Cara Berani Katakan "Tidak" agar Tidak Jadi People Pleaser

Self

RachelKaloh・in 4 hours

detail-thumb

Setiap kali diminta sesuatu, rasanya sulit untuk menolak? Yuk, pahami hal-hal berikut ini agar lebih berani bilang “tidak” dan nggak jadi people pleaser. 

Mommies, pasti sudah sangat sering dan bukan pertama kalinya mendengar istilah people pleaser, dong? People pleaser adalah perilaku seseorang yang cenderung menyenangkan dan memenuhi ekspektasi orang-orang di sekitarnya. Awalnya, mungkin hanya rasa “nggak enak nolak, soalnya yang minta tolong orang dekat”, tapi lama kelamaan, kebiasaan ini bisa berdampak buruk pada kualitas hidup seseorang. Apalagi bila saking tidak bisa menolak untuk melakukan sesuatu, orang tersebut sampai harus mengorbankan dirinya sendiri. Mungkin kita sudah paham arti dari people pleaser, tapi yang sering terjadi adalah, kita tidak sadar kalau kita salah satunya. Saya sendiri juga, jujurly, sampai sekarang masih suka susah nolak, ya, apalagi, kalau bukan karena nggak-enakan. Biar nggak keterusan, yuk, pahami beberapa hal berikut ini, karena memang yang bisa menghentikan perilaku ini menjadi sebuah kebiasaan, tak lain dan tak bukan adalah diri kita sendiri.

Karakteristik seorang people pleaser

Dari situs Siloam Hospitals, berikut ciri khas seseorang yang merupakan people pleaser:

  • Kesulitan untuk berkata “tidak”: Menyetujui permintaan meskipun merasa kewalahan atau tidak mau.
  • Berusaha sekuat tenaga untuk menghindari membuat orang lain marah atau menimbulkan ketegangan/konflik.
  • Terus-menerus meminta maaf bahkan atas hal-hal yang bukan kesalahan mereka.
  • Kepribadian bunglon: Rela mengubah kepribadian atau pendapat agar sesuai dengan lingkungan atau demi menyenangkan orang lain.
  • Selalu butuh validasi eksternal untuk merasa berharga.
  • Memprioritaskan kebutuhan orang lain sambil mengabaikan kebutuhan sendiri.

Perilaku people pleaser rentan terjadi pada ibu

Di buku When Things Don’t Go Your Way karya Haemin Sunim, ada sebuah pembahasan yang menarik tentang dua kepribadian dalam diri sendiri, pertama, “me of me”, yaitu keberadaan kita untuk menjadi seseorang sesuai dengan keinginan kita, yang kedua, “me of others”, yaitu keberadaan kita di antara orang lain, yang cenderung terbebani oleh harapan, keinginan, tuntutan, dan tanggung jawab orang-orang di sekitar kita. Bagi seorang ibu yang sadar penuh akan tanggung jawabnya, umumnya “me of others” jadi lebih mendominasi dalam membentuk karakter di kehidupannya. Akibatnya, seorang ibu cenderung menjadi people (family) pleaser, rela melakukan apapun yang penting bisa menyenangkan seluruh anggota keluarganya.  

Baca juga: 10 Mental Load Ibu Bekerja yang Jarang Terlihat Tapi Berbahaya

Agar lebih berani berkata “Tidak”, pahami beberapa hal berikut ini!

Beragam situasi yang kita temui sehari-hari, baik dalam lingkup sosial (antar pertemanan), maupun lingkup keluarga (orang terdekat), seringkali menuntut kita untuk selalu hadir, selalu siap, selalu bisa, padahal sah-sah saja, bahkan kita punya hak untuk menolaknya lewat cara yang sangat sederhana.

Sosial

  • Tidak ada salahnya bilang “tidak”, tanpa perlu diikuti kata “maaf”

Saat diajak untuk pergi atau nongkrong bareng circle terdekat, tapi sebetulnya hari itu lagi nggak mood untuk bertemu orang lain. Ketika dalam hati kita sendiri bertanya, “Duh, harus banget, ya?” Maka, jawablah “tidak”, tanpa banyak alasan di belakangnya, “Nggak ikutan dulu hari ini ya, “ atau “Sekip dulu, nih, next time, ya!” Tidak perlu menyematkan kata-kata “maaf” karena memang tidak ada yang salah dengan bilang “enggak dulu”. 

  • Kembali ke prioritas, sepenting apakah meng-iya-kan suatu hal?

Ikutan mabar padel, arisan, bahkan playdate memang menyenangkan. Tapi, ada kalanya kita punya prioritas lain, meski rasanya nggak enak banget buat menolak ajakan teman yang sudah cukup dekat. Kalau di jaman sekolah dulu, wajar bila peer pressure sering bikin kita merasa, kalau nggak ikut, nanti dibilang nggak asik. Tapi di jaman sekarang, sebagai sesama orang dewasa yang sudah berkeluarga dan punya prioritas masing-masing, seharusnya tidak ada masalah saat menolak.  

  • “Tidak” adalah bentuk boundaries dan cara menyayangi diri sendiri

Mungkin kita sebetulnya tidak ada halangan, bisa-bisa saja membantu kenalan kita yang hobinya pinjam uang (meski saat ditagih, seringnya dia yang lebih galak), tapi kita berhak memilih untuk tidak bantu. Sesederhana kalimat, “Wah, gue ngerti, sih, keadaan lo, tapi gue nggak bisa bantu, nih.” Bila kenalan kita kebetulan orangnya baik, tapi kita tetap nggak bisa membantunya saat itu, kalimatnya bisa lebih halus, seperti, “Gue pingin banget bantu, tapi gimana, ya, gue lagi ada keperluan lain. Gue bantu (lewat cara lain) aja, ya!” Sejatinya, kalau teman dekat, pasti akan mengerti.

  • The Fear of Missing Out to The Joy of Missing Out, alias kesendirian itu harus bisa dinikmati

Bilang “nggak” untuk alasan apapun adalah hak setiap orang. Apalagi kalau kita sendiri menilai bahwa ajakan tersebut tidak sebanding dengan kegiatan lain yang sedang ingin kita lakukan. Absen dengerin curhatan teman karena memang lagi nggak ada energi, dan memilih Netflix-an di rumah aja? Nggak apa-apa! Kita bisa atur waktu di lain kesempatan, bila kita sendiri merasa sudah siap mendengarkan. Mengutamakan “me-time”, alias berkegiatan sendirian dan menikmatinya adalah hak semua orang

Keluarga

  • Ingat teori menyelamatkan diri terlebih dulu saat dalam keadaan darurat di pesawat. 

Mengapa kita perlu pasang masker oksigen duluan sebelum kita memasangkannya pada orang lain? Jawabannya sesederhana kalau kita tidak selamat, maka kita tidak bisa menyelamatkan orang lain. Hal ini juga berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Saat seorang ibu lebih memprioritaskan kesehatan dan kesejahteraan suami dan anak, kemudian mengabaikan kesehatan dan kesejahteraan dirinya sendiri, maka kesejahteraan keluarganya akan sulit dicapai. Percayalah, ibu yang bahagia adalah kunci keluarga yang sehat. No debat!

  • Menolak permintaan anak adalah cara kita mengajarkan anak untuk menjadi pribadi yang tegas, tangguh, dan mandiri 

Kita seringkali tidak sadar, bawaannya nggak mau menolak permintaan anak karena nggak tega, padahal dengan kita menolak saat anak merengek minta dibelikan mainan, sebetulnya kita juga sedang mengajarkan anak untuk punya kemampuan bersikap tegas. Sekali bilang tidak, ya, tidak. Kalau masih tidak terima, artinya tidak menghormati pilihan orang lain. Perilaku ini bila dibiarkan bisa mengarah ke pemaksaan bahkan ancaman. Maka penting untuk memberikan alasan kuat dan membicarakannya sampai anak benar-benar paham, tanpa kita harus berubah pikiran, demi menyenangkannya. Dengan anak paham arti kata “tidak” yang keluarga dari mulut orang tuanya, anak pun akan paham bahwa ia pun bisa menolak bahkan bertindak tegas, ketika orang lain meminta sesuatu di luar persetujuannya. Lewat kesepakatan akan kapan waktunya ia mendapatkan mainan tersebut, anak pun belajar untuk sabar.

  • Selain suami dan anak, anggota keluarga lain bukan lagi tanggung jawab utamamu.

Ini berlaku saat diminta tolong oleh anggota keluarga di luar keluarga inti, yakni saudara, ipar, orang tua maupun mertua, kita seringkali merasa tidak bisa menolak. Padahal, ya, bantuan tersebut memang di luar kemampuan kita. Apalagi kalau sudah menyangkut masalah finansial. Yang pasti, semua keputusan harus dibuat lewat kesepakatan antara kita dan pasangan. Tentukan cara membantu yang paling memungkinkan untuk dilakukan. Selebihnya, kita berhak menolak, karena anggota keluarga lain selain pasangan dan anak, sudah bukan lagi menjadi tanggung jawab utama kita.

Baca juga: Mau Hubungan Sehat antara Menantu dan Mertua? Terapkan 10 Hal Ini!

Image by Freepik