Sorry, we couldn't find any article matching ''

Mengenali Luka Masa Kecil yang Memengaruhi Pria Saat Menjalankan Peran sebagai Suami dan Ayah, Seperti Apa?
Para ayah perlu berdamai dengan luka masa kecil agar tidak terwariskan ke anak, dan membuat ayah semakin bertumbuh menjadi pribadi bermental sehat.
Di suatu momen, saya sedang mengobrol dengan seorang kawan, seorang suami dan ayah. Dari apa yang ia sampaikan, saya menangkap kesan bahwa ia seperti memiliki duka yang tak terselesaikan. Duka dan luka yang tak sempat dikelola dengan tuntas saat ayahnya meninggal ketika dirinya masih remaja. Bahkan ia berkata: ”Nggak sempat bahas perasaan, life must go on.” Semenjak sang ayah wafat, hidupnya berubah menjadi survival mode dan berlanjut hingga ia menjadi seorang suami dan ayah.
Lalu dalam hati saya bertanya, inikah inner child-nya?
Apa Itu Inner Child atau Luka Masa Kecil?
Inner child adalah representasi dari dalam diri setiap individu yang muncul dari nilai-nilai, pengalaman, kenangan, keyakinan yang dipegang sejak kecil serta harapan dan impian untuk masa depan. Inner child muncul dari alam bawah sadar seseorang, yang terbentuk dari setiap pesan bahkan jauh sebelum ia mampu memproses apa yang terjadi baik secara mental maupun emosional.
Inner child yang sehat termanifestasi dalam wujud yang positif, seperti perasaan ceria ketika teringat diperhatikan atau dikasihi orang tua, dibelikan mainan, diajak jalan-jalan oleh nenek. Sebaliknya, inner child yang terluka dapat menampilkan sisi diri yang emosional sebagai dampak dari luka masa kecil akibat trauma atau kebutuhan yang tidak terpenuhi.
Setiap Orang Memiliki Inner Child, Termasuk Ayah
Faktanya, menurut para psikolog, setiap orang memiliki inner child, tak terkecuali para ayah. Luka masa kecil yang belum terselesaikan dapat memengaruhi daddies dalam berelasi dengan pasangan hingga pengasuhan anak.
Luka masa kecil tak selalu berbentuk kekerasan di masa kecil atau terbentuk dari peristiwa besar yang traumatis. Terkadang, luka masa kecil hadir dalam bentuk yang lebih halus. Misalnya, ada kesedihan mendalam saat ditinggal wafat orang tua, tidak pernah didengarkan, sering dibandingkan, tumbuh di lingkungan yang penuh tekanan, perasaan yang sering diabaikan oleh orang tua yang terbungkus dalam toxic positivity.
- Misalnya, saat mengeluh sakit, orang tua merespons: “Ah nggak apa-apa itu, Nak, nanti juga sembuh, yuk, kamu pasti kuat.
- Ketika bilang nggak sanggup, nggak bisa, orang tua merespons: “Kamu pasti bisa, ayoo, latihan lagi. Jangan mau kalah!” dan seterusnya.
Ini kemudian diperparah dengan orang tua yang abai untuk mengajarkan anak laki-laki mengenali dan mengelola emosinya. Pesan “jangan nangis”, “harus kuat, nggak boleh lemah” pun melekat di benak ayah. Sehingga, anak tumbuh menjadi pria dewasa yang kerap mengesampingkan emosinya dan cenderung menjadi ”keras”. Tak sadar bahwa sebetulnya itu telah menorah luka di hatinya.
Baca juga: Acan: Setiap Hari Kita Punya Kesempatan dan Pilihan untuk Jadi Orangtua yang Lebih Baik
Luka Masa Kecil Bisa Memengaruhi Pengambilan Keputusan Saat Menjadi Suami atau Ayah
Sayangnya, luka masa kecil bisa menyusup di dalam kehidupan dewasa daddies di kala yang tak terduga.
Melansir situs Universitas Negeri Surabaya dalam artikel psikologi terkait inner child dan luka batin, penelitian menunjukkan bahwa pengalaman masa kecil memiliki pengaruh kuat terhadap regulasi emosi pada masa dewasa, terutama ketika individu pernah mengalami kritik, penolakan atau pengasuhan yang tidak responsif.
Wujudnya tak selalu dalam bentuk ledakan emosi, tetapi juga dapat berupa perilaku sehari-hari ke pasangan atau anak yang terkesan biasa saja, padahal itu perilaku tak sehat sebagai dampak dari luka masa kecil.
Misalnya, ketika di masa kecil daddies sering tidak mendapatkan dukungan emosional, atau perasaan daddies sering diabaikan, ketika menjadi orang tua, daddies jadi sulit mengekspresikan perasaan atau memberi dukungan atau apresiasi kepada anak-anak.

Foto: Image by freepik
Begitupun dengan pasangan. Ketika dulu sering tidak didengar, atau sering dibandingkan, bisa jadi berkomunikasi dengan pasangan menjadi mudah tersinggung, reaktif, tak bisa disanggah, atau malah silent treatment.
Contoh lainnya, ketika ditinggalkan orang tua saat masih kecil, berdampak pada perilaku takut kehilangan ketika dewasa; dan menjadi terlalu posesif. Ketika merasa tidak aman secara finansial di masa lalu, atau menanggung beban finansial saat masih remaja, ketika dewasa menjadi terlalu fokus kerja demi mengamankan finansial keluarga di masa kini.
Jadi, luka masa kecil itu nyata, dan perlu diatasi agar daddies bisa memutus rantai luka, menghentikan pola yang berulang dan jangan sampai diwariskan ke anak-anak. Apabila daddies memiliki inner child, daddies perlu memulai proses penyembuhan.
Penyembuhan dari Luka Masa Kecil Diawali dengan Kesadaran
Para psikolog sepakat, bahwa luka masa kecil bisa disembuhkan. Ini perlu dimulai dari menyadari terlebih dahulu bahwa ada luka batin yang belum sembuh. Carl Jung, seorang psikiater dan psikolog asal Swiss menyatakan bahwa, selama luka masa kecil tidak disadari, itu akan terus memengaruhi keputusan, dan dianggap sebagai kepribadian atau takdir.

Foto: Image by freepik
Ada baiknya, daddies melakukan konseling ke psikolog untuk membantu menggali inner child daddies, hingga membantu memetakannya dan dilakukan pendekatan yang membantu daddies pulih. Sekarang sudah banyak sekali psikolog yang bisa membantu inner child work atau terapi luka masa kecil.
Sementara itu, daddies juga bisa melakukan berbagai upaya mandiri yang membantu untuk pulih, seperti:
- Rutin melakukan refleksi diri, bisa melalui kegiatan menulis jurnal, menuliskan perasaan dan berbagai kejadian yang mampu memetakan perasaan dan mengenali pemicu inner child.
- Belajar meregulasi emosi dan memperkuat kesadaran diri (mindfulness) melalui meditasi, teknik grounding, dan lain-lain.
- Membangun komunikasi yang sehat dengan pasangan. Belajar bersikap asertif. Tahu kapan harus menunda berbicara ketika emosi sudah mengintip, tahu pula kapan sesuatu hal penting untuk didiskusikan, tidak didiamkan lalu berlalu begitu saja tanpa dikelola.
- Reparenting diri sendiri. Belajar menjadi orang tua atas diri sendiri untuk memenuhi apa yang dahulu tidak dipenuhi oleh orang tua semasa kecil.
Ketika daddies pulih dari luka masa kecil, sesungguhnya itu tak hanya akan membuat relasi dengan pasangan dan anak menjadi lebih sehat, namun daddies berkesempatan untuk bertumbuh menjadi pribadi dengan mental dan emosional yang lebih sehat. Yuk, bisa, yuk, sebab anak-anak kita butuh ayah yang sadar dan sehat untuk membersamai mereka.
Baca juga: 9 Pesan dari Ayah untuk Anak Laki-lakinya: Kelak Saat Mereka Menjadi Suami dan Ayah
Cover:Image by freepik
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS