Sorry, we couldn't find any article matching ''

Bukan Sekadar Film Anak, Ini 8 Pelajaran Parenting dari Pelangi di Mars
Tak hanya seru, film Pelangi di Mars juga menyimpan banyak pelajaran parenting tentang mimpi anak, kerja sama, dan keberanian menghadapi tantangan.
Film keluarga Indonesia kini semakin beragam, dan salah satu yang patut dinantikan adalah Pelangi di Mars. Bukan sekadar petualangan luar angkasa, film ini menyajikan cerita hangat tentang perjuangan seorang ibu, keberanian anak, hingga pentingnya dukungan dalam proses tumbuh kembang.

Disutradarai oleh Upie Guava dan diproduseri Dendi Reynando, film ini berkisah tentang Pelangi, seorang anak perempuan yang menjadi manusia pertama yang lahir dan tumbuh di Mars. Bersama para robot sahabatnya, ia menjalani petualangan mencari mineral langka yang diyakini dapat membantu menyelamatkan Bumi.
Di balik visual futuristiknya, film ini justru terasa sangat dekat dengan realita parenting sehari-hari, yaitu tentang membesarkan anak, melepas, dan percaya pada kemampuan mereka.
BACA JUGA:
8 Pelajaran Parenting dari Film Pelangi di Mars
Menariknya, di balik cerita petualangan film ini, ada banyak pelajaran parenting yang bisa Mommies ambil, lho.
1. Perjuangan ibu tidak selalu sempurna, tapi selalu berarti

Kisah dimulai dari Ibu Pratiwi yang harus menghadapi kehamilan dan membesarkan anak seorang diri di Mars, setelah tertinggal dari rombongan yang kembali ke Bumi.
Situasi ini menggambarkan realita banyak ibu, yaitu tidak selalu ideal, penuh keterbatasan, tapi tetap berjuang memberikan yang terbaik untuk anaknya. Pesan yang terasa kuat, yaitu anak tidak butuh orang tua yang sempurna, tapi yang hadir dan berusaha.
2. Ajarkan anak untuk berpikir dan menjawab sendiri
Ada satu momen menarik ketika robot Batik ingin membantu Pelangi menjawab pertanyaan, tetapi Ibu Pratiwi justru meminta Pelangi untuk menjawabnya sendiri.
Ini adalah bentuk parenting yang mendorong kemandirian berpikir. Sebagai orang tua, kadang kita refleks ingin langsung membantu atau memberi jawaban. Padahal, memberi ruang anak untuk mencoba menjawab sendiri bisa melatih kepercayaan diri dan kemampuan problem solving mereka.
3. Anak perlu dilatih menghadapi kehilangan dan perubahan
Momen saat Pelangi bermain petak umpet dan kemudian kehilangan ibunya karena serangan ke markas menjadi titik emosional penting dalam cerita.
Loncat ke enam tahun kemudian, Pelangi tumbuh menjadi anak yang lebih mandiri, meski harus menghadapi kenyataan pahit sejak kecil.
Ini mengingatkan bahwa hidup tidak selalu bisa kita kontrol untuk anak. Namun, kita bisa membekali mereka dengan ketahanan mental (resilience) sejak dini.
4. Dukungan lebih penting daripada sekadar bantuan
Dalam satu adegan, Sulil takut melompati jurang. Batik ingin langsung membantu, tapi Pelangi memilih untuk menunggu dan memberi semangat agar Sulil mencoba sendiri. Dan ketika Sulil berhasil, ia mendapat apresiasi.
Ini adalah contoh nyata bahwa tidak semua masalah anak harus kita selesaikan dan dukungan serta kepercayaan justru membuat anak lebih berani. Kadang, yang anak butuhkan bukan bantuan instan, tapi seseorang yang percaya bahwa mereka mampu.
5. Ajarkan anak untuk tidak menjatuhkan teman
Ada satu momen ketika Sulil kesulitan untuk melompati jurang, Petya sempat menganggapnya merepotkan. Namun Pelangi mengingatkan bahwa sebagai teman, mereka harus saling mendukung.
Nilai ini sederhana, tapi penting, terutama di masa anak mulai bersosialisasi. Mengajarkan empati sejak dini membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang tidak mudah menghakimi orang lain.
6. Kejujuran adalah fondasi hubungan

Konflik antara Pelangi, Batik, dan Petya banyak berkaitan dengan kebohongan, baik yang disengaja maupun karena kesalahpahaman.
Petya merasa dibohongi ketika di awal Pelangi tidak mengajaknya ikut serta dalam mencari Zeolit Omega, Pelangi juga sempat merasa dikhianati oleh Batik, hingga akhirnya hubungan mereka renggang.
Dari sini, anak bisa belajar bahwa kejujuran adalah dasar dari kepercayaan dan membangun sebuah hubungan.
7. Anak juga belajar memaafkan dan memahami
Saat Pelangi percaya pada Tante Mirna yang bisa membawanya pulang ke Bumi, ia sempat menjauh dari Batik. Kala itu dia juga dipengaruhi oleh sosok dewasa yang ternyata memiliki niat buruk. Namun pada akhirnya, Pelangi belajar melihat kebenaran dan memperbaiki hubungannya dengan Batik.
Ini menjadi pelajaran penting bahwa anak perlu dibimbing untuk tidak langsung menghakimi dan memaafkan adalah bagian dari proses tumbuh.
8. Setiap anak (dan “yang berbeda”) tetap berharga
Pelangi mengajak robot-robot yang dianggap “gagal” seperti Petya, Yoman, Sulil, dan Kimchi untuk ikut dalam petualangannya mencari Zeolit Omega. Alih-alih melihat kekurangan, Pelangi justru melihat potensi mereka.
Ini adalah refleksi penting bagi orang tua bahwa setiap anak punya keunikan, dan tugas kita adalah membantu mereka menemukan kekuatan tersebut, bukannya membandingkan.
Film Keluarga bisa Jadi Momen Bonding

Pelangi di Mars akan tayang di bioskop Indonesia mulai 18 Maret 2026, bertepatan dengan periode libur Lebaran, momen yang identik dengan waktu berkumpul bersama keluarga. Menonton film bersama anak bukan sekadar hiburan. Ini juga bisa menjadi kesempatan untuk berdiskusi tentang nilai-nilai kehidupan yang muncul dalam cerita.
Misalnya setelah menonton, Mommies bisa bertanya:
“Kalau kamu jadi Pelangi, apa yang akan kamu lakukan?”
“Menurut kamu, kenapa Pelangi tidak menyerah?”
Pertanyaan sederhana seperti ini bisa membuka percakapan yang bermakna dengan anak.
Film Pelangi di Mars menghadirkan kombinasi petualangan seru, visual futuristik, dan pesan yang menyentuh tentang mimpi serta keberanian anak. Kalau Mommies sedang mencari tontonan keluarga yang bukan hanya menghibur, tetapi juga bisa menjadi bahan obrolan tentang mimpi, persahabatan, dan masa depan, film ini bisa jadi pilihan menarik.
BACA JUGA:
Foto: Instagram/pelangidimars
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS