
Cuti melahirkan ibu bekerja tak selalu tenang. Ini 8 kekhawatiran yang sering muncul, plus cara menghadapinya.
Cuti melahirkan ibu bekerja sering dianggap sebagai momen bahagia bersama bayi. Tapi bagi ibu bekerja, fase ini juga penuh kekhawatiran—mulai dari rasa bersalah meninggalkan anak, cemas soal karier, sampai bingung membagi waktu. Saya sendiri merasakan hal ini, bahkan setelah tiga kali cuti melahirkan.
Dan kalau Mommies juga merasakannya, you’re definitely not alone. Apa saja kekhawatiran itu?

Baru juga mulai cuti melahirkan, tapi bayangan harus meninggalkan bayi seharian sudah terasa berat—dan yes, menciptakan rasa bersalah. Sekecil apa pun itu, tetap ada yang namanya rasa bersalah.
Takut melewatkan milestone penting, takut jadi kurang hadir sebagai seorang ibu, sampai mempertanyakan apakah benar-benar harus kembali bekerja. Dilema antara ingin seharian bersama bayi, tapi juga ada kebutuhan finansial yang tak bisa dipungkiri. Ini rasa yang sangat manusiawi!
Bukan maksudnya berdedikasi banget ya :)), tapi memang di tengah cuti melahirkan, pikiran tentang pekerjaan juga sering hadir.
Apakah posisi saya akan tergantikan? Apakah tim bekerja dengan baik? Apakah ada perubahan aturan yang bisa memengaruhi saya? Overthinking soal performa setelah cuti berbulan-bulan.

Selain pekerjaan, ada anak yang juga membutuhkan perhatian kita. Belum lagi urusan MPASI, ASIP, jam tidur bayi yang kadang belum punya pola.
Ada banget kekhawatiran akan burnout atau merasa, “Aduh, energinya cukup, nggak, ya, saat nanti harus kembali ke kantor?” Karena kembali ke dunia kerja menuntut fokus, produktivitas, dan kesiapan mental.
Di fase ini, kita pun mulai mempertanyakan: “Apakah aku masih bisa menjalani semuanya dengan baik?”
Untuk kita yang menyusui, ada tambahan beban pikiran soal produksi ASI saat kembali kerja. Apakah bisa tetap lancar pumping? Apakah stok cukup?
Belum lagi soal pengasuhan, apakah akan dibantu ART, keluarga, atau daycare? Dan apakah mereka bisa dipercaya?
Apakah kalau ada orang lain yang mengasuh saat saya bekerja, bisa mengurangi bonding saya dengan si kecil? Semua ini berkaitan langsung dengan rasa aman dan tenang seorang ibu.
Menjadi ibu bekerja sering terasa seperti berada di tengah dua ekspektasi. Di satu sisi, harus tetap profesional dan committed. Di sisi lain, ada standar sosial tentang bagaimana “seharusnya” seorang ibu hadir untuk anaknya.
Dinilai “terlalu ambisius” karena kerja. Atau sebaliknya, dianggap “kurang profesional” karena punya bayi. Tidak jarang, ibu merasa di-judge dari dua arah sekaligus, dan ini bisa cukup melelahkan secara emosional.
Ada juga kekhawatiran yang lebih panjang: apakah karier akan terhambat? Apakah masih punya kesempatan berkembang? Atau justru akan dianggap kurang fokus?
Jadi khawatir karier tertahan dan kehilangan peluang promosi karena dianggap kurang committed.
Kadang, ada anggapan bahwa setelah menjadi ibu, kualitas perempuan di pekerjaan menjadi dipertanyakan, meskipun tidak selalu terjadi di semua tempat kerja. Dan jika kantor Mommies tidak seperti itu, SELAMAT!!!
Mental load pun meningkat karena harus memikirkan banyak hal sekaligus, yang sering berujung pada decision fatigue setiap hari.
Tidak heran jika akhirnya merasa overwhelmed, karena dituntut untuk bisa “jadi semuanya” dalam waktu bersamaan.
Transisi kembali bekerja tidak selalu berjalan mulus, terutama ketika kantor belum punya support system seperti ruang laktasi atau fleksibilitas kerja.
Di saat yang sama, adaptasi dengan pengasuh atau daycare juga tidak instan, sehingga kita butuh waktu untuk benar-benar menemukan ritme baru yang terasa nyaman.
BACA JUGA: Agar Cuti Melahirkan Lancar Untuk Anda dan Atasan
Kekhawatiran ibu bekerja saat cuti melahirkan adalah hal yang sangat umum. Namun, ada beberapa cara yang bisa membantu kita menjalani fase ini dengan lebih tenang dan terarah.
BACA JUGA: Value yang Harus Didiskusikan Bersama Daycare
Menjadi ibu bekerja bukan berarti harus memilih salah satu dan mengorbankan yang lain.
Pada akhirnya, perjalanan setiap ibu bekerja akan berbeda. Akan selalu ada tantangan, tapi juga ada cara untuk menemukan ritme yang paling pas.
Dan kalau hari ini terasa berat, tidak apa-apa. Kita sedang belajar menjalani dua peran besar sekaligus—dan itu bukan hal yang kecil.