Anak Menolak Salaman dan Digendong saat Lebaran, Bolehkah Dipaksa? Ini Penjelasan Psikolog

Parenting & Kids

Katharina Menge・in 7 hours

detail-thumb

Anak menolak salaman atau digendong saat Lebaran? Bolehkah dipaksa? Ini dia penjelasan psikolog dan cara melatih social skills anak tanpa tekanan

Lebaran tinggal menghitung hari. Selain menyiapkan baju baru dan menu andalan, biasanya ada satu kekhawatiran yang nyempil di pikiran para Mommies: “Nanti kalau anakku nggak mau salaman sama Om dan Tante gimana, ya?” atau “Duh, kalau dia nangis pas mau digendong Nenek, nanti dikira nggak diajarin sopan santun lagi.”

Situasi anak menolak salaman saat Lebaran atau tidak mau digendong kerabat memang sering bikin kita sebagai orang tua merasa kikuk di depan keluarga besar. Namun, sebelum Mommies merasa stres atau mulai memberikan “instruksi keras” pada si kecil, mari kita bedah dulu dari sudut pandang perkembangan anak.

BACA JUGA: Anti-Drama, Ini 10 Cara Tetap Harmonis dengan Suami hingga Mertua saat Mudik Lebaran

Memahami Komunikasi Melalui Gestur Anak

Tahukah Mommies bahwa bagi anak-anak, menggunakan tubuh seperti tangan dan gerakan lengan adalah bentuk komunikasi non-verbal yang sangat krusial? Saat anak memberikan gestur, itu adalah cara mereka menunjukkan apa yang mereka maksud.

Ketika seorang anak menolak memberikan gestur (seperti salaman atau pelukan), itu bukan berarti mereka nakal. Bisa jadi, itu adalah sinyal bahwa mereka merasa tidak nyaman atau belum siap berbagi interaksi dengan orang tersebut. Mengingat si kecil baru berada di dunia ini selama beberapa bulan atau tahun, wajar jika mereka merasa kewalahan dengan keramaian acara keluarga.

“Beberapa anak mulai lebih aware terhadap lingkungan sejak usia 6 bulan. Menurut penelitian Brooker, kondisi ini akan lebih intens saat anak berusia 12–18 bulan dan berkurang ketika berusia 2–3 tahun,” jelas Nurul Annisa, M. Psi., Psikolog, yang berpraktik di SAUH (Sahabat Satu Hati), Jati Padang, Jakarta Selatan.

Alasan Anak Menolak Salaman atau Digendong

Foto: Freepik

Ini penjelasan Psikolog Nurul mengenai alasan anak tidak mau salaman atau digendong:

  • Rasa aman: anak masih belajar beradaptasi di lingkungan sekitar dan menumbuhkan rasa aman pada berbagai situasi di luar caregiver utama.
  • Temperamen: setiap anak punya temperamen yang berbeda, yaitu easy, slow to warm up, difficult. Tidak semua anak mudah merasa nyaman.
  • Perkembangan sensori: sensori anak baru mulai matang di usia 18–26 bulan, sehingga perubahan suasana yang ramai bisa terasa overwhelming.

Mengapa Memaksa Anak Bukan Solusi?

Sangat tidak disarankan untuk memaksa anak bersalaman, mencium tangan, apalagi membiarkan mereka digendong paksa saat mereka menunjukkan penolakan.

“Karena kondisi ini merupakan hal yang normal sebagai bagian dari perkembangan. Jadi fase ini akan dilewati. Dengan memahami dan memberikan stimulasi yang sesuai nanti akan bantu anak jadi lebih percaya diri,” terang Psikolog Nurul.

10 Cara Melatih Social Skills Anak

Alih-alih memaksa, yuk lakukan 10 langkah bijak berikut ini agar momen Lebaran tetap hangat tanpa drama:

1. Cairkan suasana yang canggung

Jika si kecil menolak salaman, jangan langsung memarahi atau merasa malu, Mommies. Validasi perasaan mereka. Mommies bisa mewakili si kecil untuk menyapa kerabat tersebut dengan ramah tanpa perlu membuat keributan. “Halo Tante, si kecil sepertinya masih malu-malu nih karena baru bangun tidur. Apa kabar Tante?” Setelah itu, segera ganti subjek pembicaraan dan move on.

2. Berikan opsi alternatif

Nanti saat sedang berdua saja di rumah, ajak si kecil bicara. Jelaskan bahwa mereka tidak harus melakukan kontak fisik jika tidak nyaman, tapi dorong mereka untuk memberikan bentuk sapaan lain. Psikolog Nurul menyarankan orang tua bisa mendiskusikan cara lain untuk menyapa, misalnya mengganti salaman dengan melambaikan tangan (dadah-dadah) dari samping ibu atau ayah, atau melakukan Hi-five.

3. Jadilah role model

Zaman sekarang, aturan etika kaku mungkin sudah mulai ditinggalkan, tapi keramahan dan kesantunan tetap abadi. Biarkan anak melihat Mommies menyapa dan menyambut orang lain dengan hangat. Anak adalah peniru yang hebat, mereka akan belajar dari apa yang Mommies lakukan, bukan apa yang Mommies perintahkan.

4. Ceritakan “alasan di baliknya”

Terkadang anak menolak karena mereka tidak mengerti kenapa mereka harus melakukan hal tersebut. Jelaskan dengan lembut: “Tahu nggak, Sayang, kalau kita menyapa dan menatap mata orang lain, itu tandanya kita senang melihat mereka dan ingin mereka merasa disambut.” Memahami alasan “kenapa” bisa membantu anak lebih mau melakukannya secara sukarela.

5. Belajar lewat buku cerita

Gunakan literatur anak yang berisi contoh-contoh pertemanan dan keramahan. Ini adalah cara yang menyenangkan dan tidak mengintimidasi untuk mengeksplorasi situasi yang menantang bagi mereka.

Foto: Freepik

6. Berikan pengingat lembut

Jika si kecil mulai terlihat ragu, berikan bisikan atau pengingat lembut untuk mendorong mereka berinteraksi. Namun, pastikan nada bicara Mommies tetap mendukung, bukan menekan.

7. Tetap tenang

Respons yang keras atau emosional dari orang tua hanya akan meningkatkan agresivitas anak, baik secara verbal maupun fisik. Dengan tetap tenang, Mommies sedang mencontohkan perilaku yang ingin Mommies lihat pada mereka.

8. Tunggu hingga “meltdown” selesai

Jangan mencoba menasihati atau mengajak anak berlogika saat mereka sedang menangis histeris. Tunggu sampai emosi mereka stabil, baru ajak bicara dari hati ke hati.

9. Ciptakan lingkungan yang suportif

Pastikan anggota keluarga inti (seperti Daddies) memiliki suara yang sama. Lingkungan yang bersatu dan suportif akan membuat anak merasa lebih aman dan tidak tertekan untuk berpartisipasi dalam interaksi sosial. Psikolog Nurul mengingatkan para orang tua untuk memberi penguatan. Yakinkan anak bahwa ayah dan ibu akan ada di sana, mendukung dan menemani. Jangan lupa memvalidasi emosi saat anak menunjukkan rasa cemas.

10. Persiapan dan beri pengertian

Banyak orang dewasa merasa gugup saat masuk ke situasi sosial yang tidak dikenal, apalagi anak-anak yang pengalaman hidupnya masih minim. “Sebelum berangkat ke acara Lebaran, lakukan briefing. Beri tahu anak di sana akan ramai, ada siapa saja, dan situasinya akan seperti apa,” saran Psikolog Nurul.

Hal yang Tidak Boleh Orang tua Lakukan

  • Memaksa: ini hanya akan membuat anak semakin cemas dan tidak memberikan ruang berkembang yang aman.
  • Labeling: seringkali respon orang dewasa adalah memberi label kondisi ini dengan sebutan “pemalu”, “takutan”, dan lain lain. Ini bisa menurunkan rasa percaya diri anak.
  • Mengabaikan perasaan anak: proses belajar selalu membutuhkan kehadiran orang tua.
  • Memarahi anak: tidak ada proses belajar untuk anak mengembangkan kemampuan adaptasi.

Kedepankan Empati

Mommies, menghadapi anak yang menolak salaman atau digendong butuh kesabaran ekstra. Dengan mendekati situasi ini lewat empati dan dukungan, kita sebenarnya sedang membantu mereka membangun rasa percaya diri di tengah keramaian.

Mommies dan Daddies juga bisa mengingatkan para orang dewasa lain yang hadir bahwa anak butuh waktu untuk merasa nyaman di situasi baru dan ini hal yang normal. Minta mereka untuk memberi waktu dan tidak mendekat secara berlebihan karena bisa membuat anak semakin tidak nyaman.

Ingat, kenyamanan dan batasan tubuh (body boundaries) anak jauh lebih penting daripada sekadar penilaian orang lain tentang kesopanan. Ketika anak merasa aman, perlahan mereka akan belajar untuk bersosialisasi dengan cara mereka sendiri yang paling nyaman.

BACA JUGA: 10 Pertanyaan Menyebalkan saat Lebaran yang Sering Muncul dan Cara Menjawabnya dengan Santai

Cover: Freepik