banner-detik
PARENTING & KIDS

Dari yang Serba Tradisi ke Serba Teknologi! Ini Perbedaan Cara Mengasuh Bayi dari Baby Boomers Hingga Gen Z

author

RachelKalohin 5 hours

Dari yang Serba Tradisi ke Serba Teknologi! Ini Perbedaan Cara  Mengasuh Bayi dari Baby Boomers Hingga Gen Z

Apa saja, sih, perbedaan cara mengasuh bayi, dari generasi baby boomers sampai GenZ? Mana, ya, yang kira-kira terus diterapkan hingga saat ini?

Beda generasi, beda pola pikir. Dibandingkan kehidupan di jaman dulu, sekarang kita sudah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hal ini berpengaruh terhadap cara kita mengasuh bayi (anak). Kalau dulu, saat panik karena anak nangis, yang bisa dilakukan hanya bertanya ke orang terdekat di keluarga, siapa lagi, kalau bukan orang tua sendiri? Jaman dulu mana ada layanan kesehatan 24 jam via chat? Bikin janji dengan dokter saja mungkin serba terbatas. Sekarang? Kapanpun bisa colek Dokter Anak kesayangan, kalaupun sulit, browsing soal parenting di Mommiesdaily juga gak bakal lama ketemu jawaban yang dicari. Bertanya soal anak ke orang tua menjadi pilihan terakhir, bahkan mungkin nggak lagi masuk di list. Sebetulnya, sih, sah-sah saja, kok, untuk tetap menganggap orang tua sebagai pihak yang bisa diandalkan soal pengasuhan, karena memang mereka sudah mengalaminya terlebih dahulu. Secara genetik, mungkin yang kita jumpai sekarang mirip dengan apa yang ibu kita alami saat kita masih bayi. Hanya saja, kalau bicara soal parenting antar generasi, tantangan terbesarnya ada di ego, bagaimana supaya perbedaan cara asuh ini tidak terus-menerus menjadi bahan cek cok karena adanya perbedaan. Coba, deh, kita cari tahu kebiasaan mengasuh bayi dari generasi baby boomers sampai gen Z. Apa saja, sih, perbedaannya? 

Cara Mengasuh Bayi antar generasi

Baby Boomers: Terstruktur, lekat dengan tradisi

  • Mereka yang lahir di 1946–1964, hidupnya masih serba terbatas, maka segala hal dijalankan sesuai jadwal. Contohnya: Jam 6 pagi, anak sudah harus bangun, jam 8 sudah harus sarapan. Jam 12 teng, anak sudah harus dikasih makan. Jam 4 sore, anak sudah harus mandi. Di atas jam 6, anak sudah tidak boleh ada di luar rumah. 
  • Lekatnya tradisi kemudian membentuk tolok ukur atau standar yang berlaku di umum, misalnya anak usia sekian sudah harus bisa menguasai keterampilan tertentu.
  • Tidak ada alasan pasti, kenapa begini, kenapa begitu. Semuanya mitos, alias berdasarkan ‘yang dipercaya’ saja, atau ‘katanya demikian’, bukan berdasarkan fakta. Dari yang masih bisa diterima, sampai yang tidak masuk akal, seperti: menempel capung di pusar bikin anak berhenti ngompol, kopi bikin anak nggak kejang, sering digendong bikin anak jadi “bau tangan”, dan masih banyak lagi.
  • Saking terpatok tradisi, sulit menyesuaikan sana-sini. Akibatnya, cenderung mengkotak-kotakan banyak hal. Anak laki-laki nggak boleh dikasih warna kuning, anak perempuan nggak boleh pakai baju warna maskulin. Anak laki-laki nggak boleh nangis, dan sebagainya.
  • Saking kakunya, caraku, ya, caraku, itulah yang paling benar. Mendidik dengan tertutup, dan besifat satu arah (otoriter). Buat mereka, anak adalah pribadi yang harus dibentuk. Didikan orang tualah yang menjadi penentu anak berhasil di kemudian hari. 

Gen X: Mandiri, adaptif, masih menghormati tradisi 

  • Orangtua kelahiran 1965–1980, bisa dibilang sebagai generasi yang mentalnya sekuat baja, karena didikan Baby Boomers yang menjunjung tinggi disiplin, otoriter, bahkan kerap dikenal dengan ‘didikan VOC’, saking kerasnya. 
  • Mengalami pergantian era yang membuat generasi ini lebih mandiri dan tangguh, seringkali dianggap sebagai “produk unggulan”.
  • Sudah jauh lebih evolved, baik dalam hal tradisi dan pandangan. Banyak juga ibu yang mengutamakan karir dan pendidikan. 
  • Tetap menghormati dan meneruskan tradisi ketika menjadi orang tua, namun seiring perkembangan jaman, sudah lebih adaptif dalam hal pengasuhan anak, mengingat anak-anak mereka sekarang juga sudah dewasa, bahkan ada juga yang sudah menjadi orang tua. 
  • Dalam hal pengasuhan bayi, mereka cukup mahir dalam mengkombinasikan cara lama dengan cara baru. Mungkin, tidak se-satset ibu-ibu generasi di bawahnya, tetapi mereka sudah cukup melek dalam menggunakan peralatan bayi yang semakin canggih. 

Millennials: Mindful, dua arah, dan research-based

  • Mamah-mamah kelahiran 1981–1996, mana suaranya? Apakah kalian merasa sebagai generasi paling ideal? Hahaha, wajar, kok! Ibaratnya, sebagian masa kecil kaum ini dilalui bersama generasi X, jadi kalau soal kuat-kuatan mental, ya, bisa dibilang mendekati lah, ya. 
  • Karena baru terpapar teknologi di usia sekolah menengah, maka ketika menggunakannya, milennial cenderung lebih aware, nggak 100% bersandar pada Google, tapi bisa lebih bijak memastikan kebenarannya lewat jawaban ahli.
  • Lebih bersahabat dengan dokter dan psikolog, tidak menganggap bahwa konsultasi ke ahli itu artinya ada masalah pada anak. Sebaliknya, menjadikannya arahan dalam mengasuh anak. 
  • Tidak lagi memiliki pemahaman bahwa anak itu adalah cermin dari orang tua, melainkan orang tua punya andil dalam membentuk anak, sehingga cenderung lebih berhati-hati dalam menghadapi anak. 
  • Ajaran tentang regulasi dan pemahaman emosi sangat dijunjung tinggi. Bahkan mereka sangat mementingkan yang namanya re-parenting inner child (selesai dulu dengan diri sendiri, supaya bisa lebih siap menjadi orang tua dan nantinya diri sendiri bisa menerapkan parenting yang lebih gentle).
  • Bonding dengan anak sangat penting, tidak perlu memberlakukan tolok ukur yang sama pada semua anak, lebih terbuka dalam mendukung anak menentukan kegiatan berdasarkan minat anak. 

Gen Z: Kamus Digital, self-love dan hidup yang seimbang

  • Kelahiran tahun 1997–2012, yang sudah mulai jadi orang tua, mungkin Mommies termasuk di antaranya? Tentu generasi ini sudah lebih melek teknologi dibanding generasi sebelumnya, karena sudah terbiasa menghadapi dunia virtual bahkan ketika masih di bangku SD.
  • Tidak mudah dibohongi dengan berbagai macam berita. Selama tidak berbasis penelitian oleh ahli, mereka tidak akan menelan berbagai bentuk edukasi secara mentah-mentah. 
  • Self-love dan work-life balanced adalah fondasi kewarasan alias hal paling penting untuk dimiliki saat menjadi orang tua, semua ini demi kesejahteraan seluruh anggota keluarga. Dengan didukungnya seorang ibu mendapatkan kenyamanan, membuat generasi ini lebih terdorong untuk memaksimalkan diri saat menjalani peran sebagai orang tua.
  • Core memory itu penting dimiliki anak, bahkan sejak dini. Maka, generasi ini tidak akan ragu mengajak bayi liburan, meski hanya staycation, sampai jalan-jalan ke luar negeri selagi bisa. Bahkan, membawa bayi nonton konser selama bisa dipastikan lingkungannya aman. Nggak ada, tuh, anggapan, “Masih bayi, mah, belum ngerti apa-apa!”
  • Saking tech-savvy-nya, semua peralatan modern pendukung ibu menyusui nggak akan disia-siakan. Teknologi adalah support system dalam mengoptimalkan pengasuhan mereka. 
  • Bukan cuma momen MPASi saja yang perlu diabadikan, tapi kalau bayinya sudah bisa diajak joged-joged, jangan sampai nggak diposting. Bukan buat pamer, kok, tapi lebih sebagai memori yang ingin disimpan (again), dalam bentuk digital.

Lumayan besar, ya, ternyata, perbedaan pola asuh antar generasi ini. Namun, meski berbeda, yang perlu kita sama-sama pahami adalah setiap generasi memiliki tujuan utama yang tidak pernah dan tidak akan berubah, yakni menciptakan generasi berikutnya dengan kualitas yang jauh lebih baik. Saat kita sendiri menjadi orang tua, kita pun mulai paham bahwa cara yang dilakukan orang tua kita dulu mungkin banyak kelirunya, tapi kitalah hasilnya. Kemampuan kita untuk beradaptasi dan berkembang juga adalah hasil dari apa yang orang tua kita tanamkan pada kita di masa kecil. Maka, bagaimanapun cara kita mengasuh anak, pastikan tujuan mulianya tetap sama, yakni mendukung kelanjutan generasi yang berisi manusia-manusia yang baik di masa depan.

Baca juga: Perlukah Kelas Aktivitas Bayi 0–2 Tahun? Ini Manfaat, Jenis, dan Kisaran Biayanya

Image by: Freepik

Share Article

author

RachelKaloh

Ibu 2 anak yang hari-harinya disibukkan dengan menulis artikel dan content di media digital dan selalu rindu menjalani hobinya, menjahit.

banner-detik

POPULAR ARTICLE

banner-detik
banner-detik

COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan