
Sering lupa setelah melahirkan? Tenang, ini yang disebut mom brain. Kenali penyebab ilmiahnya dan cara mengatasinya biar nggak makin stres!
Siapa yang pernah ngalamin ini? Niatnya ke dapur mau ambil botol susu, tapi pas sampai di depan kulkas malah bengong, lupa mau ambil apa. Atau yang paling klasik: panik cari kunci mobil padahal kuncinya lagi kita pegang sendiri. Banyak ibu pernah mengalaminya, dan hampir semua pernah merasa, “Duh, apa IQ saya terjun bebas ya setelah melahirkan?”
Tenang, Mommies nggak sendirian. Fenomena “pelupa” ini punya nama beken: mom brain. Ternyata, kondisi ini bukan sekadar perasaan kita saja yang sedang kelelahan, tapi memang ada penjelasan ilmiahnya.
BACA JUGA: Isi Tas Melahirkan Apa Saja? Ini Checklist Lengkap untuk Ibu & Bayi ke Rumah Sakit

Mom brain adalah istilah yang merujuk pada perubahan kognitif yang dialami ibu baru setelah melahirkan. Banyak ibu merasa pikiran mereka jadi kurang fokus, kurang tajam, dan energi mental rasanya terkuras habis.
Secara teknis, fungsi eksekutif otak kita yang bertugas untuk merencanakan sesuatu, mengorganisir, dan menjaga perhatian memang sedang sedikit “terganggu”. Dikutip dari UNC Health, Shannon Keller, seorang bidan bersertifikat dari UNC Health, menggambarkan perasaan ini dengan sangat pas,
“Mungkin kita merasa kacau (frazzled), atau merasa tidak bisa berkoordinasi dan tidak bisa membuat rencana. Kita sering melupakan hal-hal kecil, seperti di mana menaruh kunci atau bingung saat mencari bahan makanan di supermarket. Mom brain juga membuat kita merasa sedikit ‘berbeda’ dibandingkan dengan diri kita sebelum melahirkan.”
Faktanya, lebih dari separuh wanita hamil melaporkan adanya penurunan daya ingat. Meskipun jika diuji secara objektif hasilnya sering kali tidak menunjukkan penurunan drastis dibandingkan wanita yang belum pernah hamil, rasa “nge-blank” itu valid dan nyata dirasakan oleh para ibu.
Mungkin selama ini kita cuma tahu kalau tubuh yang berubah saat hamil. Padahal, otak kita juga ikut bertransformasi.
Andrea Altomaro, CNM, seorang bidan di Henry Ford Health, menjelaskan bahwa kehamilan sebenarnya dapat mengurangi gray matter (materi abu-abu) di area tertentu di otak. Area ini bertanggung jawab atas pemikiran, memori, kontrol motorik, hingga regulasi emosi.
Para ahli percaya perubahan inilah yang memicu gejala seperti pelupa, brain fog, hingga sulit fokus.
Ada tiga faktor utama yang saling berkaitan kenapa mom brain ini terasa sangat nyata:
Penurunan volume gray matter tadi jangan dianggap sebagai kerusakan, ya, Mommies. Para peneliti percaya perubahan ini justru bersifat adaptif untuk membantu ibu merespons isyarat bayinya.
Area otak yang volumenya menyusut adalah area yang sama yang akan aktif secara saraf ketika seorang ibu mendengar bayinya menangis atau melihat foto anaknya. Jadi, otak kita sedang menata ulang prioritasnya agar bisa membangun ikatan yang kuat dan melindungi si Kecil.
Ini adalah musuh utama fungsi kognitif. Selama masa hamil dan pascapersalinan, kita tidak mendapatkan tidur yang konsisten.
Saat kurang tidur, kita tidak bisa merencanakan, memproses, atau menganalisis seperti biasanya. Fungsi eksekutif otak pun ikut terdampak, sehingga kita merasa lebih lambat, mudah lupa, dan cepat lelah.
Beberapa ahli menegaskan bahwa mom brain juga dipengaruhi oleh pandangan sosial. Jika masyarakat terus memberi tahu bahwa menjadi ibu berarti akan mengalami penurunan daya pikir, maka ibu akan cenderung berekspektasi hal itu pasti terjadi.
Ini bisa menjadi self-fulfilling prophecy, yaitu sesuatu yang terjadi karena kita percaya hal tersebut akan terjadi.
Ini pertanyaan yang paling sering muncul: “Sampai kapan aku begini?”
Berita baiknya, kabut di pikiran ini bersifat sementara. Untuk kebanyakan ibu, rasa “fuzziness” ini akan mulai mereda saat bayi berusia sekitar enam bulan.
Seperti yang dikatakan Altomaro, kondisi ini memang bisa membuat frustrasi, tapi tidak akan berlangsung selamanya.

Meski wajar, bukan berarti kita nggak bisa berbuat apa-apa untuk meminimalisir efeknya. Berikut beberapa tips yang bisa Mommies coba:
Pastikan Mommies mendapatkan istirahat yang cukup. Tidur yang berkualitas sangat berpengaruh besar pada fungsi kognitif.
Menumbuhkan bayi di dalam rahim itu kerja keras. Hindari aktivitas berat di awal masa postpartum dan fokus pada pemulihan.
Jangan dipendam sendiri. Bicarakan kebutuhan Mommies dengan pasangan atau keluarga.
Ingat, perubahan ini adalah bagian alami dari proses menjadi ibu.
Cari cara paling nyaman untuk relaksasi, seperti jalan santai, meditasi, atau sekadar curhat dengan teman.
Gunakan to-do list, kalender, atau aplikasi agar tidak perlu mengingat semuanya sendiri.
Tidak harus semua dikerjakan sendiri. Minta bantuan pasangan atau keluarga agar beban lebih ringan.
Mom brain memang bisa membuat kita merasa seperti orang yang berbeda. Namun, jika Mommies merasa sudah terlalu lelah atau kewalahan, pertimbangkan untuk meminta bantuan lebih.
Jika memungkinkan, Mommies bisa menyewa bantuan seperti pengasuh atau ART. Kalau belum memungkinkan, cobalah turunkan ekspektasi terhadap diri sendiri.
Namun, jika kondisi ini mulai mengganggu kesehatan mental, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Mereka ada untuk mendukung para ibu agar bisa kembali fokus pada hal yang paling berarti.
Jadi, kalau hari ini Mommies sibuk mencari kacamata sampai keliling rumah padahal kacamata andalan sedang bertengger manis di atas dahi, tertawakan saja. Jangan terlalu keras pada diri sendiri.
Mom brain adalah tanda otak kita sedang melakukan pekerjaan luar biasa untuk beradaptasi demi si Kecil.
Semangat ya, Mommies karena fase ini akan lewat, kok.
BACA JUGA: 11 Rekomendasi Spa untuk Ibu Hamil dan Baru Melahirkan yang Aman, serta Harganya
Cover: Pexels