
Kumpul keluarga saat Lebaran itu menyenangkan. Tapi pertanyaan menyebalkan soal berat badan, gaji, hingga kapan punya anak bisa bikin risih. Ini cara menjawabnya!
Sebentar lagi kita akan merayakan Lebaran, dan biasanya kita akan berkumpul dan merayakan hari kemenangan bersama keluarga besar. Momen yang harusnya menyenangkan ini sering kali berubah jadi gak nyaman saat ada pertanyaan menyebalkan yang muncul.
Bingung jawabnya, tapi kalau kita diam saja juga bikin kesal, ya, Mommies. Apalagi kalau yang ditanyakan hal yang sensitif. Coba praktikkan cara menjawab yang diplomatis tapi tetap sopan dari beberapa pertanyaan menyebalkan yang sering muncul saat Lebaran di kumpul keluarga besar!
BACA JUGA: Checklist Rumah Aman saat Mudik: Tenang Selama Perjalanan!
Cara menjawab : “Wah, berarti saya berhasil menjaga pola makan. Mau tipsnya?”
Atau “Iya, saya emang lagi berusaha menjaga kesehatan dengan cara saya sendiri. Doakan, ya.”
Cara menjawab : “Oh, ya? Timbangannya sama aja kok, efek baju mungkin.”
Atau “Hehe… Mungkin efek Lebaran, ya. Happy banget, nih, soalnya.”
Cara menjawab : “Alhamdulillah masih dikasih kesempatan tinggal dekat orang tua, jadi bisa saling bantu dan jaga.”
Atau “Sekarang masih nyaman, sih, tinggal bareng keluarga, sambil lihat keadaan juga. Orang tua juga senang ditemenin sama kita.”
Cara menjawab : “Sekarang saya di bidang (sebutkan). Alhamdulillah, masih menikmati pekerjaannya (tidak perlu menyebutkan posisi atau gaji).”
Atau “Alhamdulillah, cukup untuk memenuhi kebutuhan dan tabungan, yang penting gak merepotkan orang lain.”

Selain pertanyaan sensitif soal diri sendiri atau pasangan, kita juga sering mendapatkan pertanyaan menyebalkan yang bikin risih seputar anak. Berikut beberapa pertanyaan yang sering muncul dan cara menjawabnya.
Cara menjawab : “Mohon doanya aja. Semoga Allah berikan yang terbaik di waktu yang paling tepat.”
Atau “Pelan-pelan aja, supaya kita semua lebih siap. Kan, yang ngejalanin juga kita. Yang penting semuanya sehat.”
Cara menjawab : “Dia memang butuh waktu untuk nyaman, nanti juga cair sendiri.”
Atau “Kepribadiannya memang lebih tenang. Gak apa-apa asal gak merugikan orang lain.”
Cara menjawab : “Maaf, ya. Dia sedang belajar tentang batasan tubuhnya. Jadi kalau belum nyaman dipeluk/dicium, kami ajarkan untuk menggantinya dengan cium tangan dan kami menghargai pilihannya.”
Atau “Dia memang butuh waktu dan proses. Nanti kalau sudah nyaman, biasanya akan mendekat sendiri.”
Cara menjawab : “Terima kasih, ya, masukannya. Kami juga berusaha membimbingnya terus agar bisa lebih beradaptasi dengan lingkungan sosial yang berbeda-beda.”
Atau “Maaf, ya. Anaknya energinya besar dan masih belajar meregulasi diri, sama seperti orang dewasa juga. Karena memang gak mudah dan butuh latihan.”
Cara menjawab : “Terima kasih, ya, perhatiannya. Kami juga berusaha menjaga kesehatannya, rutin konsul ke dokter anak, dan mengikuti arahannya.”
Atau “Kami fokus memastikan dia aktif dan sehat. Mudah-mudahan semua proses ikhtiar dimudahkan.”
Cara menjawab : “Dia memang masih belajar mandiri, kami juga membimbingnya perlahan sesuai dengan tahapan usianya.”
Atau “Kami berusaha menjalin koneksi sehat dengan anak, mungkin sekilas jadi terlihat manja dalam prosesnya.”

Cara menjawab : “Buat kami, yang penting adalah proses belajar, penanaman karakter dan tumbuh kembangnya. Kalau nilai, sih, bonus aja.”
Atau “Alhamdulilah bersyukur dengan semua proses tumbuh kembang dia sesuai kemampuannya. Guru-guru di sekolah juga kasih feedback yang positif.”
Cara menjawab : “Kami pilih berdasarkan kebutuhan anak dan kesesuaian dengan value keluarga, bukan hanya masalah harganya.”
Atau “Cukup banyak, sih, pertimbangannya waktu pilih sekolah itu. Alhamdulilah kami cukup nyaman dengan pilihan kami.”
Cara menjawab : “Semuanya sesuai waktu masing-masing; kita tetap mengstimulasi anak sesuai dengan usianya.”
Atau “Kami mengikuti ritme belajar anak dan arahan gurunya. Untuk sekarang kami bersyukur dengan progres dan tumbuh kembangnya.”
Cara menjawab : “Terima kasih, ya, sarannya. Saat ini kami observasi dulu apa yang menjadi minatnya, agar jika mengambil les juga lebih optimal dan efektif, gak buang-buang uang dan waktu.”
Atau “Kami pelan-pelan memilih kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas anak, supaya dia tetap enjoy dan hasilnya baik.”
Cara menjawab : “Masya Allah hebat, ya. Setiap anak memang punya kelebihan masing-masing yang perlu dihargai.”
Atau “Ikut senang dengarnya. Kalau saya dan pasangan, lebih nyaman untuk fokus pada perkembangan masing-masing anak, gak membandingkan dengan anak lain.”
BACA JUGA: Tips Mudik bareng Anak Sesuai Usia, dari Bayi hingga Remaja
Penting untuk diingat agar tetap tenang, usahakan gak terpancing emosi, jawab dengan singkat tapi tetap sopan dan terapkan batasan. Gak perlu menjelaskan semua dengan detail. Dan jika masih ada pertanyaan menyebalkan yang diulang-ulang, alihkan topik pembicaraan, misalnya “ngomong-ngomong, udah coba rendangnya belum? Enak banget lho”.
Semoga kumpul Lebaran bersama keluarga jadi less drama dan lebih menyenangkan, ya, Mommies!
Cover: RDNE Stock project/Pexels