Sorry, we couldn't find any article matching ''

Aku Tidak Pernah Memeluk Mama, Bahkan saat Ia Menangis
Pengakuan jujur seorang anak yang tak pernah memeluk sang mama. Sebuah refleksi tentang keluarga, pengasuhan, dan cinta yang terlambat disadari.
Aku jarang memeluk mama. Bahkan ketika mama menangis malam itu saat menceritakan dirinya sebagai seorang perempuan, istri, sekaligus ibu—menampilkan kerapuhan dirinya yang selama ini hadir di hadapanku dengan begitu tangguh.
Meskipun sebenarnya saat itu aku juga meneteskan air mata di bawah temaram sinar lampu teras yang menyelinap ke kamar, aku tetap tak bergerak. Sekadar mengusap tangan mama pun tidak.
Tembok yang entah sejak kapan kubangun tak kunjung runtuh. Dan itu sangat kusesali hingga kini.
Saat itu, sudah tiga tahun aku menjalani peran sebagai seorang ibu, dan tahun pertama aku menjadi Rangkul (Relawan Keluarga Kita) demi berupaya memutus rantai pengasuhan yang tidak sehat—begitu tekadku.
Namun, dengan pengalaman yang masih seumur jagung, aku justru menjadi jumawa. Dengan pongah, kutepis saran dari orang tuaku. Kuabaikan rasa khawatir dan kepedulian mereka. “Berlebihan…,” batinku.
Tahun berlalu. Refleksi panjang selama menjalani peran sebagai Rangkul (Relawan Keluarga Kita), dan tentu saja sebagai orang tua, menghantarkanku pada keyakinan bahwa pengasuhan adalah urusan bersama.
Anakku tidak hanya butuh kehangatan dari kami, orang tuanya. Tapi ia juga perlu melihat bagaimana kehangatan itu diteladankan lewat interaksi hangat antara ibu dan kakek serta neneknya.
Perlahan kukikis tembok tinggi itu. Tapi aku tetap belum memeluk mama.
Tahun kembali berganti.
Aku masih teguh menjalankan peran sebagai Rangkul, berupaya menemukan cara untuk bisa mencintai keluargaku dengan lebih baik. Hingga pada suatu ketika, aku merasa begitu tertampar oleh kalimat yang disampaikan oleh Bu Najeela Shihab di sebuah sesi refleksi bersama beliau.
“Kemewahan yang kita rasakan hari ini, kesempatan yang kita dapatkan hari ini untuk bisa berkumpul, tidak lepas dari pengorbanan perempuan-perempuan di sekitar kita…”
Seketika, memori kepongahanku di hadapan mama berkelebat di benakku. Aku begitu abai akan emosi dari perempuan yang sudah melahirkan dan merawatku dengan penuh kasih.
Pastinya ada emosi yang berkecamuk dan harap yang ia tepis demi melihat aku, anak perempuannya, merasa bahagia dengan pilihan yang dibuat. Ada khawatir yang ia simpan rapi di sudut hatinya demi melihat anak-anaknya mandiri.
Selama ini aku lupa bahwa mama bukan hanya seorang ibu. Layaknya aku, mama juga adalah seorang perempuan yang butuh dipeluk. Mama juga adalah seseorang yang butuh untuk kucintai dengan lebih baik.
Di momen Idul Fitri kemarin, setelah hampir 7 tahun aku menjalani peran sebagai ibu, aku memeluk mama.
Dinding itu runtuh bersama tangis kami.
Maafkan aku ya, Ma. Mungkin pelukan-pelukan berikutnya masih akan terasa canggung. Tapi akan kupastikan untuk selalu mencintai mama dengan lebih baik.
BACA JUGA: “Surat Cinta untuk Mamah”, Surat Kecil yang Mengubah Caraku Jadi Ibu
Cover: Freepik
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS