banner-detik
PARENTING & KIDS

"Surat Cinta untuk Mamah", Surat Kecil yang Mengubah Caraku Jadi Ibu

author

Dhevita Wulandariin 6 hours

"Surat Cinta untuk Mamah", Surat Kecil yang Mengubah Caraku Jadi Ibu

Sebuah cerita nyata tentang ibu bekerja yang tersadar ketika anaknya memberikan “Surat Cinta untuk Mamah”. Membacanya membuat hati terketuk untuk berubah. 

Sabtu yang Tidak Setenang Rencana

Hari Sabtu itu seharusnya menjadi hari yang tenang. Tidak pergi ke kantor, tidak ada cek fisik, tidak ada wawancara, dan bisa menghabiskan waktu santai bersama Aa’ dan adik Kia. Namun kenyataan berkata lain. Ada laporan audit yang harus selesai sebelum Senin, dan sejak pagi aku sudah duduk di depan laptop, mencoba menyelesaikan halaman yang terus terasa kurang.

Aa’ beberapa kali mendekat. Ia membawa kartu Uno, berharap aku melirik. Adik Kia mengikuti, memeluk buku cerita kesukaannya. “Mah, main sebentar, yuk?” tanya Aa’ dengan suara riangnya. Sekali aku jawab. “Tunggu, ya.”

Namun suara rengekan yang terus-menerus itu mulai mengusikku sampai akhirnya dengan nada tinggi kujawab, “NANTI, YA! Mamah belum selesai! Main sama Ayah dulu dong, kan, bisa!” Mereka terdiam. Adik Kia menunduk, lalu berjalan kembali ke tempat mainnya.

BACA JUGA: 16 Realita Jadi Ibu Baru yang Jarang Dibahas (Ekspektasi vs Realita)

Kalimat yang Pelan, Tapi Menembus

Beberapa saat kemudian, aku mendengar suaranya yang pelan, “Mamah sekarang sering marah-marah, ya, A?” Aa’ menimpali, “Iya, betul, Dek.”

Kalimat itu sederhana, tapi justru karena pelan, rasanya menembus lebih dalam. Tanganku sempat berhenti di atas keyboard. Ada dorongan untuk menutup laptop, tapi laporan itu masih panjang, dan aku tetap memaksa diriku untuk mengetik meskipun hatiku terasa tidak enak.

"Surat Cinta untuk Mamah", Surat Kecil yang Mengubah Caraku Jadi Ibu

Foto: Kamaji Ogino/Pexels

Amplop Tidak Simetris dari Aa’ dan Adik Kia

Menjelang malam, Aa’ dan adik Kia datang sambil membawa lipatan kertas yang dibentuk seolah menjadi amplop — tidak simetris satu sama lain — yang bertuliskan “Surat untuk Mamah”. Aku tahu persis tulisan tangan siapa itu. Kata yang disusun dengan huruf kapital semua, tulisan khas Aa’.

Dengan nada riang mereka berkata, “Ini surat cinta untuk Mamah.” Di dalamnya ada gambar hati berwarna merah muda, dengan goresan yang tidak rapi. Aku menatap gambar itu lama. Ada sesuatu yang terasa hangat sekaligus menyesakkan.

Aku terdiam dan menyadari, Aa’ dan adik Kia tidak menagih waktu panjang. Mereka hanya ingin aku tidak membentak. Ingin aku menoleh ketika mereka memanggil. Ingin aku hadir, meskipun sebentar.

Akhirnya aku menutup laptop malam itu. Kami bermain sebentar, membaca buku yang dibawa adik Kia, dan mendengarkan celetuk-celetuk riang mereka. Tidak lama, tapi cukup membuat kami terhubung kembali.

Perubahan Kecil yang Bisa Dimulai Hari Ini

Sejak malam itu, aku mencoba membuat perubahan kecil. Bukan perubahan besar, bukan janji setinggi langit — hanya hal-hal yang bisa kulakukan saat itu juga: menurunkan nada suara, menoleh ketika dipanggil, dan menutup laptop meski pikiranku bergulat dengan laporan. Aku tidak selalu berhasil. Ada hari ketika aku kembali hilang arah entah karena pekerjaan atau hal lainnya, kemudian otomatis suara meninggi muncul sebelum sempat kupikirkan.

Tapi setiap kali itu terjadi, aku teringat lagi pada amplop kecil buatan Aa’ dan adik Kia. Bentuknya tidak simetris, warnanya keluar dari garis, tapi justru itu yang membuatnya terasa nyata. Mereka tidak sedang menuntut mama yang sempurna — mereka hanya ingin mama yang tidak hilang terlalu lama.

Mencintai Lebih Baik, Bukan Sempurna

Aku masih belajar. Masih banyak hari ketika aku goyah, masih ada momen ketika aku harus mengulang dari awal lagi. Tapi yang terus aku yakini sekarang adalah: mencintai dengan lebih baik bukan soal tidak pernah gagal. Tapi soal berusaha hadir sedikit lebih utuh daripada kemarin dan memberi ruang bagi diriku sendiri untuk tumbuh.

Dan mungkin, untuk saat ini, itu sudah cukup.

BACA JUGA: Hentikan Sekarang! 15 Kalimat yang Diam-diam Merusak Kesehatan Mental Anak

Cover: Ketut Subiyanto/Pexels

Share Article

author

Dhevita Wulandari

-

banner-detik

POPULAR ARTICLE

banner-detik
banner-detik

COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan