banner-detik
EDUCATION

Setelah Libur Panjang, Anak Jadi Malas Sekolah? Ini Cara Mengatasinya

author

RachelKalohin 7 hours

Setelah Libur Panjang, Anak Jadi Malas Sekolah? Ini Cara Mengatasinya

Wajar kalau anak merasa malas sekolah paska-libur panjang, kita yang dewasa saja sering merasa back to reality itu penuh tantangan. Tapi tenang, coba cara berikut untuk mengatasinya.

Nggak perlu langsung panik dan berpikir, kok, anakku malas sekolah, kenapa, ya? Apalagi kalau momennya memang setelah libur panjang. Begitu teringat kalau sebentar lagi masuk sekolah, mukanya langsung bete! Coba, deh, kalau dipikir-pikir, kita yang orang dewasa saja sering merasa demikian. Nggak usah habis libur panjang, menghadapi hari Senin setiap minggunya saja seringkali rasanya sangat menantang. Saat kemudian kita menghadapi anak seperti tidak semangat kembali ke sekolah, coba siasati dengan cara berikut ini!

Validasi perasaan “malas”-nya

Sebagai orang dewasa, kita tentu sudah jauh lebih paham saat menghadapi realita: Ketika sudah di pengujung liburan, teringat akan rutinitas dan tanggung jawab yang perlu dihadapi lagi di hari esok. Namun, bedanya, anak-anak belum mampu mengelola emosi layaknya orang dewasa. Setiap perasaan yang muncul pada anak perlu kita gali, supaya kita juga jadi lebih paham, mungkin rasa malas tersebut hanya reaksi saat ia dengar kata-kata “sekolah”, padahal lagi enak-enaknya menikmati kebebasan di hari libur. Ibaratnya, istilah “sekolah” itu jadi semacam party pooper alias perusak suasana. Nggak perlu diingatkan juga sebetulnya mereka tahu, kok. Jadinya, reaksi yang timbul tersebut membuat kita berpikir anak malas sekolah.

Pelan-pelan mulai kembalikan rutinitas yang lebih mindful

Siapa, sih, yang nggak senang sama liburan? Bisa bebas bangun siang, nonton TV tiada batas, jalan-jalan ke sana ke mari, kumpul bareng saudara/teman, playdate, staycation, semua ini tentu menciptakan momen yang berkesan buat anak. Sementara, hari-hari sekolah itu lekat dengan bangun pagi, jadwal ketat, belajar, larangan untuk nonton TV, nggak bisa main sepuasnya, karena semua lebih dibatasi. Maka, saat anak seperti “dikagetkan” dengan kenyataan bahwa sebentar lagi ia harus kembali ke sekolah, kita bisa menghindari reaksi malasnya dengan cara mulai secara perlahan untuk kembali ke kegiatan yang lebih mindful. Batasi kegiatan di luar rumah, bangun lebih pagi lagi, sarapan, batasi screen time, tawarkan anak kegiatan yang mengasah konsentrasinya, seperti gambar-gambar, baca buku, bahkan ritual tidur siang. Dengan begini, anak akan pelan-pelan masuk lagi ke rutinitas hari sekolah, dan meninggalkan rutinitas hari liburnya. Lebih baik lagi bila anak tetap menjalani kegiatan non-akademik selama libur sekolah, supaya ia tetap ingat akan kegiatan yang ada jadwalnya sendiri. 

Pupuk semangat lewat hal-hal yang menyenangkan di sekolah

Sebetulnya pasti banyak kegiatan di sekolah yang anak suka. Bertemu teman-teman dan guru, main di playground, bernyanyi, menari, kegiatan ekskul, dengerin cerita teman, guru, belajar hal yang baru setiap harinya, dan masih banyak lagi. Di sinilah pentingnya untuk sering-sering ngobrol sama anak saat ia pulang sekolah, supaya kita juga tahu hal-hal yang menjadi favoritnya selama di sekolah. Kita bisa lebih mudah mengingatkan anak, bahwa sebentar lagi ia akan bisa melakukan kegiatan seru itu lagi.

Baca juga: Ingin Dekat dengan Anak di Segala Usia? Ajak Ngobrol dengan 56 Pertanyaan Umum Ini

Seringkali kegiatan di rumah, justru tidak semenyenangkan di sekolah

Demi menyemangati anak, orang tua juga bisa memilah kegiatan yang hanya bisa anak lakukan di sekolah. Misalnya, anak bisa belajar sambil main air bareng teman dan gurunya, sementara di rumah, seringkali kegiatan ini tidak memungkinkan karena ruangannya lebih sempit dan bahan-bahannya tidak tersedia. Kalau di rumah, anak sehari-hari hanya akan bertemu Mama, Papa, Adik dan Kakak, tidak ada sahabatnya si A, B, dan C. Bisa juga kuatkan dengan kalimat, “Teman-teman kamu, si A, B, C, juga pasti sudah nggak sabar mau main bareng dan cerita soal liburannya”. “Mama yakin, Miss A juga pasti nggak sabar pingin dengerin pengalaman liburan murid-muridnya, deh!”

“Kenapa libur itu menyenangkan buatmu?”

Orang tua bisa men-challenge anak lewat pembahasan tentang libur. Saat mendapat respon negatif dari anak ketika disinggung soal “kembali ke sekolah”, tanyakan “Kenapa nggak mau sekolah?”, dari sini anak pasti akan memberikan alasannya. Jangan lupa selipkan kalimat bahwa Anda mengerti perasaannya ini. “Iya, Ibu paham, bangun pagi-pagi itu sulit ya, Nak? Tapi kalau kamu sudah bangun, kamu pasti bakalan semangat, malah kadang sampai nggak mau tidur siang lagi, kan?” Pancing juga lewat pertanyaan tentang liburannya, “Kamu senang, ya, bisa jalan-jalan ke kebun binatang kemarin? Tapi coba bayangin kalau setiap hari kita ke sana, kamu bakal bosan, nggak, sih?” Kita juga bisa menjelaskan lewat kalimat sederhana, seperti, “Kamu, kan, suka es krim cokelat, ya? Bayangin kalau setiap hari kamu makan es krim cokelat, apa yang terjadi?”, anak mungkin akan menjawab “nanti batuk”, atau “bosan”. Sama halnya dengan kegiatan menyenangkan saat liburan, kalau setiap saat dilakukan, efeknya buat kita bukan hanya kebosanan, tapi sesuatu yang nggak baik, misalnya, kita jadi nggak pintar karena kebanyakan main, nggak sekolah artinya nggak belajar hal-hal baru.

“Kamu tahu, nggak, kenapa libur itu menyenangkan? Karena sebelum libur, kamu sekolah, kamu belajar, kamu ulangan, terus terima rapor, jadi ketika libur datang, rasanya lega dan menyenangkan sekali. Sekarang, kamu balik sekolah lagi dan nanti ketika libur datang lagi, kamu bakal senang lagi menyambutnya!”

Pastikan Mommies menyesuaikan kalimat ini, ya, supaya anak benar-benar paham maknanya.

Image by Freepik

Share Article

author

RachelKaloh

Ibu 2 anak yang hari-harinya disibukkan dengan menulis artikel dan content di media digital dan selalu rindu menjalani hobinya, menjahit.

banner-detik

POPULAR ARTICLE

banner-detik
banner-detik

COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan