banner-detik
PARENTING & KIDS

Anak Dibandingkan di Depan Keluarga Besar, Harus Diam atau Bela? Ini Cara Sesuai Usia

Anak Dibandingkan di Depan Keluarga Besar, Harus Diam atau Bela? Ini Cara Sesuai Usia

Anak dibandingkan di depan keluarga besar? Haruskah diam atau bela? Ini cara menghadapinya sesuai usia anak tanpa merusak hubungan keluarga.

Situasi anak dibandingkan di depan keluarga besar pasti pernah terjadi saat kumpul keluarga. Ada saja komentar seperti, “Lho, anak saudara kamu sudah bisa baca.” “Kok dia belum bisa jadi juara kelas kayak sepupunya?” “Sudah remaja kok belum punya rencana yang jelas!”

Sekilas terdengar seperti komentar biasa. Tapi bagi anak yang dibandingkan, momen itu bisa terasa seperti dipermalukan. Apalagi kalau terjadi di depan banyak orang.

Lalu orang tua sering terjebak dalam dilema: harus diam demi menjaga suasana? Atau bela anak meski takut dianggap terlalu sensitif? Kalau anak dibanding-bandingkan di depan keluarga besar, jawabannya jelas: bela. Tapi dengan cara yang tepat, sesuai usia, dan ada waktunya.

BACA JUGA: Rumah Penuh Tamu Saat Lebaran? Lakukan 5 Hal Ini Biar Tak Kewalahan

Kenapa Membanding-bandingkan Anak Itu Berbahaya?

Foto: Freepik

Banyak orang masih percaya bahwa membandingkan anak bisa memotivasi. Namun apa kata pakar?

“Anggapan itu tidak benar. Membandingkan anak dengan pencapaian orang lain lebih banyak memberikan efek negatif seperti membuat anak merasa rendah diri dan tidak mampu, menumbuhkan rasa takut akan kegagalan, menumbuhkan rasa takut untuk mencoba hal baru, membuat anak merasa tidak pernah cukup. Semua itu bisa menjadi faktor risiko untuk anak mengalami stres berlebih, kecemasan, dan menimbulkan hubungan yang berkonflik atau ada rasa benci terhadap orang tua,” terang Nadya Pramesrani, M.Psi., Psikolog.

Dampak Jika Anak Dibanding-bandingkan

Ketika anak dibandingkan dengan orang lain, dampaknya tidak hanya sesaat.

“Ketika anak merasa dirinya dinilai berdasarkan ‘lebih atau kurang dari orang lain’ akan berpengaruh terhadap penurunan self esteem mereka dan bisa membuat anak merasa tidak cukup baik. Hal ini juga bisa jadi mengubah motivasi intrinsik yang mereka punya untuk belajar (seperti enjoyment atau sense of satisfaction) berubah menjadi eksternal, seperti ingin pembuktian diri atau sekadar ingin menjadi lebih dari orang lain,” ungkap Psikolog Nadya.

Diam atau Bela saat Anak Dibandingkan di Depan Keluarga Besar?

Apakah orang tua harus diam atau membela saat anak dibandingkan di depan keluarga besar?

Psikolog Nadya menyarankan untuk not necessarily “membela” karena jadi terkesan open konflik sekali dengan lingkungan luar atau pasif diam saja. Namun bisa mulai dari keluarga kecil kita, dibawa ke momen-momen keluarga besar untuk membiasakan bahwa bentuk interaksi itu bukan dengan membandingkan tapi dengan merayakan keberhasilan dan menanyakan kemajuan-kemajuan yang ada. Untuk selalu mengingatkan lingkungan bahwa tiap anak berkembang dengan temponya masing-masing, bahwa kita perlu melihat kekuatan dan kemampuan yang berbeda dari tiap anak dan merayakan keberhasilan yang mereka punya dibandingkan dengan diri mereka sendiri sebelumnya.

Celebrate all of their achievements tanpa embel-embel, “Si X udah bisa ini dong. Si Y udah bisa itu, dong.”

Cara Membela Anak Sesuai Usia

Jika Mommies dan Daddies ingin membela anak kalian yang kerap dibanding-bandingkan, ini tergantung tahap perkembangan anak. Berikut cara membela anak sesuai usia tanpa memicu drama keluarga besar.

Cara Membela Toddler (1–3 Tahun)

Meski belum sepenuhnya memahami isi kalimat, toddler sangat peka terhadap nada suara dan ekspresi orang tua.
Jika anak dibandingkan di depan keluarga besar:

  1. Jawab ringan tapi tegas: “Setiap anak berkembang sesuai waktunya.”
  2. Gunakan bahasa tubuh protektif: peluk, sentuh lembut, tatap penuh dukungan.
  3. Alihkan pembicaraan ke hal positif: “Sekarang dia lagi fokus belajar motorik kasarnya.”

Di usia ini, yang paling penting adalah memastikan anak tetap merasa aman, bukan membalas dengan komentar panjang.

Cara Membela Anak Usia SD (6–12 Tahun)

Anak usia sekolah sudah mengerti ketika dirinya dibandingkan dengan sepupu-sepupunya. Mereka bisa merasa malu, minder, bahkan mulai mempertanyakan kemampuan diri sendiri.

Jika anak dibandingkan:

  1. Tegas tapi sopan: “Kami lebih fokus ke proses belajarnya, bukan perbandingan.”
  2. Soroti kekuatannya: “Dia punya perkembangan yang berbeda dan kami bangga dengan itu.”
  3. Setelah acara, ajak bicara empat mata: “Tadi kamu nggak enak ya? Mama ngerti kok.”

Latih kalimat sederhana untuk membela diri seperti, “Aku lagi belajar dan menikmati prosesnya.” Di fase ini, orang tua bukan hanya membela. Tapi juga mengajarkan resilience.

Cara Membela Remaja

Remaja sangat sensitif terhadap harga diri, apalagi jika dibandingkan di depan umum. Jika anak remaja Mommies yang dibanding-bandingkan:

  1. Pasang batas yang jelas: “Kami kurang nyaman kalau anak kami dibanding-bandingkan.”
  2. Hindari menyerang balik atau menjatuhkan anak lain.
  3. Diskusi setelahnya: “Kamu tadi merasa apa? Kamu ingin Mama respon seperti apa lain kali?”
  4. Ajarkan sikap asertif: “Setiap orang punya timeline masing-masing.”

Di sini, orang tua sedang membantu remaja membangun identitas diri yang kuat.

Cara Membela Tanpa Merusak Hubungan Keluarga Besar

Kita tetap ingin menjaga hubungan baik dengan keluarga besar, kan? Jadi, Mommies bisa menggunakan prinsip ini:

  1. Gunakan kata “kami” bukan “Anda salah”
  2. Nada tenang, bukan defensif
  3. Fokus pada nilai, bukan menyerang

Contoh kalimat aman:

  • “Terima kasih masukannya, tapi kami percaya tiap anak unik.”
  • “Kami sedang menikmati proses tumbuh kembangnya.”

Sopan, tapi tetap jelas bahwa sebagai orang tua, kita tidak setuju dengan tindakan membanding-bandingkan anak.

Tips untuk Orang Dewasa yang Sering Membandingkan Anak

Foto: Freepik

Tidak bisa dipungkiri, membandingkan bisa terjadi begitu saja tanpa maksud membandingkan. Bahwa apa yang dilakukan/dicapai orang membuat kita jadi membandingkan dengan kita atau anak kita. Hal-hal biasa yang dilakukan oleh orang dewasa yang sadar atau tidak sadar jadi membandingkan:

  1. Kenali pemicunya. Nggak semua yang terlintas di pikiran itu perlu dikomunikasikan juga ke orang lain. Kalau tidak akan membawa manfaat baik buat orang lain sebaiknya disimpan saja.
  2. Ganti membanding-bandingkan dengan pertanyaan yang menggali dan supportif, seperti “Hal apa yang ingin kamu capai?”; “Lagi work in progress apa nih?”; “Bantuan apa yang lagi kamu butuhkan dari lingkungan?” “Tantangan seperti apa yang lagi kamu cari saat ini?”
  3. Celebrate accomplishments, no matter how small. Yang dilihat adalah bagaimana anak atau kita sendiri selalu bisa menjadi diri yang lebih baik dibanding sebelumnya “Untuk bisa melakukan nomor 3 ini, sebagai orang tua coba juga kita tracking progres yang ditunjukkan anak. Tidak hanya sebatas pada targetnya sudah tercapai atau belum, tapi progres yang ada selama ini ada apa saja.

Pada akhirnya, dunia akan selalu membandingkan. Sekolah membandingkan nilai, media sosial membandingkan pencapaian dan penampilan, bahkan keluarga besar kadang tanpa sadar ikut melakukannya.

Namun rumah harus menjadi tempat anak merasa cukup dan bahagia dengan dirinya, pencapaiannya. Saat anak dibandingkan, pilihan orang tua bukan sekadar diam atau bela. Itu tentang pesan apa yang ingin kita tanamkan:

“Aku aman.”, “Aku berharga.”, dan “Aku tidak perlu menjadi orang lain untuk dicintai.” Ketika orang tua berdiri membela dengan cara yang tepat dan sesuai usia, anak belajar satu hal penting: dirinya layak diperjuangkan.

Lebih dari sekadar soal sopan santun di depan keluarga besar, momen ketika anak dibandingkan sebenarnya adalah momen pembentukan karakter. Cara orang tua memilih untuk diam atau bela akan membentuk cara anak memandang dirinya sendiri di masa depan. Ketika pembelaan dilakukan dengan tenang dan sewajarnya, anak tidak hanya merasa dilindungi, ia juga belajar bagaimana menghargai dirinya tanpa harus merendahkan orang lain.

BACA JUGA: Anti-Drama, Ini 10 Cara Tetap Harmonis dengan Suami hingga Mertua saat Mudik Lebaran

Cover: Freepik

Share Article

author

Fannya Gita Alamanda

-

banner-detik

POPULAR ARTICLE

banner-detik
banner-detik

COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan