banner-detik
#MOMMIESWORKINGIT

6 Kesalahan Ibu Bekerja selama Ramadan, Bikin Burnout dan Stres!

6 Kesalahan Ibu Bekerja selama Ramadan, Bikin Burnout dan Stres!

Sering lelah dan gampang marah saat puasa? Simak 6 kesalahan ibu bekerja di bulan Ramadan yang bikin fisik dan mental drop, plus tips mengatasinya.

Ramadan adalah momen yang dinanti untuk meningkatkan spiritualitas dan mendekatkan diri kepada sang Pencipta. Namun, mari kita jujur. Bagi seorang ibu bekerja (working mom), Ramadan juga berarti tantangan manajemen waktu yang berlipat ganda.

Perubahan rutinitas, mulai dari bangun sahur, menyiapkan menu berbuka, hingga urusan kantor yang tetap berjalan, sering kali membuat sistem tubuh kita terasa “kaget”. Devika Mankani, seorang psikolog dari The Hundred Wellness Centre di Dubai, memberikan perspektif yang menenangkan. Menurutnya, pola pikir yang paling membantu adalah menyadari bahwa minggu pertama Ramadan merupakan masa penyesuaian.

“Sistem tubuh Anda sedang beradaptasi, bukan sedang rusak,” ungkap Devika. Ia menambahkan bahwa ketika kita berekspektasi minggu-minggu awal akan terasa berbeda, kita cenderung tidak akan terlalu keras mengkritik diri sendiri saat merasa lelah atau tidak produktif seperti biasanya.

Sayangnya, tanpa sadar kita sering melakukan kesalahan-kesalahan kecil yang justru membuat kondisi fisik dan mental makin drop. Apa saja kesalahan tersebut?

Yuk, kita bedah satu per satu agar Ramadan tahun ini terasa lebih damai.

BACA JUGA: Puasa Tetap Produktif, Ini 13 Tips Mengatur Waktu Tidur untuk Ibu Bekerja

6 Kesalahan Ibu Bekerja yang Bikin Mental dan Fisik “Drop”

Menjadi ibu bekerja di bulan puasa memang menantang, namun sering kali beban itu terasa berat karena kesalahan kita sendiri dalam mengatur prioritas:

Foto: Anna Tarazevich/Pexels

1. Terlalu Banyak Berkomitmen (Overcommitting)

Banyak working moms merasa tertekan untuk mengelola semua tanggung jawab seperti pekerjaan kantor dan urusan rumah dengan standar yang sama tingginya. Kita ingin tetap produktif 100% di kantor, tapi juga ingin menyajikan 5 jenis takjil setiap sore. Ambisi ini sering berujung pada burnout dan kelelahan kronis.

2. Mengisolasi Diri dan Merasa Kesepian

Karena energi yang terbatas, banyak ibu memilih menarik diri dari aktivitas sosial atau komunitas. Fokus hanya pada pekerjaan dan rumah tangga tanpa adanya interaksi yang bermakna bisa memicu perasaan terisolasi. Padahal, dukungan sosial adalah “bahan bakar” emosi yang penting.

3. Mengabaikan Perawatan Diri (Self-Care)

Di tengah tuntutan menyiapkan sahur dan berbuka, kesehatan pribadi sering dinomor-duakan. Kita lupa bahwa tubuh adalah amanah dari Tuhan. Melewatkan waktu istirahat sejenak atau mengabaikan asupan nutrisi pribadi hanya akan memperparah stres emosional.

4. Gagal Memprioritaskan Tidur

Pola tidur yang berantakan karena harus bangun dini hari dan tidur larut setelah Tarawih sering kali dianggap biasa. Padahal, kurang tidur adalah pemicu utama iritabilitas (gampang marah) dan rendahnya level energi di siang hari.

5. Rasa Bersalah dan Mengkritik Diri (Guilt and Self-Criticism)

Mommies sering mematok standar yang terlalu tinggi untuk diri sendiri. Saat merasa tidak bertenaga atau produktif, muncul rasa bersalah. Kritik diri ini sangat merusak kesejahteraan mental dan membuat kita tidak bisa menikmati ibadah dengan tenang.

6. Mengabaikan Kesehatan Mental

Stres menyeimbangkan pekerjaan, keluarga, dan komitmen ibadah bisa sangat melelahkan. Menganggap remeh rasa cemas atau kewalahan emosional hanya akan membuat kita sulit menjalani tuntutan Ramadan dengan optimal.

Foto: Tima Miroshnichenko/Pexels

8 Tips Agar Working Mom Tetap Fit dan Berenergi Selama Ramadan

Tenang, Mommies tidak sendirian. Berikut adalah beberapa langkah praktis agar tetap tenang dan menikmati indahnya Ramadan meski jadwal padat:

1. Menjadi Lebih Terorganisir

Di bulan puasa, keseimbangan antara sisi profesional dan spiritual adalah kunci. Buatlah jadwal harian yang realistis dan cobalah untuk mematuhinya. Sisihkan waktu khusus untuk berdoa, menyelesaikan pekerjaan kantor, urusan rumah, hingga menemani anak belajar. Tanpa jadwal, waktu kita akan habis “dimakan” oleh kebingungan memilih mana yang harus dikerjakan duluan.

2. Persiapan adalah Segalanya

Persiapan yang matang akan membantu konsentrasi Mommies tetap terjaga meski sedang berpuasa. Karena jam kerja mungkin lebih singkat dan anak-anak pun pulang sekolah lebih awal, koordinasi adalah segalanya. Hindari menunda-nunda pekerjaan. Gunakan waktu luang untuk menyicil apa yang bisa disiapkan sejak awal.

3. Gunakan Trik Memasak yang Cerdas

Mommies tidak perlu menghabiskan seluruh waktu di dapur untuk menghasilkan menu berbuka yang lezat. Jika sedang sangat sibuk, tidak masalah menyajikan makanan beku seperti bakso atau frozen food yang bergizi. Menyiapkan bumbu dasar di akhir pekan untuk stok satu minggu juga akan sangat menyelamatkan fisik dan mental Mommies dari kelelahan di dapur.

4. Atur Jadwal dengan Logika

Prioritaskan tugas dalam urutan yang logis. Jika Mommies harus menyiapkan makanan buka puasa, kurangi waktu untuk menonton televisi atau bermain media sosial yang bisa menyedot waktu tanpa sadar. Tuliskan daftar tugas dan tempel di tempat yang bisa dilihat anggota keluarga lain, agar mereka juga tahu apa yang bisa mereka bantu.

5. Berhenti Menjadi Supermom: Belajarlah Mendelegasikan Tugas

Ini poin penting, Mommies! Pelajari cara mendelegasikan tanggung jawab. Apakah ada tugas kantor yang bisa dibantu rekan kerja agar Mommies bisa pulang sedikit lebih awal? Di rumah, mintalah suami untuk membantu pekerjaan domestik, dan berikan tugas kecil pada anak-anak. Jangan takut untuk meminta bantuan pihak ketiga atau sanak saudara jika Mommies butuh waktu lebih untuk fokus beribadah.

6. Ciptakan Waktu Berkualitas untuk Keluarga

Momen berbuka puasa adalah kesempatan indah untuk membangun koneksi dengan orang-orang tercinta. Atur jam kerja sedemikian rupa agar Mommies punya waktu untuk benar-benar “hadir” saat berbuka. Ingat, keluarga yang bahagia adalah keluarga yang menghabiskan waktu berkualitas bersama-sama.

7. Tetapkan Tenggat Waktu yang Masuk Akal

Jangan membuat komitmen deadline pekerjaan yang Mommies sendiri tidak yakin bisa memenuhinya. Berkomunikasilah dengan atasan bahwa di bulan ini, Mommies butuh sedikit penyesuaian jadwal agar tetap bisa menjaga performa profesional sekaligus komitmen pribadi. Tetap kuat dan jujur pada kapasitas diri adalah kunci menjaga keseimbangan karier dan kehidupan pribadi.

8. Prioritaskan Self-Care sebagai Bentuk Ibadah

Menjaga diri sendiri bukan hanya untuk kebaikan ibu bekerja, tapi juga merupakan bentuk tanggung jawab kepada Tuhan. Dengan istirahat yang cukup dan makan makanan bergizi, Mommies sedang menghormati tubuh yang telah Tuhan titipkan.

Devika Mankani kembali menekankan pentingnya self-compassion (welas asih pada diri sendiri). “Kasih sayang pada diri sendiri menunjukkan pengurangan stres, kecemasan, dan gejala depresi yang signifikan,” jelasnya. Dalam kehidupan nyata, ini berarti kita harus berhenti menggunakan aturan “semua atau tidak sama sekali”. Belajarlah untuk berbicara lebih lembut pada diri sendiri dan pilih konsistensi daripada intensitas yang berlebihan.

BACA JUGA: 9 Ide Outfit Hijab Ibu Bekerja yang Profesional: Smart Casual dan Modis!

Mommies, Ramadan bukan tentang menjadi sempurna, tapi tentang menjadi tulus. Kekuatan dan iman kita akan terasa lebih kuat di akhir bulan jika kita menjalaninya dengan penuh kesadaran dan kelembutan terhadap diri sendiri. Jangan biarkan kesalahan-kesalahan di atas mengurangi kebahagiaan Mommies dalam beribadah.

Jadi, dari 6 kesalahan ibu bekerja tadi, mana yang paling sering Mommies lakukan tanpa sadar? Yuk, mulai perbaiki perlahan agar Ramadan kali ini terasa lebih berkah, sehat, dan tentu saja, membahagiakan bagi seluruh keluarga.

Cover: Resume Genius/Pexels

Share Article

author

Fannya Gita Alamanda

-


COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan