
Bagi Septiany Utami Dewi, berolahraga selain menyehatkan tubuh, juga sebagai transisi peran antara ibu bekerja dan ibu rumah tangga. Simak kisahnya berikut ini.
Walau zaman terus berkembang, pada kenyataannya masih ada sebagian perempuan yang merasa perlu mengesampingkan dirinya sendiri ketika memulai peran sebagai ibu. Sedikit demi sedikit, mimpi, minat, karir, bahkan jati diri bisa ikut bergeser, seiring dengan prioritas baru yang berfokus pada keluarga.
Namun, setiap perempuan sejatinya tetap bisa menjalani berbagai peran. Kedua peran sebagai ibu pekerja dan ibu rumah tangga, ternyata bisa saling mendukung. Inilah yang tercermin dari seorang Septiany Utami Dewi, ibu dua anak (10 tahun dan 4,5 tahun) yang akrab disapa Septy. Baginya, menjadi ibu bukan berarti kehilangan jati diri.
Dengan menemukan ritme yang tepat dalam membagi waktu dan peran, ia percaya seorang perempuan tetap bisa hadir utuh, baik untuk keluarga maupun untuk dirinya sendiri. Yuk, kenal lebih dekat dengan Septy.
Setiap pagi saya menyiapkan bekal untuk anak sekolah, lalu bersiap-siap ke kantor, pulang kantor olahraga, lalu pulang menemani anak-anak bermain dan belajar. Kurang lebih seperti itu setiap harinya.
Saya bekerja di RSPI Group sebagai Public Relation, sudah hampir 10 tahun. Tantangan yang saat ini saya hadapi yaitu bagaimana mencari apa yang bisa digali dari sisi kreativitas PR. Agar PR tak hanya sebatas memberikan edukasi saja, tapi juga harus ada impact ke bisnisnya. Saya harus jeli melihat unit bisnis apa yang perlu di-improve dan bagaimana cara mengemasnya agar relevan ke media. Tak hanya memaparkan soal tekonolgi medisnya saja, tetapi juga bagaimana bisa membawa dampak ke masyarakat luas.

Tantangan lainnya yaitu, membuat kreativitas PR menjadi lebih menarik. Karena, industri healthcare itu kan serius banget, ya, sehingga tak selalu bisa dikemas dengan gimmick sebebas industri lain, seperti makanan misalnya. Jadi memang kita dituntut untuk kreatif.
Selain itu, persaingan di industri healthcare juga semakin ketat. Jadi, kami perlu memikirkan strategi yang kreatif untuk mengedepankan USP (unique selling point) yang kami miliki mulai dari pelayanan medis hingga pelayanan secara digital.
Iya, hahaha…
Saat mau menginjak usia 35 tahun, tepatnya akhir 2019, saya berniat untuk punya anak kedua. Karena ada riwayat PCOS, saya dan suami berkonsultasi ke dokter. Dokter bilang, saya harus ubah gaya hidup. Saya, kan, suka makan yaa.. jadi, untuk mengimbanginya, saya olahraga. Lalu saya mulai olahraga, ternyata menyenangkan, lalu membuat menstruasi juga jadi teratur. Lalu di 2021 saya hamil anak kedua. Selama hamilpun saya tetap aktif berolahraga.

Saya mencoba berbagai olahraga, mulai dari lari, strength training, badminton, yoga, pound fit, padel, pilates sampai suspension training. Tahun lalu pertama kalinya saya ikut Maybank Half Marathon di Bali. Hingga kini, saya masih aktif berolahraga; kalo nggak berolahraga, badan pegal-pegal, hehehe.
Pastinya ada capeknya juga, ya. Terkadang saat di kantor, ada urusan rumah dan anak-anak yang perlu ditangani juga. Sebaliknya, saat di rumah, ada pekerjaan yang juga perlu di-follow-up. Terkadang pikiran terasa penuh harus memikirkan setiap detail. Energi dan waktu cukup terkuras.
Apalagi, anak kedua mengalami gangguan pendengaran. Seminggu sekali perlu bawa terapi.
Jadi ketika anak kedua lahir, skrining auditori OAE (Otoacoustic Emissions) menunjukkan hasil yang tidak bagus. Saat usianya menginjak beberapa bulan, skrining kembali dilakukan beberapa kali, dan hasilnya masih sama. Lalu, saat adik berusia 6 bulan, dilakukan tes BERA, dan confirmed ada gangguan pendengaran. Jadi dari usia 9 bulan, adik sudah pakai alat bantu pendengaran. Dampak dari gangguan pendengaran tersebut, adik mengalami speech delay. Dia memerlukan implan koklea.
Awalnya bertanya dalam hati, salahku di mana, ya? Penyebabnya apa, ya? Tapi beruntung, suami saya memberi penguatan. Dia bilang, dari pada mencari penyebabnya, lebih baik move forward, mencari solusinya. Dari situ kami mulai mencari dan memulai terapi untuk anak, termasuk terapi sensori dan bicara. Sejauh ini ada perkembangan; fokus adik membaik, kognitif pun cukup berkembang. PR selanjutnya, kami lagi mencari sekolah TK untuk adik, yang berpengalaman mengajar siswa dengan gangguan pendengaran juga.
Bersyukur, suami adalah tipe ayah mendukung karir saya, dan sangat terlibat dengan pengasuhan anak sejak mereka kecil. Dia bisa diandalkan untuk hands on gantiin popok bayi, memandiin anak, dan seterusnya.
Kami selalu saling mengingatkan dan saling mengisi. Dia ingin saya untuk tiba di rumah tidak terlalu malam agar pulang kerja bisa menemani anak-anak bermain atau belajar. Saya juga meminta dia untuk bergantian hadir ke acara-acara sekolah anak.
Bagi saya, intinya manajemen waktu. Intinya semua disempat-sempatin. Misalnya, me time diusahakan dilakukan di jam makan siang, supaya nggak pulang malam. Kalau mau ketemuan teman-teman, waktunya diatur agar tidak mendadak supaya bisa antisipasi kondisi. Intinya, menjaga keseimbangan dalam hal waktu. Bagi saya, manajemen waktu yang baik bisa membantu menjalankan peran kita dengan baik.
Kalau burnout, sih, pernah juga ya. Baik dalam hal bekerja maupun pengasuhan anak. Saya merasakan makin ke sini saat PMS, emosi rasanya jadi lebih nggak stabil. Tetapi saya ambil jeda sejenak untuk menyadari kembali bahwa ini peran saya, hidup saya, maka saya akan menjalaninya dengan sadar. Masalah apapun yang muncul, pasti selesai pada waktunya. Untungnya, suami tipe yang bisa menenangkan. Jadi, saya memilih banyak mendengar dia juga; dan itu membantu.

Olahraga juga sangat membantu menjaga kesehatan fisik dan mental. Bagi saya, olahraga itu me time. Olahraga juga semacam transisi buat saya, peralihan peran dari Septy yang bekerja menjadi Septy ibu rumah tanga.
Suami tentunya. Lalu, ART di rumah yang sudah bekerja dengan saya bertahun-tahun. Jadi saya cukup tenang bekerja di kantor karena ada yang dipercaya untuk menjaga anak-anak.
Selain sebagai seorang ibu, saya juga ingin anak-anak melihat saya sebagai sahabat yang bisa dipercaya. Tempat aman mereka untuk bercerita apa saja. Saya berharap, dari diri saya, mereka bisa belajar bahwa perempuan itu mampu menjalani berbagai peran sekaligus: bekerja, mengurus rumah tangga dan tetap mengejar cita-cita. Bagi saya menjadi ibu adalah tentang hadir secara utuh, baik untuk keluarga maupun untuk diri sendiri; tanpa kehilangan jati diri.

Saya dan suami sangat menekankan pentingnya untuk memiliki tata krama dan kemandirian kepada anak-anak. Saya ingin mereka tumbuh menjadi pribadi yang beretika. Bisa stood up for themselves, punya prinsip, berani berpendapat, percaya diri dan jangan mau dilecehkan.
Menjadi ibu itu, nggak harus kehilangan jati diri, lho. Bisa banget tetap jadi diri sendiri dan tetap aktif melakukan hal-hal lain yang ingin diraih dalam hidup. Namun, kita juga perlu sadar akan peran kita, pandai mengelola waktu, dapat menempatkan diri di peran masing-masing. Saat bekerja, bekerja dengan sepenuh hati; saat jadi ibu bagi keluarga, juga lakukan dengan sepenuh hati.
Demikian cerita inspiratif Septy dalam menjalani multiperannya sebagai ibu bekerja dan ibu dari anak-anaknya. Dari kisah Septy, para ibu diingatkan bahwa kita punya peran yang vital di dalam keluarga dan masyarakat. Di tengah era yang semakin berkembang, peran ibu ikut berkembang. Selalu ada ruang bagi setiap ibu untuk terus bertumbuh menjadi versi diri yang utuh dan lebih baik.
Baca juga: Inspiring Working Mom: Cyndi Simanjuntak, School Nurse yang Teguh Merawat, Lembut Menguatkan.
Cover: dokumentasi pribadi Septiany Utami Dewi