banner-detik
PARENTING & KIDS

Water Birth di Indonesia: Manfaat, Risiko, dan Fakta Medis yang Perlu Diketahui

author

Katharina Mengein 5 hours

Water Birth di Indonesia: Manfaat, Risiko, dan Fakta Medis yang Perlu Diketahui

Water birth terlihat nyaman, tapi apakah aman? Simak manfaat, risiko, dan fakta praktiknya di Indonesia sebelum memilih metode persalinan ini.

Buat ibu baru dan calon Mommies, ternyata memilih metode persalinan sering banget jadi salah satu keputusan besar yang penuh pertimbangan. Mulai dari persalinan normal, caesar, hypnobirthing, sampai gentle birth, semuanya punya kelebihan masing-masing dan bisa disesuaikan dengan kondisi Mommies.

Nah, belakangan ini ada satu metode yang kembali ramai dibahas, yaitu water birth atau melahirkan di dalam air. Sekilas metode ini terlihat lebih tenang, minim rasa sakit, bahkan disebut-sebut lebih “natural”.

Tapi sebelum ikut tertarik, penting banget buat Mommies untuk cari tahu dulu faktanya di lapangan. Apakah water birth benar-benar aman? Dan bagaimana sebenarnya praktiknya di Indonesia?

Yuk, kita bahas satu per satu supaya Mommies bisa mengambil keputusan yang lebih tepat dan terinformasi.

BACA JUGA: Isi Tas Melahirkan Apa Saja? Ini Checklist Lengkap untuk Ibu & Bayi ke Rumah Sakit

Apa Itu Water Birth?

Water birth adalah metode persalinan yang dilakukan di dalam air hangat, biasanya menggunakan kolam atau bathtub khusus. Prosesnya bisa dimulai sejak fase pembukaan hingga bayi lahir di dalam air.

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), berendam air hangat selama tahap awal persalinan memang bisa membantu ibu lebih rileks. Namun, untuk proses melahirkan, organisasi ini merekomendasikan agar persalinan tetap dilakukan di darat karena belum ada bukti yang cukup terkait keamanan water birth.

Namun, penting dipahami bahwa praktik ini masih menjadi perdebatan di dunia medis, terutama untuk proses kelahiran bayi di dalam air.

Manfaat Water Birth untuk Ibu

Metode water birth menawarkan pengalaman persalinan yang lebih tenang dengan memanfaatkan kehangatan air untuk menciptakan efek relaksasi yang mendalam untuk Mommies. Menurut Cochrane Review, berendam dalam air hangat secara signifikan mengurangi kebutuhan akan intervensi medis seperti epidural karena air membantu tubuh melepaskan endorfin sebagai pereda nyeri alami.

Selain itu, American College of Nurse-Midwives (ACNM) menyoroti beberapa manfaat fisik utama yang didapat ibu, antara lain:

  • Peningkatan Mobilitas: Efek daya apung (buoyancy) memudahkan Mommies bergerak dan mencari posisi mengejan yang paling nyaman tanpa terbebani berat badan sendiri.
  • Perlindungan Perineum: Dikutip dari ACOG, Air hangat meningkatkan elastisitas jaringan kulit, sehingga menurunkan risiko robekan jalan lahir secara signifikan.
  • Kontrol Psikologis & Durasi Persalinan: Lingkungan air menciptakan rasa aman dan kontrol yang mampu menurunkan hormon stres (katekolamin) serta tekanan darah, yang pada akhirnya bisa membantu mempercepat durasi pembukaan pada tahap pertama persalinan.

Dengan kombinasi manfaat tersebut, water birth menjadi salah satu pilihan untuk mendukung persalinan yang minim trauma tapi tetap terkendali secara medis.

Risiko Water Birth yang Perlu Dipahami

Foto: Freepik

Meskipun memberikan manfaat relaksasi yang besar, water birth ternyata juga punya beberapa risiko potensial yang memerlukan pemantauan ketat dari tenaga medis profesional, ya, Mommies.

  • Risiko Infeksi: Air yang terkontaminasi oleh feses atau darah selama proses persalinan bisa jadi media transmisi bakteri, baik bagi Mommies maupun sang bayi.
  • Aspirasi Air pada Bayi: Meski bayi memiliki “refleks menyelam” alami yang menutup jalan napas saat di dalam air, ada risiko kecil mereka bisa menghirup air (water aspiration) jika bayi mengalami stres atau jika tali pusat tertekuk sebelum mereka diangkat ke permukaan.
  • Putusnya Tali Pusat (Cord Avulsion): Saat bayi diangkat dengan cepat ke permukaan air setelah lahir, ada risiko tali pusatnya tertarik hingga putus, yang bisa menyebabkan pendarahan serius pada bayi.
  • Kesulitan Pemantauan Janin: Menurut ACOG, mengawasi detak jantung janin secara kontinu di dalam air lebih menantang dibandingkan persalinan di tempat tidur, sehingga deteksi dini terhadap gawat janin mungkin sedikit terhambat jika alat yang digunakan tidak waterproof atau canggih.
  • Regulasi Suhu Tubuh: Kalau suhu air tidak dijaga dengan ketat (idealnya 36°C – 37,5°C), bayi berisiko mengalami hipotermia atau justru kepanasan (hipertermia) yang dapat memengaruhi detak jantungnya.

Karena alasan inilah, banyak organisasi kesehatan tidak merekomendasikan water birth untuk proses kelahiran bayi.

Fakta Penting: Water Birth Tidak Direkomendasikan di Indonesia

Meski terlihat menarik, penting untuk diketahui bahwa water birth belum menjadi praktik medis yang direkomendasikan di Indonesia.

Dikutip dari RRI, Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) menyatakan bahwa metode ini belum memiliki standar keamanan yang jelas dan tidak termasuk dalam kurikulum pendidikan medis di Indonesia.

Selain itu, dikutip dari CNN Indonesia, sejumlah dokter spesialis kandungan juga menegaskan bahwa water birth memiliki risiko tertentu, terutama bagi bayi, seperti infeksi dan gangguan pernapasan.

Karena itu, sebagian besar rumah sakit di Indonesia saat ini tidak menjadikan water birth sebagai layanan utama dan lebih mengutamakan metode persalinan yang sudah terstandarisasi secara medis.

Fakta di Lapangan: Masih Ada yang Menawarkan Layanan Ini

Meski tidak direkomendasikan secara luas, faktanya di lapangan masih ada beberapa fasilitas kesehatan yang pernah atau masih menawarkan layanan water birth.

Berdasarkan data yang beredar, seperti di:

Estimasi biaya water birth berkisar mulai dari Rp11 – Rp16 juta (RSIA Permata Sarana Husada) hingga Rp38 juta (RS Happy Land), tergantung kelas perawatan dan tindakan medis yang dilakukan.

Namun, perlu diingat bahwa harga tersebut biasanya hanya bersifat estimasi dan bisa berubah tergantung kondisi ibu dan bayi saat persalinan.

Yang paling penting, keputusan memilih metode persalinan tetap harus melalui konsultasi dengan dokter spesialis kandungan.

Jadi, Perlukah Memilih Water Birth?

water birth di indonesia

Foto: Freepik

Jawabannya kembali ke kondisi masing-masing Mommies.

Water birth memang terdengar menarik karena menawarkan Mommies pengalaman melahirkan yang lebih rileks dan minim intervensi. Namun, di Indonesia sendiri, metode ini belum menjadi standar praktik medis, ya, Mommies.

Artinya, faktor keamanan tetap harus menjadi prioritas utama dibandingkan tren atau preferensi.

Jika Mommies tertarik dengan konsep persalinan yang lebih nyaman, sebenarnya ada alternatif lain yang lebih umum dan direkomendasikan, seperti:

  • Hypnobirthing
  • Gentle birth
  • atau persalinan normal dengan teknik relaksasi

BACA JUGA: 8 Artis yang Akan Melahirkan 2026, dari Amanda Manopo hingga Alyssa Daguise

Setiap Mommies punya perjalanan melahirkan yang unik. Tidak ada satu metode yang paling benar untuk semua orang.

Yang terpenting adalah memastikan bahwa pilihan yang diambil sudah melalui pertimbangan medis yang tepat, aman untuk ibu dan bayi, dan juga didukung oleh tenaga kesehatan yang kompeten.

Jadi, sebelum memutuskan, pastikan Mommies sudah berdiskusi dengan dokter dan memahami risiko serta manfaatnya secara menyeluruh, ya.

Cover: Pexels

Share Article

author

Katharina Menge

-

banner-detik

POPULAR ARTICLE

banner-detik
banner-detik

COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan