terdengar menarik karena menawarkan Mommies pengalaman melahirkan yang lebih rileks dan minim intervensi. Namun, di Indonesia sendiri, metode ini belum menjadi standar praktik medis, ya, Mommies.
Artinya, faktor keamanan tetap harus menjadi prioritas utama dibandingkan tren atau preferensi.
Jika Mommies tertarik dengan konsep persalinan yang lebih nyaman, sebenarnya ada alternatif lain yang lebih umum dan direkomendasikan, seperti:
BACA JUGA: 8 Artis yang Akan Melahirkan 2026, dari Amanda Manopo hingga Alyssa Daguise
Setiap Mommies punya perjalanan melahirkan yang unik. Tidak ada satu metode yang paling benar untuk semua orang.
Yang terpenting adalah memastikan bahwa pilihan yang diambil sudah melalui pertimbangan medis yang tepat, aman untuk ibu dan bayi, dan juga didukung oleh tenaga kesehatan yang kompeten.
Jadi, sebelum memutuskan, pastikan Mommies sudah berdiskusi dengan dokter dan memahami risiko serta manfaatnya secara menyeluruh, ya.
Cover: Pexels