Mental Load setelah Punya Anak, Ini Dampak pada Hubungan Pernikahan

Sex & Relationshipdetail-thumb

Kenali mental load setelah punya anak, penyebab konflik suami istri, serta dampaknya ke hubungan dan cara mengatasinya dengan tepat. 

Dulu, saya sempat deep talk sama seorang ibu muda di ruang tunggu dokter. Dia baru dua bulan jadi ibu dan bercerita sering banget merasa sumpek, gampang marah ke suaminya, dan merasa lelah yang luar biasa. Padahal, suaminya termasuk tipe yang mau bantu-bantu di rumah.

Kurang lebih dia bilang begini, “Rasanya kepala saya mau pecah karena harus ingat jadwal vaksin bayi kami, stok susu, sampai kado ulang tahun mertua. Suami saya memang bantu nyuci piring, tapi saya yang harus kasih tahu dia kalau sabun cuci piringnya habis!”

Saat itu, tentu saja saya cuma bisa jadi pendengar karena sama sekali nggak paham persis apa yang dialaminya. Sekarang, saya baru tahu bahwa apa yang dialami ibu muda itu punya nama ilmiah: mental load.

BACA JUGA: 8 Financial Shock setelah Punya Anak, dan Cara Mengatasinya

Apa Itu Mental Load dalam Parenting?

Fadhilah Amalia, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa mental load atau beban mental dapat diartikan sebagai tuntutan atau pekerjaan seorang individu dalam peran yang sedang ia jalani. “Ada beban yang berhubungan dengan aspek kognitif (pemikiran) dan juga emosionalnya,” jelas psikolog yang akrab disapa Dhila ini.

Dalam konteks setelah punya anak, terjadi perubahan peran yang menuntut adaptasi besar-besaran. Ibu harus memikirkan kecukupan nutrisi anak, tumbuh kembangnya, hingga pengaturan jadwal harian. “Tantangan adaptasi ini juga menguras emosi karena berkurangnya waktu untuk self-care dan sulitnya mengelola emosi di tengah kesibukan baru sebagai orang tua,” tambahnya.

Semua detail kecil inilah yang membuat pekerjaan tak terlihat ibu terasa jauh lebih berat. Studi menunjukkan bahwa ibu membawa sekitar 79% tugas mental harian dalam keluarga. Jadi, Mommies bukan cuma eksekutor, tapi juga “manajer operasional” rumah tangga yang otaknya nggak pernah berhenti berputar.

Foto: Markus Winkler/Pexels

Kenapa Ibu Lebih Banyak Menanggung Beban Mental?

Tanpa disadari, banyak perempuan terjebak dalam peran manajer keluarga. Bahkan bagi ibu yang bekerja di kantor, mereka sering kali harus menjalani “tiga pekerjaan” sekaligus: pekerjaan profesional, manajemen rumah tangga, dan menjaga keharmonisan hubungan.

Menurut psikolog Dhila, hal ini sangat berhubungan dengan konsep sosial di sekitar kita. Masyarakat sering meletakkan ekspektasi tinggi bahwa ibu harus telaten dalam segala hal, mulai dari memahami perkembangan anak hingga hafal jadwal aktivitas harian. Sementara itu, peran ayah lebih sering dilekatkan pada sosok pendukung dan pencari nafkah. Persepsi inilah yang membuat beban kognitif dan emosional akhirnya lebih banyak dititikberatkan pada perempuan.

Faktor Penyebab Mental Load setelah Punya Anak

Selain faktor sosial, ada beberapa hal yang memicu beban mental dalam pernikahan menjadi semakin berat menurut Psikolog yang berpraktik di Brawijaya Hospital Duren Tiga ini:

  • Ekspektasi sosial: adanya tuntutan bahwa seorang ibu harus “sempurna” dalam menjalankan tugasnya.
  • Dukungan pasangan yang kurang optimal: adanya pemikiran bahwa jika suami sudah bekerja, maka tugasnya selesai. Kurangnya komunikasi membuat dukungan yang diterima istri menjadi terbatas.
  • Komunikasi pasif-agresif: saat istri merasa tidak dipahami, namun sulit mengomunikasikannya, beban emosional akan menjadi lebih intens.
  • Persepsi harus sempurna: kadang tekanan datang dari diri sendiri yang enggan mendelegasikan tugas atau meminta bantuan karena ingin segalanya berjalan sempurna di tangan sendiri.
  • Dinamika keluarga: faktor finansial dan jumlah anak juga sangat berpengaruh. Semakin banyak jumlah anak, semakin besar perhatian pikiran dan emosi yang harus dicurahkan.

Tanda-tanda Mental Load dalam Parenting

Ini beberapa tanda mental load dalam parenting yang mungkin sering kita rasakan:

  • Ledakan marah: gampang tersulut emosinya karena hal sepele.
  • Burnout: merasa hampa, lelah luar biasa, dan tidak punya waktu untuk diri sendiri.
  • Konflik dengan pasangan: muncul rasa benci atau resentment karena merasa berjuang sendirian.
  • Kualitas tidur buruk: mata sudah merem, tapi otak masih sibuk menyusun menu sarapan besok.

Dampak Mental Load ke Hubungan Suami Istri

Jangan remehkan beban mental ini, karena dampaknya pada hubungan bisa sangat serius. Penelitian menunjukkan adanya penurunan hingga 66% dalam kepuasan hubungan jika beban mental ini tidak seimbang. Beberapa tanda yang mungkin sering dirasakan antara lain:

  • Pasangan dapat merasa hubungannya tidak lagi memberikan kepuasan.
  • Intimasi berubah, pasangan merasa berjarak secara emosional. Karena komunikasi antara suami dan istri selalu didominasi oleh anak, perlahan-lahan percikan-percikan api cinta dalam pernikahan pun lenyap.
  • Terkadang, pasangan hanya dilihat sebagai partner kerja untuk memastikan perkembangan anak berjalan dengan baik.
  • Konflik dan ketegangan dalam hubungan suami istri juga berpeluang lebih  sering terjadi karena pasangan merasa tidak dipahami dan kurang dihargai. Dukungan dan komunikasi yang terbatas dapat memunculkan siklus tidak sehat dalam hubungan pernikahan.

mental load setelah punya anak

Foto: Helena Lopes/Pexels

Cara Mengurangi Mental Load bersama Pasangan

Lalu, gimana solusinya agar pernikahan tetap sehat? Berikut beberapa tips yang bisa Mommies coba: 

1. Bicarakan

Langkah pertama memang yang paling berat: ngomong. Pilih waktu yang tenang, saat anak sudah tidur dan kalian berdua tidak sedang stres. Katakan, “Aku sering merasa lelah secara mental belakangan ini. Aku baca soal mental load, dan aku rasa ini yang sedang aku alami. Boleh kita diskusi?” Jelaskan secara konkret apa yang Mommies pikirkan, bukan sekadar komplain.

2. Berhenti Jadi “Gatekeeper

Ini yang paling susah buat ibu-ibu: letting go. Kadang kita delegasikan tugas ke suami, tapi kita pelototin cara dia mengerjakannya. Kalau dia salah lipat baju atau lupa kasih buah di kotak makan anak, biarkan saja. Kalau kita terus mengoreksi atau mengkritik, pasangan akan malas untuk terlibat sepenuhnya. C’est la vie! Dunia nggak akan kiamat, kok.

3. Gunakan teknologi

Jangan biarkan ingatan Mommies menjadi satu-satunya pusat data di rumah. Gunakan kalender digital yang bisa diakses berdua. Masukkan semua jadwal di sana. Jadi, suami nggak perlu tanya lagi, “Besok anak ada acara apa di sekolah?” karena dia bisa cek sendiri di HP-nya.

4. Delegasikan tugas

Jangan cuma minta bantuan untuk “eksekusi”. Misalnya, alih-alih minta suami belanja, minta dia untuk bertanggung jawab penuh atas ketersediaan stok bahan makanan. Artinya, dia yang cek kulkas, dia yang mencatat apa aja yang habis, dan dia yang membeli. Mommies lepas tangan sepenuhnya daripada urusan itu.

5. Berani bilang “Aku nggak tahu”

Mommies bukan Google, bukan juga ensiklopedia berjalan. Kalau suami tanya, “Kado buat keponakan apa ya?”, coba jawab, “Aku belum kepikiran. Kamu coba cari ide ya.” Biarkan pasangan melatih otot “perencanaan” mereka.

6. Pangkas daftar tugas yang tidak perlu

Kadang kita sendiri yang bikin beban mental jadi berat. Lelah memikirkan kado untuk semua saudara jauh? Berhenti. Fokuslah pada hal-hal yang benar-benar penting bagi kebahagiaan Mommies dan keluarga inti.

Kapan Harus Minta Bantuan Ahli

“Indikator utamanya tetap dilihat dari keberfungsian psikologisnya. Apabila  terjadi masalah serius seperti kondisi burnout yang sudah kronik, muncul perasaan depresif,  low mood, dan menurunnya semangat atau motivasi menjalani kegiatan harian, maka seseorang perlu mempertimbangkan untuk berkonsultasi dengan profesional,” saran Psikolog Dhila.

“Selain itu, apabila secara fisik juga mengalami masalah tidur, masalah imunitas (mudah terkena penyakit), merasa dirinya sudah tidak punya harapan dan putus asa, konflik dan ketegangan semakin intens, serta komunikasi terus terhambat, ini bisa menjadi indikator perlunya mencari bantuan karena kita sedang tidak baik-baik saja,” tambah Psikolog Dhila.

BACA JUGA: Hentikan Sekarang! 15 Kalimat yang Diam-diam Merusak Kesehatan Mental Anak

Cover: Tima Miroshnichenko/Pexels