Sorry, we couldn't find any article matching ''

Kenapa Anak Remaja Sering Punya Permintaan yang Aneh-Aneh?
Ketika anak remaja tiba-tiba punya permintaan aneh, seperti mau pelihara ular, apa yang sebaiknya dilakukan orangtua? Kisah ini jadi refleksi orang tua.
Anak perempuan saya dulu rasanya permintaannya seperti anak perempuan lainnya: boneka, baju princess, dan semua benda berwarna pink. Tapi ketika anak saya memasuki usia remaja, di usianya yang ke-14, dia tiba-tiba minta ular. Ya, ular!
Kami, orang tuanya, tentu bingung dan, jujur saja, dada ini rasanya sesak. Lagi-lagi harus berkonflik dan harus berkata tidak.
“Tidak ya, Ka! Mama nggak akan izinkan pelihara ular di rumah ini. Apa-apaan sih?”
Tapi dia gigih. Dengan sabar, dia mencoba meyakinkan kami bahwa ular yang mau dibelinya di marketplace (iya, beli hewan di toko online!) adalah ular yang jinak dan manis.
“Perawatannya gampang banget, Ma. Makannya cuma seminggu sekali. Aku janji aku yang urus dan bersihin.”
Saya bertanya, “Memang makannya apa?”
Dia menjawab, “Tikus beku, Ma. Kan ada kulkas daging di dapur.”
Ya ampun. Rasanya makin ingin marah.
Saya menolak lagi. “Yang benar saja kamu, Ka. Masa kulkas tempat daging kita digabung sama tikus beku? Pokoknya nggak usah pelihara ular!”
Begitulah, perdebatan itu berlangsung hampir sebulan. Tapi tanpa sadar, kami jadi lebih sering ngobrol—tentu saja tentang ular.
Hingga suatu hari, kami mencapai kesepakatan. Ia boleh memelihara ular, asal makanannya bayi tikus hidup yang dipesan online setiap hari Minggu. Dia juga yang bertanggung jawab memberi makan, membersihkan kandang, serta merawatnya.
Akhirnya saya menyerah.
![]()
Foto: Freepik
Tibalah hari itu, ular pertama kami datang ke rumah. Sesuai janjinya, sejak itu si Kakak berubah. Dari yang biasanya di kamar terus main handphone, kini ia rajin naik-turun tangga ke lantai tiga untuk mengurus ularnya. Ia yang biasanya pelupa, kini selalu ingat mengingatkan saya membeli tikus setiap Sabtu sore.
Statusnya di media sosial pun berubah. Tidak lagi status galau, kini menjadi foto ular kesayangannya yang bernama “Gosong” (karena warnanya hitam). Cerita-cerita pun mengalir dari Kakak. Salah satunya tentang alasan ia ingin memelihara ular karena hewan itu “tidak biasa”. Tidak seperti teman-temannya yang memelihara anjing, kucing, atau kelinci. Jadilah ular ini bahan pembicaraan hangat di antara mereka.
Namun di hari kedua ular itu di rumah, tragedi terjadi: ularnya hilang.
Dengan wajah pucat dan bibir gemetar, ia menghampiri saya. “Ma, maaf, ya… ularnya hilang.”
Saya sedang rapat online saat itu. Rasanya ingin meledak, tapi saya menarik napas panjang dan berkata, “Ya sudah, cari dulu keliling rumah. Sampai ketemu, ya.”
Saya jadi ingat beberapa menit sebelumnya melihat sepatu berjatuhan dari rak. Di situ saya merasa ular turun ke lantai satu. Benar saja. Entah kenapa, saat selesai Zoom, saya menoleh ke belakang dan di sanalah ular itu, melingkar di sela rak buku. Rupanya dari tadi dia menemani saya rapat!
Saya berteriak memanggil anak-anak, dan si Kakak segera mengamankannya.
Tak lama kemudian, ia kembali mendekati saya dan berkata, “Makasih, ya, Ma. Aku kira Mama bakal slap me in the face.” (Lebay banget, mana pernah saya memukulnya.)
Wajahnya bahagia, matanya berbinar. Sejak hari itu, ia lebih sering tersenyum pada saya, sesuatu yang sebelumnya terasa langka. Kami jadi lebih sering ngobrol, lebih dekat.
Untung saja saya tidak menunda ikut kelas tentang pengasuhan remaja dari Keluarga Kita. Saya jadi paham bahwa mereka memang sedang berada di fase “lebay”, lebih peduli pada pendapat teman, dan butuh ruang untuk merasa dipercaya. Saat ia gigih mempresentasikan alasan memelihara ular, ternyata ia sedang menunjukkan dirinya yang “kutahu yang kumau” dan berani memperjuangkannya.
Akhirnya, saya mengerti: ini bukan tentang ular. Ini tentang bagaimana saya belajar menemani anak tumbuh menjadi remaja yang mandiri dan percaya diri.
Kadang memang butuh pengorbanan, seperti rumah berisi ular dan tikus, biaya, dan segala keribetannya. Tapi semua itu sepadan dengan senyum dan balasan obrolan si remaja kepada kami.
BACA JUGA: Saat Gelas Pecah Menjadi Titik Balik Saya sebagai Ibu
Cover: Freepik
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS