8 Penyebab Hubungan Terasa Hambar Setelah Punya Anak dan Cara Mengatasinya

Sex & Relationshipdetail-thumb

Hubungan terasa hambar setelah punya anak? Mommies nggak sendirian. Kenali 8 penyebab pernikahan jadi renggang dan cara menjaga hubungan tetap hangat.

Pernah nggak Mommies kebangun jam 2 pagi karena si kecil terus menangis, lalu berakhir saling bentak dengan suami gegara tunjuk-tunjukan siapa yang harus mengganti popok? Atau mungkin Mommies merasa, sejak ada anak, obrolan dengan pasangan hanya seputar jadwal imunisasi atau paling mesra ya ngobrolin cari tempat liburan yang ramah anak, tanpa ada lagi percikan romansa seperti dulu?

Jika iya, jangan berkecil hati. Kelelahan yang luar biasa dan ketegangan antarpasangan adalah hal yang sangat normal saat kita memasuki fase menjadi orang tua baru.

Riset dari Drs. John dan Julie Gottman menunjukkan bahwa hubungan pernikahan menghadapi tantangan yang sangat signifikan ketika anak hadir di tengah-tengah suami dan istri. Faktanya, dalam studi mereka, sekitar 66% pasangan mengalami penurunan kepuasan hubungan selama tiga tahun pertama setelah memiliki bayi. Memahami bagaimana kehadiran anak berdampak pada dinamika suami-istri adalah faktor krusial untuk menjaga kesehatan hubungan jangka panjang.

BACA JUGA: Cara Mengembalikan Keintiman Hubungan Suami Istri yang Mulai Renggang, Selain Seks

Mengapa Hubungan Terasa Hambar setelah Punya Anak?

Transisi menjadi orang tua memengaruhi setiap aspek kehidupan. Dari kurang tidur hingga pergeseran identitas, dari stres finansial hingga hambatan komunikasi. Perubahan ini normal, dapat diprediksi, dan yang paling penting, bisa dikelola.

Berikut adalah 8 penyebab utama mengapa hubungan pernikahan sering kali terasa hambar setelah kehadiran si kecil:

1. Kurangnya Waktu dan Energi untuk Pasangan

Menjadi orang tua adalah peran yang sangat menuntut, bahkan jauh lebih melelahkan dari yang kita bayangkan sebelumnya! Hal ini membuat banyak pasangan merasa habis energinya. Dengan berkurangnya waktu untuk diri sendiri dan pasangan, Mommies mungkin kesulitan untuk sekadar terhubung secara emosional atau melakukan hal-hal menyenangkan yang dulu sering dilakukan berdua sebelum punya anak.

2. Pergeseran Prioritas yang Membuat Pasangan Merasa Terabaikan

Sejak punya anak, prioritas Mommies pasti berubah. Fokus utama beralih sepenuhnya pada kebutuhan dan aktivitas anak, sehingga energi untuk merawat hubungan pernikahan sering kali tersisa ampasnya saja. Pergeseran ini bisa membuat Mommies atau pasangan merasa terabaikan dan tidak lagi menjadi prioritas satu sama lain.

3. Perbedaan Gaya Parenting yang Memicu Konflik

Parenting bisa menjadi sumber konflik yang besar. Mommies mungkin ingin menerapkan disiplin yang lembut, sementara pasangan lebih tegas. Perbedaan pendekatan ini sering memicu ketegangan dan perbedaan pendapat yang membuat Mommies merasa suami nggak lagi satu tim.

4. Stres Finansial Akibat Biaya Membesarkan Anak

Membesarkan anak membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Masalah uang sering kali menjadi pemicu pertengkaran, terutama jika ada perbedaan nilai tentang apa yang dianggap penting dalam pengeluaran rumah tangga. Tekanan finansial ini bisa memberikan beban berat pada kemesraan pasangan.

Foto: Mikhail Nilov/Pexels

5. Terjebak Peran Gender Tradisional yang Tidak Seimbang

Sebelum punya anak, banyak pasangan menjalani hidup yang relatif setara. Namun setelah anak lahir, banyak pasangan yang tanpa sadar terjebak dalam peran gender tradisional. Kehidupan ibu sering kali berubah jauh lebih drastis dibandingkan ayah. Ketimpangan beban domestik ini sering memicu rasa benci (resentment) dan siklus kritik-defensif yang merusak kedekatan.

6. Gairah Seks Menurun Setelah Melahirkan

Hadirnya anak membawa perubahan fisik dan emosional yang memengaruhi gairah seks. Kelelahan luar biasa, perubahan hormon setelah melahirkan, hingga kurangnya waktu privasi membuat aktivitas seksual menurun drastis. Hal ini sering kali membuat pasangan merasa tidak terpenuhi secara batin dan kehilangan koneksi fisik.

7. Merasa Tidak Dihargai atas Kerja Keras Sehari-hari

Salah satu perjuangan paling umum setelah punya anak adalah perasaan tidak “dilihat”. Salah satu atau kedua pasangan mungkin merasa kerja kerasnya di rumah atau di kantor tidak diapresiasi, terutama jika ekspektasi tidak dikomunikasikan dengan jelas.

8. Kelelahan Emosional dan Fisik yang Kronis

Kurang tidur bukan hanya soal mengantuk. Itu memengaruhi suasana hati dan kemampuan kita untuk berempati. Saat kita berada di ambang batas kelelahan, kita cenderung lebih mudah marah dan sulit memberikan kasih sayang yang tulus kepada pasangan.

BACA JUGA: Kenapa Banyak Perempuan Merasa “Kehilangan Diri” setelah Menikah? 

Cara Menjaga Pernikahan Tetap Hangat setelah Punya Anak

Kabar baiknya, Mommies tidak harus menjadi bagian dari statistik 66% tersebut. Berikut adalah langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk membangun kembali koneksi:

1. Akui Perasaan Mommies

Langkah pertama adalah mengakui jika Mommies merasa tidak bahagia atau merasa hubungan sedang hambar. Ketahuilah bahwa merasa begini sangat umum terjadi dan bukan berarti pernikahan Mommies berakhir. Refleksikan apa penyebab utamanya, apakah kurang tidur, atau beban domestik yang tidak seimbang?

2. Prioritaskan Komunikasi dan Koneksi Harian

Pasangan yang sukses melalui fase ini adalah mereka yang bekerja sebagai tim. Cobalah ritual koneksi harian selama 15 menit tanpa ponsel. Gunakan waktu ini untuk saling berbagi satu hal positif dan satu tantangan hari itu. Jangan lupa tanyakan, “Gimana aku bisa bantu kamu besok?”.

3. Atasi Ketimpangan Peran di Rumah

Jika Mommies merasa terjebak dalam peran gender tradisional yang melelahkan, bicarakan! Diskusikan secara rutin tentang pembagian tugas di rumah. Jangan biarkan rasa kesal menumpuk sampai akhirnya meledak, menimbulkan kerusakan yang tidak bisa diperbaiki.

4. Jadwalkan Waktu Berdua Secara Rutin

Menjaga hubungan butuh kesengajaan (intentionality). Tidak harus kencan mewah. Cukup minum kopi berdua sebelum anak bangun, jalan santai di sekitar kompleks setelah makan malam, atau sekadar mengobrol 30 menit ekstra sebelum tidur.

8 Penyebab Hubungan Terasa Hambar setelah Punya Anak dan Cara Mengatasinya

Foto: Vlada Karpovich/Pexels

5. Fokus pada Hal Positif Pasangan

Gottman menemukan bahwa pasangan bahagia memiliki rasio 20:1, artinya ada 20 interaksi positif untuk setiap 1 interaksi negatif. Mulailah membiasakan diri untuk melihat kebaikan pasangan dan sampaikan terima kasih atas hal-hal kecil yang dia lakukan.

6. Jangan Lupa Self-Care untuk Diri Sendiri

Mommies tidak bisa menuang dari gelas yang kosong. Pastikan Mommies cukup istirahat, makan makanan bergizi, dan sesekali bersosialisasi dengan teman di luar lingkaran keluarga inti. Semakin kita merasa sehat secara mental, semakin kuat kita menghadapi tantangan dalam hubungan.

7. Tunjukkan Penghargaan dengan Kalimat Sederhana

Dalam kelelahan mengurus anak, sering kali kita lupa berterima kasih. “Makasih ya sudah bantu menidurkan si Kecil supaya aku bisa istirahat,” atau “Aku perhatikan kamu sabar banget tadi pas dia nangis,” adalah kalimat sederhana yang bisa memperkuat ikatan batin.

8. Cari Bantuan Profesional Jika Diperlukan

Jika Mommies merasa masalah sudah terlalu rumit untuk diselesaikan berdua, jangan ragu untuk mencari konseling pernikahan. Profesional bisa membantu Mommies dan pasangan mengurai benang kusut dalam komunikasi.

Hadirnya anak memang mengubah segalanya, tapi pernikahan yang hambar bukan berarti mati. Dengan sedikit kesengajaan dan komunikasi yang jujur, Mommies dan pasangan bisa melewati badai ini dan justru membangun fondasi yang lebih kuat sebagai orang tua sekaligus pasangan.

BACA JUGA: 13 Tanda Hubungan Tidak Sehat Meski Terlihat Baik-baik Saja

Cover: Timur Weber/Pexels