Sorry, we couldn't find any article matching ''

10 Red Flag Ayah Baru: Ciri-ciri Suami Tidak Siap Jadi Ayah dan Cara Mengatasinya
Suami berubah setelah punya anak? Kondisi ini ternyata cukup umum terjadi dan sering jadi tanda red flag ayah baru yang tidak disadari.
Saya baru saja catch up lewat telepon dengan sahabat lama. Dari obrolan ini saya dapet cerita tentang keponakannya yang bernama Elsa. Elsa ini seorang Beauty Editor yang sibuknya luar biasa. Dia menikah dengan Mathias, seorang arsitek yang sedang naik daun karena proyek-proyeknya lagi berkembang pesat.
Waktu Elsa hamil, bayangan mereka itu indah banget. Mereka berpikir kehadiran bayi akan bikin mereka makin lengket. Dua minggu pertama setelah melahirkan, Mathias memang kelihatan happy dan suportif banget. Tapi memasuki minggu ketiga, semuanya berubah 180 derajat.
Mathias mulai sering mengurung diri di ruang kerja dengan alasan “banyak deadline”. Alih-alih ikut membantu mengurus bayi mereka, Mathias malah kerap marah dan merasa paling capek. Puncaknya, karena merasa terganggu oleh suara tangisan bayi, Mathias memutuskan untuk tidur di ruang kerjanya. Elsa? Dia dibiarkan kelimpungan mengurus bayi sendirian di kamar. Hubungan mereka jadi dingin dan renggang, dan Elsa mulai merasa kesehatan mentalnya terancam.
Ternyata, apa yang dialami Mathias itu ada penjelasannya secara psikologis. Bukan cuma ibu, ayah baru juga bisa mengalami stres berat, bahkan depresi. Yuk, kita bahas supaya Mommies dan Daddies bisa mengenali mana yang sekadar stres transisi dan mana yang sudah jadi red flag.
BACA JUGA: Peran Suami setelah Istri Melahirkan, Apa yang Harus Dilakukan? Ini Panduannya
Apa Itu Paternal Anxiety?
Tahukah Daddies kalau sekitar 1 dari 10 ayah baru mengalami depresi dan kecemasan pascapersalinan? Pakar menyebutnya Paternal Perinatal Mood and Anxiety Disorders (PPMAD).
Studi memperkirakan 10 hingga 18 persen ayah baru mengalami kecemasan yang signifikan. Masalahnya, laki-laki sering kali tidak melaporkan perasaan ini. Mereka lebih suka mengekspresikan stres lewat perilaku, seperti jadi gampang marah, kerja berlebihan (overworking), atau malah menarik diri secara sosial. Inilah yang sering kita anggap sebagai red flag karena kesannya suami jadi egois dengan waktu pribadinya atau enggan terlibat merawat bayi.

Foto: Sanket Mishra/Pexels
10 Ciri Red Flag dan Stres pada Ayah Baru
Berdasarkan riset kesehatan mental, berikut ini adalah ciri-ciri red flag ayah baru yang sering muncul namun kerap dianggap normal.
1. Kecemasan dan merasa hilang kendali
Ayah baru sering merasa tertekan dengan tanggung jawab finansial atau rasa takut tidak bisa menjadi ayah yang baik.
2. Gampang marah dan iritabel
Hal-hal sepele yang dulu nggak masalah, tiba-tiba jadi pemicu amarah besar. Ini sering jadi pelampiasan rasa frustrasinya.
3. Perubahan suasana hati yang drastis
Kadang merasa sedih, hampa, atau merasa “kosong” di tengah kebahagiaan punya bayi.
4. Membenci diri sendiri
Muncul perasaan bahwa dia bukan orang tua yang kompeten, yang akhirnya malah bikin dia makin menjauh.
5. Enggan terlibat mengurus anak
Ini ciri-ciri red flag yang paling terasa. Suami seolah tidak tertarik dengan bayinya dan menganggap urusan bayi hanya tugas istri.
6. Menarik diri dari kehidupan sosial
Ayah baru lebih memilih mengurung diri atau tidur terpisah untuk menghindari interaksi.
7. Depresi Pascapersalinan Ayah (PPND)
Rasa cemas yang bercampur dengan hilangnya kontrol diri secara total.
8. Gejala fisik tanpa sebab
Sering mengeluh sakit kepala, sakit perut, atau pegal-pegal yang nggak sembuh-sembuh meskipun sudah minum obat.
9. Enggan membicarakan perasaan
Ini yang berbahaya. Mereka memendam stresnya sendiri, tapi perilakunya malah jadi tidak suportif secara emosional kepada istri.
10. Cemas berlebihan
Jika suami mulai menunjukkan tanda-tanda kecemasan yang berlebihan (lebih dari 1 jam sehari), mulai menghindari bayi sepenuhnya, atau konflik di rumah sudah sangat intens dan mengarah pada gaslighting, segeralah cari bantuan profesional.

Foto: Danik Prihodko/Pexels
Kenapa Hal Ini Bisa Terjadi?
Ada beberapa faktor yang membuat seorang ayah baru mengalami guncangan mental:
1. Krisis identitas (patrescence)
Sama seperti ibu (matrescence), ayah juga mengalami transisi identitas yang besar. Menjadi ayah adalah perubahan peran yang sangat mendalam, dan proses adaptasinya tidak selalu berjalan mulus.
2. Tekanan finansial
Tanggung jawab untuk menghidupi keluarga sering kali meningkat secara drastis setelah punya anak. Rasa khawatir yang berlebihan soal “apakah aku bisa mencukupi kebutuhan mereka?” bisa bikin pikirannya mumet.
3. Perubahan dinamika hubungan
Pergeseran dalam hubungan suami-istri, mulai dari berkurangnya keintiman hingga perbedaan prioritas, adalah sumber stres yang nyata bagi banyak ayah baru.
4. Kurang tidur
Kurang tidur secara signifikan mengganggu kemampuan otak dalam mengatur emosi dan pikiran kognitif. Inilah yang akhirnya memperparah rasa cemas dan membuat seseorang jadi gampang marah.
5. Perasaan tidak berdaya
Banyak ayah merasa bingung dan tidak tahu harus membantu apa, terutama di minggu-minggu awal. Saat ibu fokus menyusui dan punya ikatan batin yang lebih kuat dengan bayi, ayah sering merasa tersisih dan tidak berguna.
6. Kondisi mental pasangan
Jika istri sedang berjuang melawan depresi atau kecemasan pascapersalinan, ayah sering kali ikut merasakan kecemasan yang sama. Ini adalah respons terhadap penderitaan pasangan sekaligus beban tanggung jawab rumah tangga yang jadi menumpuk di pundaknya.
BACA JUGA: 10 Hal yang Harus Disiapkan sebelum Menjadi Ayah, Plus Persiapan Penting yang Sering Terlewat
Cara Mengatasi “Red Flag” pada Ayah Baru
Usahakan tidak tenggelam dalam drama dan sadari bahwa kondisi Daddies sedang tidak baik-baik saja secara mental. Ini beberapa langkah yang bisa jalankan:
1. Delegasi dan me-time bareng
Sesekali, Mommies bisa menitipkan bayi (dan baby sitter) di rumah orang tua. Tujuannya satu: supaya Mommies dan Daddies bisa punya quality time berdua tanpa suara tangisan bayi. Ini penting untuk mengembalikan alur komunikasi yang sempat tersendat.
2. Ambil cuti kerja (jika memungkinkan)
Jika Daddies punya jatah cuti, coba deh diambil. Ini penting banget buat bonding dengan bayi sekaligus mengurangi tekanan di kantor. Cuti ini juga efektif mengurangi rasa terisolasi yang sering dirasakan istri.
3. Terima dan nikmati peran baru
Menjadi ayah itu memang penuh tantangan, apalagi kalau harus mengambil tanggung jawab lebih atau bahkan jadi stay-at-home dad. Menyadari bahwa “nggak apa-apa kalau merasa bingung” bisa membantu suami lebih relaks.
4. Mencari bantuan profesional
Elsa dan Mathias nggak gengsi untuk minta saran ke konselor pernikahan. Di sana, Mathias akhirnya bisa belajar mengomunikasikan rasa lelahnya tanpa harus menghindari atau bersikap manipulatif.
5. Berbagi jadwal tidur
Salah satu pemicu Mathias tidur di ruang kerja adalah karena dia merasa terganggu saat harus bekerja esok harinya. Dengan bantuan baby sitter dan jadwal bergantian, Mathias mulai mau kembali ke kamar dan terlibat meski hanya sedikit di awal.
6. Tetap jaga hubungan romantis
Walau capek, usahakan ada waktu 15 menit sehari untuk sekadar ngobrol berdua tanpa membahas urusan pampers dan susu bayi.

Foto: Alex Green/Pexels
Tips untuk Istri Menghadapi Suami yang Sedang Stres
Kalau Mommies merasa suami menunjukkan tanda-tanda di atas, coba langkah-langkah ini:
Mengakui bahwa kita butuh bantuan
Jangan bersikeras harus jadi supermom. Melihat pasangan stres berat, Mommies bisa mencari bantuan. Elsa memutuskan memakai jasa baby sitter. Tapi dia tetap aktif mengawasi. Jika kondisi memungkinkan, Mommies bisa meniru cara ini.
Diskusi terbuka
Cari momen tenang (bukan saat bayi sedang menangis) untuk bicara. Gunakan kalimat “Aku merasa…” daripada “Kamu selalu…”.
Ajak terlibat dari hal kecil
Berikan tugas yang konkret dan mudah, misalnya memandikan bayi atau menggendong setelah menyusui.
Berikan apresiasi
Laki-laki butuh validasi bahwa mereka melakukan pekerjaan yang baik sebagai ayah baru.
BACA JUGA: 7 Alasan Peran Ayah Penting sejak Anak Masih di Dalam Kandungan, Para Ayah Harus Terapkan!
Cover: Mikhail Nilov/Pexels
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS