Sorry, we couldn't find any article matching ''

Kanker Payudara yang Tak Terdeteksi Dini: Kesalahan yang Terus Kusesali
Kisah reflektif tentang kanker payudara yang terlambat terdeteksi. Sebuah penyesalan, kehilangan, dan pelajaran tentang deteksi dini kanker payudara pada orang terdekat.
Botol kecil aromaterapi warna ungu berukuran 8,5 cm yang kupegang itu mengingatkanku pada kejadian itu. Saat-saat aku menemui dan menemani Ibu untuk terakhir kali. Tak terasa mata basah. Kali ini bukan karena lelah, tetapi kenangan yang membuat merasa bersalah.
Faktor jarak membuatku dan keluarga jarang bertemu orangtua. Suami yang bermutasi dari Pulau Sumatra ke Jawa seharusnya menjadikan kami semakin dekat (meskipun kami tetap beda kota). Namun, ternyata kesibukan tidak memunginkan kami sering berjumpa ibu yang sudah 11 tahun menderita stroke.
Aku ingat saat mengunjungi Ibuku waktu itu, aku diminta memeriksa payudaranya. Waktu itu kami sekeluarga sudah bersiap-siap akan kembali pulang ke Surabaya. Aku memang pernah belajar di jurusan keperawatan. Wanita berusia 60 tahun itu lebih percaya padaku bila terkait kesehatan.
Aku terperanjat saat mempalpasi bagian dadanya, ada massa teraba keras pada diameter yang cukup lebar. Beberapa bulan sebelumnya saat aku merabanya, benjolan itu masih sangat kecil dan dokter mengatakan tidak apa-apa. Rasa bersalah datang, mengapa aku jarang mengunjungi dan tidak memeriksanya lagi.
Besoknya, Ibu ke rumah sakit ditemani Bapak dan Adik. Dokter mengatakan agar dilakukan biopsi. Beberapa hari kemudian hasil keluar. Ibu terkena kanker payudara stadium 3B.
Selama 1 tahun, Ibu menjalani kemoterapi berkali-kali, operasi, dan radioterapi. Menjelang akhir tahun, luka pasca pembedahan tiba-tiba basah, bernanah, dan berdarah. Ibu juga batuk tak kunjung henti, menyebabkannya susah makan dan sulit bicara. Beberapa kali Ibu keluar masuk rumah sakit karena kanker tumbuh lagi dan sudah menyebar ke paru-paru.

Foto: Freepik
Aku memutuskan untuk pulang. Fokus untuk menemui dan merawat Ibu. Aku berkomunikasi dengan suami untuk mengambil cuti dan menjaga anak-anak selama aku menemani wanita yang telah melahirkanku itu. Aku merasa itu adalah kesempatan terakhirku.
Selama menjaga Ibu, aku harus selalu menggunakan masker untuk menjaganya tetap steril. Ibu tak pernah melihat seluruh wajahku hingga akhir, ini termasuk salah satu hal yang kusesalkan. Setiap batuk, Ibu selalu minta aku mengoleskan minyak aromaterapi di bagian leher dan perut. Itu membuatnya nyaman sehingga bisa tidur meski sebentar.
Setelah hampir seminggu, kami harus kembali. Di Surabaya, aku terngiang-ngiang sakit yang Ibu rasakan. Perasaanku tidak enak saat Bapak menelpon dan mengatakan Ibu masuk rumah sakit lagi.
Aku putuskan untuk ikhlas. Entah mengapa aku mengepak baju-baju ke dalam koper besar. Perasaanku benar. Saat subuh, Bapak memberitahu bahwa Ibu sudah mengembuskan napas terakhir.
Dalam perjalanan pulang, hinggap rasa bersalah dan menyalahkan lagi. Namun, bukankah aku sudah ikhlas menerima segala kesalahan diri dan orang lain?
Sesampai di rumah, kupandang wajah Ibu untuk terakhir kali. Wanita yang punya sifat bawaan suka memendam perasaan itu terlihat cantik. Segala rasa sakit di tubuhnya telah melayang.
Waktu tak mungkin kembali. Aku perlu menerima diri sendiri atas rasa bersalah yang hinggap. Ikhlas adalah kata indah untuk melukiskannya. Mengikhlaskan kesalahan dan belajar merefleksikannya jadi caraku untuk mengelola perasaan itu.
BACA JUGA: Saat Gelas Pecah Menjadi Titik Balik Saya sebagai Ibu
Foto: Freepik
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS