Kembali Bekerja Setelah Melahirkan: Antara Rindu Anak dan Butuh Ruang Sendiri

#MommiesWorkingIt

Ficky Yusrini・in 5 hours

detail-thumb

Kembali bekerja setelah melahirkan terasa campur aduk: rindu anak, lega, dan rasa bersalah. Refleksi jujur orang tua baru menghadapi dua dunia.

Kembali bekerja sebagai orang tua baru setelah masa cuti melahirkan bukan sekadar perubahan rutinitas, melainkan sebuah proses penyesuaian emosional. Saya tidak hanya berpindah dari rumah ke kantor, tetapi juga belajar menavigasi dua peran yang sama-sama penting—sebagai ibu dan sebagai individu.

Masih ingat banget masa-masa setelah cuti melahirkan usai. Ada roller coaster emosi yang kompleks. Bukan hanya sedih karena harus kembali bekerja, tapi juga ada excitement karena akhirnya lepas dari peran 24/7 sebagai ibu baru yang nyaris tanpa jeda.

Lelah dengan rutinitas yang berulang—bangun tengah malam, menyusui, menggendong, menidurkan, lalu memulai siklus yang sama lagi. Kangen duduk di depan laptop dengan kopi yang masih panas dan camilan. Rindu tertawa bersama teman-teman kantor. Rindu merasa produktif, rindu merasakan kembali pencapaian dari pekerjaan.

Dan ketika akhirnya hari itu datang—hari pertama kembali ke kantor—saya merasakan sesuatu yang tidak saya duga: lega.

Benar-benar lega.

Bisa pakai baju bagus, wangi, naik TransJakarta, duduk bersama teman-teman sambil catch up kabar kehidupan kantor. Untuk beberapa saat, saya kembali menjadi “saya yang dulu”—bukan hanya seseorang yang seluruh keberadaannya dibutuhkan oleh makhluk kecil yang belum bisa bicara.

Tapi kemudian, bahkan ketika hari masih pagi, rasa itu datang.

Rindu anak.

Kangen tatapan matanya yang mencari-cari ibunya. Kangen jadi “pabrik susu”-nya. Rindu wajahnya yang begitu tenang saat tidur. Rindu ditemplokin. Mendadak ingin kembali jadi sosok perempuan berdaster yang dibutuhkan oleh si makhluk kecil.

Foto: Freepik

Inilah dilema orang tua baru: bisa merasa lega dan bersalah di waktu yang bersamaan.

Rasa bersalah itu bentuknya aneh. Seperti bayangan—hadir di setiap momen ketika saya merasa bahagia dengan peran yang lain.

Bersalah karena lega bisa meninggalkan bayi.
Bersalah karena diam-diam menikmati jam makan siang yang tenang tanpa tangisannya.
Bersalah karena saat rapat, benar-benar lupa memikirkan dia selama hampir dua jam penuh.
Bersalah karena keasyikan bekerja sampai lupa membalas pesan dari pengasuh di rumah.

Ada yang menyebut periode ini sebagai proses berduka. Awalnya saya menolak kata itu—berduka untuk apa? Anak saya baik-baik saja. Saya juga baik-baik saja.

Tapi kemudian saya memahami, duka di sini adalah tentang versi kehidupan yang harus saya lepaskan.

Waktu yang tidak akan pernah kembali persis sama. Momen-momen kecil di siang hari yang sekarang terjadi tanpa saya. Senyum pertama yang mungkin saya lewatkan. Langkah pertama yang mungkin dilihat orang lain sebelum saya.

Dan di sisi lain, saya juga berduka untuk versi diri saya sebelum menjadi orang tua—yang bebas bergerak, yang bisa fokus penuh pada pekerjaan, yang tidak perlu memikirkan apakah ASI di kulkas cukup untuk besok.

Foto: Freepik

Yang paling menguras adalah ini: saat di kantor, pikiran saya di rumah. Saat di rumah, pikiran saya ada di pekerjaan yang tertunda.

Perasaan yang selalu setengah-setengah di mana pun saya berada.

Itulah fase sibuk bekerja tapi tetap rindu anak, sekaligus fase ketika saya mulai menyadari kebutuhan lain: butuh ruang sendiri.

Yang saya sesali dari momen itu adalah waktu yang saya habiskan untuk mencari validasi atas pilihan saya—dari media sosial, dari orang-orang di sekitar, dari standar yang bahkan tidak pernah saya pilih sendiri.

Saya membandingkan diri dengan orang lain. Padahal, jawabannya berbeda untuk setiap orang.

Seorang teman saya—yang akhirnya memilih resign dan menjadi ibu penuh waktu di rumah—pernah bercerita. Saat menunggu anaknya pulang sekolah, ia bertemu seorang nenek yang menjemput cucunya.

Nenek itu memandang rendah keputusannya untuk resign, lalu membanggakan anaknya yang tetap bekerja.

Di titik itu saya sadar, tidak ada pilihan yang benar-benar bebas dari penilaian.

Pada akhirnya, saya mulai memahami bahwa perjalanan ini bukan tentang memilih antara menjadi ibu yang sepenuhnya hadir di rumah atau individu yang berkembang dalam karier.

Keduanya bukanlah hal yang saling bertentangan, melainkan bagian dari satu proses yang saling melengkapi.

Perlahan, saya belajar menemukan ritme saya sendiri.

Ritme yang tidak sempurna, tidak ideal, penuh jungkir balik—tapi justru itu yang saya butuhkan untuk menjadi ibu sekaligus individu yang tangguh.

Bagi saya, ini adalah tentang menemukan makna dan arah sebagai individu, yang suatu hari nanti bisa saya ceritakan kepada anak, saat dia dewasa nanti.

BACA JUGA: Hari Pertama Kembali Kerja Setelah Cuti Melahirkan: Realita yang Tidak Pernah Diceritakan

Menjadi orang tua baru yang kembali bekerja memang tidak pernah sederhana. Akan selalu ada tarik-menarik antara rindu anak dan keinginan untuk tetap menjadi diri sendiri.

Dan mungkin, jawabannya bukan memilih salah satu.

Tapi belajar berdamai dengan keduanya.

Cover: Freepik