
Buat Daddies yang sedang menantikan kelahiran anak pertama, ini hal-hal yang harus disiapkan sebelum menjadi ayah, dari mental hingga finansial.
Memang, sih, ketika istri sedang hamil lalu Daddies dihadapi dengan pertanyaan, “Sudah siap jadi ayah, belum, nih?” Sangat manusiawi bila jawabannya “belum!”.
Tidak jarang mereka yang sudah punya anak pun awalnya tidak pernah benar-benar siap menyandang status tersebut. Nggak jauh beda juga dengan kita yang mungkin jujurly nggak pernah sesiap itu jadi ibu.
Tapi, bukan berarti ketidaksiapan ini dibiarkan begitu saja sampai anak lahir. Apalagi di zaman sekarang, di mana informasi bisa diakses dengan mudah.
So, selama masa kehamilan—sekitar 9 bulan, 40 minggu, atau 280 hari—Daddies punya waktu untuk mulai mempersiapkan diri.
BACA JUGA: 7 Alasan Peran Ayah Penting sejak Anak Masih di Kandungan, Para Ayah Harus Terapkan!

Menjadi ayah bukan cuma soal status baru, tapi juga tentang kesiapan menjalani peran yang akan terus berkembang seiring waktu. Nggak harus langsung sempurna, kok. Yang penting, ada usaha untuk mulai mempersiapkan diri sejak awal, baik secara mental, fisik, maupun emosional.
Supaya nggak terasa overwhelming, coba mulai dari hal-hal dasar yang sering jadi fondasi penting dalam perjalanan menjadi orang tua. Berikut ini beberapa hal yang sebaiknya mulai disiapkan sebelum menjadi ayah:
Belum 100% siap jadi ayah adalah hal yang wajar dialami, tetapi mempersiapkan diri adalah langkah yang patut dilakukan.
Dalam sekejap, janin yang selama ini tidak terlihat wujudnya (karena perempuan lah yang lebih bisa mengalami kehadiran janin sebelum ia lahir), akan berada di genggaman Daddies. Kehadirannya adalah hasil dari pilihan Daddies dan pasangan sehingga siap atau tidak, ia akan menjadi tanggung jawab kalian berdua.
Di sinilah perlunya persiapan mental karena seketika bayi lahir, perjalanan menjadi orang tua pun dimulai. Orang tua itu artinya Daddies dan pasangan, ya, bukan hanya salah satu.
Perubahan tubuh sudah dialami istri selama menjalani masa kehamilan. Ia pun sudah pasti harus menjaga kesehatannya dengan mengonsumsi makanan bergizi yang bisa memenuhi kebutuhan janin, apalagi di trimester pertama.
Lalu, bagaimana dengan suami? Peran apa yang bisa dilakukan? Ya, sama: jaga kesehatan!
Yang biasanya merokok, sudah mulai harus belajar meninggalkannya karena bahaya rokok terhadap bayi bukan hal sepele. Persiapan fisik dengan berolahraga juga patut dijadikan kebiasaan.
Ingat, Daddies lah yang nanti akan standby menemani istri nunggu bukaan, berjaga selama istri operasi caesar, dan menemani begadang saat bayi lahir. Kalau tidak disiapkan dengan matang, tubuh juga bisa kaget dengan perubahan ini. Nggak lucu, kan, kalau sampai ngedrop dan malah jadi beban?
Baru saja memulai hidup sebagai pengantin baru, tahu-tahu sudah diberikan rezeki untuk langsung punya anak. Bukan berarti akan lebih sulit mengumpulkan dana, karena pada dasarnya rezeki sudah diatur sedemikian rupa oleh yang punya kuasa.
Mengumpulkan dana sejak istri positif hamil sangat wajar dan masuk akal. Apalagi jika Daddies dan istri masih sama-sama bekerja, biasanya akan ada keringanan biaya persalinan dari perusahaan.
Dengan begitu, uang yang dikumpulkan bisa dialokasikan untuk kebutuhan lain, seperti pendidikan anak.
Peran di sini dimulai dari hal sederhana: menemani istri menjalani masa kehamilan.
Trimester pertama biasanya yang paling berat. Daddies bisa berperan dengan cara mencoba mengerti keadaan istri, karena perubahan bentuk tubuh dan pengalaman baru tidak selalu menyenangkan dan sesuai ekspektasi.
Masuk trimester kedua dan ketiga, Daddies juga bisa mulai terlibat lewat edukasi parenting, menemani istri ikut kelas prenatal, belajar cara mengganti popok, sampai mencari tahu nilai-nilai penting dalam pengasuhan anak.
Beda keluarga, beda nilai yang dianut, sehingga pola asuh pun bisa berbeda. Sekarang adalah waktunya mempelajari dan menentukan cara apa yang ingin diterapkan.
Yang satu ini juga perlu usaha, lho. Tidak mudah bagi seseorang yang aktif dan produktif untuk membagi waktu saat menjalani peran baru sebagai ayah.
Jam tidur bisa berantakan, jadwal kerja bisa terganggu, apalagi saat bayi membutuhkan perhatian ekstra.
Sebelum anak hadir, Daddies dan pasangan masih bisa punya waktu berdua. Setelahnya, hal itu jadi lebih terbatas. Belum lagi perubahan mood istri pasca melahirkan.
Waktu yang ada sekarang sebaiknya digunakan sebijak mungkin. Akan ada masa di mana Daddies bisa bebas me time, tapi juga akan ada masa di mana Daddies harus selalu stand by untuk istri dan anak.
Berbagai pilihan sulit akan datang, tapi pastikan Daddies dan pasangan selalu mengkomunikasikannya agar lebih mudah menemukan jalan keluar.

Menjadi ayah bukan hanya soal kebahagiaan, tapi juga perubahan besar yang datang dalam waktu bersamaan. Kurang tidur, tanggung jawab baru, sampai kekhawatiran tentang masa depan keluarga adalah hal yang sangat mungkin Daddies rasakan, bahkan sejak masa kehamilan.
Menurut American Psychological Association (APA), “Menjadi orang tua dapat meningkatkan tingkat stres karena tanggung jawab baru dan kurang tidur.”
Kalimat ini mungkin terdengar sederhana, tapi cukup menggambarkan realita yang akan dihadapi. Stres itu bukan tanda Daddies tidak siap, tapi bagian dari proses menjadi orang tua.
Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana cara mengelolanya. Jangan sampai stres dipendam sendiri atau dilampiaskan ke pasangan tanpa disadari.
Daddies bisa mulai dari hal-hal kecil seperti menjaga rutinitas olahraga ringan, tetap punya waktu jeda untuk diri sendiri, atau membiasakan komunikasi terbuka dengan pasangan. Semakin terbiasa mengelola stres dari sekarang, semakin siap juga Daddies menghadapi dinamika setelah bayi lahir nanti.
Hubungan suami dan istri akan mengalami perubahan besar setelah kehadiran anak. Hal-hal yang sebelumnya terasa ringan bisa jadi lebih sensitif karena kelelahan, kurang tidur, atau perbedaan ekspektasi dalam mengasuh anak.
Menurut psikolog hubungan Dr. John Gottman, “Masa transisi menjadi orang tua adalah salah satu periode paling menantang dalam sebuah hubungan.”
Artinya, tantangan dalam hubungan itu bukan sesuatu yang aneh, justru sangat umum terjadi.
Di sinilah pentingnya komunikasi yang sehat. Mulai biasakan untuk ngobrol terbuka sejak sekarang, bukan hanya soal hal besar, tapi juga hal kecil seperti perasaan, kekhawatiran, atau kelelahan yang dirasakan.
Diskusikan juga pembagian peran setelah bayi lahir, supaya tidak ada ekspektasi yang berbeda di kemudian hari. Komunikasi yang baik bukan hanya mencegah konflik, tapi juga memperkuat hubungan Daddies dan pasangan di masa transisi ini.
Kalau dulu peran ayah sering dianggap sebatas pencari nafkah, sekarang perannya sudah jauh lebih luas. Kehadiran ayah dalam pengasuhan bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan.
Dikutip dari laman website UNICEF dikatakan bahwa, “Keterlibatan ayah memiliki dampak positif terhadap perkembangan anak.”
Artinya, semakin terlibat Daddies dalam pengasuhan, semakin besar dampak positifnya bagi perkembangan anak, baik secara emosional maupun kognitif.
Keterlibatan ini tidak harus selalu dalam bentuk hal besar. Justru hal-hal kecil seperti menggendong bayi, mengganti popok, menemani saat menangis, atau sekadar mengajak bicara punya pengaruh besar.
Selain itu, keterlibatan Daddies juga membantu meringankan beban pasangan. Ini bukan soal membantu ibu, tapi tentang menjadi partner yang setara dalam membesarkan anak.
Setelah melahirkan, perubahan yang dialami ibu tidak hanya fisik, tapi juga emosional. Sayangnya, hal ini sering kali tidak terlihat secara kasat mata dan mudah disalahartikan.
Menurut Postpartum Support International, “1 dari 5 perempuan mengalami depresi atau kecemasan setelah melahirkan.” Angka ini menunjukkan bahwa kondisi seperti baby blues, kecemasan, hingga depresi pasca melahirkan adalah hal yang cukup umum terjadi.
Karena itu, Daddies perlu lebih peka terhadap perubahan emosi pasangan. Jangan langsung menganggap pasangan “berubah” atau “terlalu sensitif”. Bisa jadi itu adalah bagian dari proses yang sedang ia alami.
Dukungan tidak harus selalu dalam bentuk solusi besar. Hal sederhana seperti mendengarkan tanpa menghakimi, membantu pekerjaan rumah, atau sekadar hadir secara emosional sudah sangat berarti.
Semakin Daddies memahami kondisi ini, semakin kuat juga kerja sama dalam menghadapi fase awal menjadi orang tua.
Ikatan antara ayah dan anak tidak terbentuk secara instan, tapi perlu dibangun sejak awal. Banyak yang mengira bonding hanya terjadi antara ibu dan bayi, padahal ayah juga punya peran penting dalam proses ini.
Menurut Harvard University Center on the Developing Child, “Interaksi yang responsif membantu membangun struktur otak yang kuat pada bayi.” Artinya, interaksi sederhana yang dilakukan secara konsisten bisa berdampak besar pada perkembangan otak bayi.
Daddies bisa mulai dari hal kecil seperti menggendong, mengajak bayi bicara, menatap matanya, atau merespons saat ia menangis. Hal-hal ini mungkin terlihat sepele, tapi justru menjadi fondasi penting dalam hubungan jangka panjang.
Selain itu, bonding juga membantu Daddies merasa lebih terhubung dengan peran barunya sebagai ayah. Semakin sering terlibat sejak awal, semakin kuat ikatan emosional yang terbentuk dengan si kecil.
BACA JUGA: 10 Tipe Ayah Saat Mengurusi Urusan Sekolah Anak, Daddies Tipe yang Mana?
Semangat, ya, Daddies!
Meskipun tidak selalu terlihat, persiapan yang matang akan sangat membantu Daddies menjalani peran sebagai ayah dengan lebih siap, baik secara fisik maupun mental.
Karena pada akhirnya, orang tua yang siap adalah kunci untuk membesarkan anak yang bahagia.
Ditulis oleh: Rachel Kaloh
Diperbarui oleh: Katharina Menge
Cover: Freepik