
Aku kira, aku sudah melakukan cara yang benar agar anakku berhasil. Tapi air matanya mengajarkanku perbedaan antara mendampingi dan mengambil alih.
Air matanya mengalir deras, napasnya pendek terisak-isak, sementara aku hanya terdiam. Energiku rasanya habis setelah hampir satu jam duduk mendengarkannya mengulangi bacaan surat yang sama. Sudah kubilang mengulang hafalan Al-Qur’annya harus tiap hari, tapi ia hanya mengangguk tanpa benar-benar melakukannya. Kini ia panik karena lusa waktunya ujian hafalan.
Kejadian ini bukan yang pertama. Sekitar lima bulan lalu, Hanna juga menghadapi ujian hafalan satu juz, dan seperti hari ini, ia menangis. Bedanya, dulu aku memarahinya keras karena banyak kesalahan saat mengulang hafalan. Aku bahkan menuduhnya malas — seharusnya dengan semua fasilitas yang kami berikan, hafalannya bisa lebih baik.
Waktu itu, setelah dimarahi, Hanna masih berusaha menyemangati dirinya sendiri, meyakinkan dirinya bahwa ia pasti bisa. Tapi malamnya ia tidur sambil mengigau dan keesokan harinya ia demam tinggi.
BACA JUGA: 10 Hal yang Saya Sadari Setelah Menjadi Ibu, yang Tidak Pernah Diceritakan Siapa pun
Anggapanku demamnya biasa saja, sampai gurunya bertanya apakah Hanna sakit karena tertekan menjelang ujian. Masa, sih? Pikirku berulang kali. Bolak-balik aku menatap wajahnya yang terlihat lemas karena sakit, mencari-cari jawaban. Malam hari saat tertidur, sekali lagi ia mengigau — dan kali itu giliran aku yang menangis.
Aku bukan orang tua ambisius. Kegagalan Hanna tidak pernah membuatku malu, dan buatku Hanna juga tidak harus selalu nomor satu. Tapi aku memang khawatir. Aku khawatir ia tidak sanggup menerima kegagalan. Aku juga khawatir ia trauma akibat menghafal Al-Qur’an. Kekhawatiranku ternyata membuatku emosional, dan memarahi Hanna adalah pelampiasannya. Aku sadar telah melakukan kesalahan.

“Tugas kita mendampingi anak belajar” — kalimat yang sering diulang di sesi Belajar Efektif bersama Rangkul (Relawan Keluarga Kita) itu tiba-tiba terngiang di kepalaku. “Mendampingi,” ucapku lirih sambil menatap wajah Hanna yang tertidur. “Apa Ibu sudah benar-benar mendampingi, Nak?”
Di penghujung malam, aku berdoa. Meminta petunjuk, sekaligus bertekad akan mencoba cara yang lebih baik besok.
Hari ini, ketika kejadian yang sama terulang lagi, alih-alih memarahinya meski aku sudah lelah, aku justru memeluk Hanna. Di pelukanku, tangisnya malah pecah semakin kuat. Setelah kubisikkan kata-kata penyemangat dan apresiasi, barulah ia perlahan tenang. Ternyata perubahan sikapku diperhatikan olehnya.
“Bu… dulu Ibu suka marah-marah kalau Hanna mau ujian. Sekarang enggak lagi, ya?” tanyanya hati-hati.
“Ah, iya. Soalnya Ibu sadar tugas Ibu itu ‘hanya’ mendampingi,” jawabku sambil membuat tanda petik di udara.
“Maksudnya, Bu?”
“Ya… mendampingi, bukan mengontrol atau mengambil alih,” jelasku pelan.
Lalu aku menuturkan apa yang kupelajari tentang perbedaan antara mendampingi dan mengambil alih proses belajar anak.
Setelah mengajukan beberapa pertanyaan dan mendengarkan penjelasanku, Hanna terdiam menatap wajahku. Perlahan kedua sudut mulutnya terangkat. Ia menggeleng kecil, lalu berkata lirih, “Ibu… Masya Allah!”
Kejadian seperti ini sering membuat gerimis hatiku. Aku yang tidak sempurna ini — apakah mampu membesarkan anak dengan baik? Besok kesalahan apalagi yang akan kubuat? Berapa banyak air mata Hanna yang baru menyadarkanku?
Sering berdoa, banyak belajar, dan mencoba cara yang lebih baik — hanya itu yang aku bisa.
BACA JUGA: Jangan Cuma Diam, Ini Cara Melatih Anak Menjawab Komentar Julid dengan Sopan
Cover: RDNE Stock project/Pexels