banner-detik
PARENTING & KIDS

Kelelahan Sensorik pada Anak: Kenali Gejala dan Solusi Bijak Menghadapinya

Kelelahan Sensorik pada Anak: Kenali Gejala dan Solusi Bijak Menghadapinya

Anak tiba-tiba rewel di keramaian? Kenali gejala kelelahan sensorik (sensory overload) pada anak, penyebab, dan cara menghadapinya menurut psikolog. 

Pernahkah Mommies merasa si kecil tiba-tiba menjadi sangat cemas, panik, rewel, atau bahkan agresif saat berada di lingkungan yang ramai? Mungkin di tengah acara ulang tahun yang penuh musik kencang atau saat berada di mal dengan lampu yang benderang, si kecil mendadak “meledak” tanpa alasan yang jelas.

Jika si kecil tampak sangat sensitif terhadap suara kencang, bau menyengat, tekstur baju yang kasar, hingga kerumunan orang, jangan buru-buru menyimpulkan ia sedang nakal atau sengaja caper. Bisa jadi, ia sedang mengalami kelelahan sensorik atau yang sering disebut dengan sensory overload.

Kondisi ini terjadi ketika otak anak menjadi kewalahan karena terlalu banyak input sensorik yang masuk secara berbarengan. Yuk, kita kenali lebih dalam gejala dan solusi bijak untuk menghadapinya!

BACA JUGA: Anak Susah Makan? Ini 12 Cara yang Bisa Orang Tua Lakukan

Apa Itu Kelelahan Sensorik pada Anak?

“Kelelahan sensorik adalah kondisi ketika otak anak merasa terlalu banyak menerima rangsangan dari lingkungan, sehingga menjadi kewalahan untuk memprosesnya (overwhelmed). Rangsangan ini bisa berupa suara, cahaya, sentuhan, bau, keramaian atau terlalu banyak aktivitas dalam waktu berdekatan. Ketika hal ini terjadi, sistem saraf anak seperti “overload”. Akibatnya anak bisa tampak mudah marah, menangis, menutup telinga, menghindari orang lain, menjadi sangat lelah atau justru terlihat sangat gelisah dan sulit mengontrol perilaku. Jadi ini bukan sekadar “rewel”, tetapi respons tubuh terhadap beban sensorik yang berlebihan,” terang Psikolog Klinis Anak dan Remaja, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., M.Psi. 

Psikolog Vera menambahkan, “Kelelahan sensorik umumnya lebih sering terlihat pada anak usia balita hingga usia SD (sekitar 2–10 tahun). Di usia ini, sistem regulasi diri anak belum matang sehingga mereka lebih mudah kewalahan jika lingkungan terlalu ramai, terlalu bising atau aktivitas terlalu padat.”

Foto: Tatiana Syrikova/Pexels

Gejala Kelelahan Sensorik pada Anak Berdasarkan Usia

Mommies perlu memperhatikan bahwa tanda-tanda anak yang kewalahan secara sensorik tidak selalu sama. Tergantung pada usia dan temperamennya. Berikut adalah beberapa tandanya:

1. Bayi baru lahir dan bayi

Karena belum bisa bicara, bayi biasanya menunjukkan ketidaknyamanan lewat bahasa tubuh:

  • Menangis terus-menerus dan sangat sulit ditenangkan.
  • Menendangkan kaki atau mengepalkan tangan dengan kencang.
  • Memalingkan wajah dari sumber rangsangan (seperti lampu terang atau suara musik).

2. Balita dan anak prasekolah

Di usia ini, kelelahan sensorik sering kali disalahartikan sebagai tantrum biasa:

  • Meltdown: ledakan emosi yang hebat, menangis histeris, hingga melempar diri ke lantai.
  • Shutdown: menjadi luar biasa diam, menolak berpartisipasi, atau tampak “kosong” karena otaknya sedang mencoba membatasi input sensorik.
  • Hiperaktif: berlari ke sana kemari atau bicara tanpa henti sebagai bentuk pelampasan energi saraf yang berlebih.
  • Clingy: menolak lepas dari sisi Mommies atau ingin terus digendong karena merasa tidak aman dengan lingkungannya.

3. Anak usia sekolah

Anak yang lebih besar mungkin menunjukkan gejala yang lebih halus namun tetap mengkhawatirkan:

  • Menjadi lebih kikuk, seperti sering menjatuhkan barang atau menumpahkan minuman.
  • Mudah marah, agresif, atau sangat sulit untuk fokus.
  • Mudah bosan, sulit melakukan hal sederhana yang biasanya sanggup mereka lakukan.
  • Mengeluh tentang hal sepele, seperti rasa makanan atau kerah baju yang terasa “aneh”.

BACA JUGA: 

Kelelahan Sensorik pada Anak dengan Autisme, SPD, dan ADHD

Menurut Psikolog Vera, secara umum pada anak dengan autis, sensory processing disorder atau SPD, dan ADHD mekanisme kelelahan sensorik bisa mirip, yaitu karena otak kesulitan memproses rangsangan yang terlalu banyak. Namun ekspresi gejala bisa berbeda pada setiap kondisi.

  • Autisme: anak biasanya sangat sensitif terhadap rangsangan tertentu, misalnya suara keras, tekstur pakaian atau cahaya. Saat kelelahan sensorik bisa muncul reaks meltdown/tantrum, menutup telinga atau menarik diri.
  • SPD (Sensory Processing Disorder): anak bisa sangat sensitif atau justru kurang sensitif terhadap rangsangan. Ketika overload, mereka bisa menjadi sangat tidak nyaman atau menunjukkan perilaku ekstrem seperti gelisah atau rewel ekstrem.
  • ADHD: anak lebih sering terlihat gelisah, impulsif atau sulit menenangkan diri ketika stimulasi lingkungan terlalu banyak.

Penyebab dan Pemicu Kelelahan Sensorik yang Perlu Diwaspadai

Mengapa panca indra si kecil bisa kewalahan? Memahami pemicunya dapat membantu Mommies meminimalkan dampaknya:

  1. Pemicu Visual: cahaya lampu neon yang terlalu terang, layar gadget yang berkedip, atau ruangan yang penuh dengan tumpukan barang.
  2. Pemicu Auditori: suara penyedot debu, pengering tangan di toilet umum, atau bahkan suara latar belakang kerumunan yang bagi si kecil terdengar sangat memekakkan telinga.
  3. Pemicu Taktil (sentuhan): label baju yang gatal, jahitan kaos kaki yang tidak nyaman, atau bahan pakaian tertentu yang terasa kasar di kulit mereka.
  4. Pemicu Penciuman: bau parfum yang kuat, aroma produk pembersih, hingga bau makanan tertentu yang bagi si kecil sangat menyengat dan mengganggu.
  5. Pemicu Gustatori (Rasa): ini berkaitan dengan rasa dan tekstur makanan. Beberapa anak mungkin ingin muntah saat merasakan tekstur makanan tertentu yang tidak bisa diterima sarafnya.

Kelelahan Sensorik pada Anak

Foto: cottonbro studio/Pexels

Cara Mengatasi Kelelahan Sensorik pada Anak

Menghadapi anak yang sedang alami sensory overload memang melelahkan secara mental bagi orang tua. Namun, yang paling penting untuk diingat adalah Mommies harus meregulasi diri sendiri dulu. Mommies akan jauh lebih membantu jika dalam kondisi tenang dan pikiran yang jernih. Berikut strategi untuk menenangkan si kecil di momen tersebut:

  1. Cari ruangan yang tenang: segera bawa si kecil menjauh dari keramaian. Cari area yang redup dan sepi agar sistem sarafnya bisa beristirahat.
  2. Kurangi stimulasi: redupkan lampu, matikan gadget, TV atau musik, dan tutup gorden. Berikan ketenangan yang mereka butuhkan.
  3. Berikan kenyamanan fisik: peluk si kecil dengan lembut, atau berikan barang favoritnya seperti boneka atau selimut yang memberikan rasa aman.
  4. Latihan pernapasan: ajarkan si kecil teknik napas dalam—tarik dan buang napas perlahan—untuk memberi sinyal pada otaknya agar kembali rileks.
  5. Aktivitas sensorik Ffkus: bermain dengan playdough atau pasir kinetik, meremas bola stres bisa membantu si kecil fokus pada satu sensasi sentuhan yang menenangkan.
  6. Camilan dan minuman: terkadang, menjaga kadar gula darah tetap stabil melalui camilan sehat atau air putih bisa membantu regulasi tubuh si kecil.

5 Hal yang Tidak Boleh Dilakukan Orang Tua saat Anak Kelelahan Sensorik

Ini lima hal yang tidak boleh dilakukan oleh orang tua ketika anak mengalami kelelahan sensorik dan cara mencegahnya menurut Psikolog Vera:

  • Ikut terpancing emosi
  • Memarahi atau menganggap anak “berlebihan”
  • Memaksa anak tetap berada di situasi yang terlalu ramai atau bising
  • Memberi terlalu banyak instruksi sekaligus
  • Menyuruh anak langsung “tenang” tanpa membantu regulasi emosinya

Tips Mencegah Kelelahan Sensorik pada Anak

  • Mengatur jadwal anak agar tidak terlalu padat aktivitasnya
  • Memberikan waktu istirahat di antara kegiatan
  • Mengenali tanda-tanda awal anak mulai kewalahan (misalnya mulai gelisah, mudah marah atau menutup telinga)
  • Menyediakan “safe space” atau tempat tenang di rumah untuk anak menenangkan diri
  • Mengajarkan anak cara mengenali perasaan tubuhnya, misalnya dengan menarik napas, berhenti sejenak atau mencari tempat yang lebih tenang

BACA JUGA: Sering Dikira Tantrum, Ini 5 Tanda Kelelahan Sosial pada Anak

Cover: Tatiana Syrikova/Pexels

Share Article

author

Fannya Gita Alamanda

-

banner-detik

POPULAR ARTICLE

banner-detik
banner-detik

COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan