banner-detik
SELF

Bisa Bawa Sial, Ini 15 Hal yang Tidak Boleh Dilakukan Saat Tahun Baru Imlek

author

Sisca Christinain 5 hours

Bisa Bawa Sial, Ini 15 Hal yang Tidak Boleh Dilakukan Saat Tahun Baru Imlek

Supaya perayaan Imlek penuh sukacita, kesehatan, kesejahteraan, dan keberuntungan; cobalah untuk memperhatikan pantangan Tahun Baru Imlek berikut.

Tahun Baru Imlek adalah salah satu momen yang paling dinanti-nanti oleh masyarakat Tionghoa. Di Indonesia sendiri, Imlek ditetapkan sebagai libur nasional sejak 2002, dan sejak 2003 semarak perayaan Imlek secara nasional dimulai.

Dalam tradisi Tionghoa, Tahun Baru Imlek bukan sekadar pergantian kalender, tetapi juga momen sakral yang sarat akan nilai budaya dan sejarah. Di masyarakat Tiongkok kuno, Tahun Baru Imlek dirayakan sebagai tanda berakhirnya musim dingin dan dimulainya musim tanam yang baru.

Di era modern, tradisi Imlek terus dipertahankan dan dimaknai sebagai awal yang baru, harapan baru, rezeki dan keberuntungan yang lebih baik di tahun yang akan datang. Pada umumnya, Imlek dirayakan dengan kumpul keluarga dilengkapi dengan makan bersama, bagi-bagi angpao dan saling mendoakan.

Untuk menjaga keberuntungan saat merayakan Imlek, ada beberapa pantangan yang perlu dihindari karena dipercaya bisa membawa sial. Biasanya ini berkaitan dengan hal-hal seperti kesedihan, duka, kemiskinan, sakit-penyakit, dan sejenisnya.

Baca juga: Prediksi Shio di Tahun Kuda Api 2026, Siapa Panen Hoki dan Siapa Harus Waspada

15 Pantangan Saat Tahun Baru Imlek

1. Mengucapkan kata-kata tabu

Hal pertama yang pantang dilakukan saat Imlek yaitu mengucapkan kata atau kalimat bermakna negatif.  Misalnya: pecah, kehabisan, kematian, hantu, pembunuhan, penyakit, rasa sakit, kehilangan, dan kemiskinan. Semua kata-kata ini harus diganti dengan eufemisme selama seluruh perayaan Festival Musim Semi. Misalnya, jika ingin mengatakan ”seseorang meninggal” dapat diganti dengan ”seseorang telah pergi.”

2. Sarapan bubur di pagi hari

tahun baru imlek

Foto: Image by freepik

Bubur sebaiknya tidak dikonsumsi untuk sarapan saat Imlek. Di masa lalu, orang miskin hanya mampu membeli bubur nasi, sehingga bubur mencerminkan kehidupan yang sulit. Biasanya makan pangsit sebagai makanan pertama Tahun Baru lebih disarankan.

3. Potong rambut

Hindari memotong rambut selama bulan lunar pertama, karena itu menandakan kematian paman (saudara laki-laki ibu). Jadi tidak boleh dilakukan karena bisa membawa sial.

4. Menyapu dan membuang sampah

Menyapu rumah dipercaya sebagai menyapu rezeki ke luar rumah. Sementara membuang sampah juga dianggap sebagai membuang keburuntungan. Jika mendesak, maka harus menyapu dari luar ke dalam rumah, karena diibaratkan pengumpulan uang. Selain itu, menuang air ke luar juga harus dihindari, karena air yang mengalir menunjukkan pergerakan uang; jadi uang dianggap meninggalkan rumah.

5. Mencuci pakaian

Dua hari pertama Tahun Baru Imlek dianggap sebagai hari kelahiran Dewa Air. Jadi, mencuci pakaian pada dua hari tersebut dianggap tidak menghormati dewa.

6. Menunjungi rumah sakit

Kecuali darurat, dianjurkan untuk tidak pergi ke dokter atau berkunjung ke rumah sakit selama Imlek. Karena, ini dipercaya akan membawa penyakit sepanjang tahun.

7. Memecahkan benda

Jangan memecahkan mangkuk, piring, gelas, vas, atau cermin, karena dianggap dapat mengakibatkan kehilangan uang dan perpecahan keluarga di masa depan. Jika tak sengaja, pecahannya harus dikumpulkan dan dibungkus dengan kertas atau kain merah, lalu ditaburkan pada hari kelima Tahun Baru. Cara lain adalah dengan mengucapkan, “Sui Sui Ping An,” yang berarti aman dan sehat setiap tahun. Pelafalan karakter Tionghoa Tahun (岁 Sui) dan Pecah (碎 Sui) sama, sehingga orang menggunakan homofon tersebut untuk mengusir nasib buruk.

8. Meminjam dan memberi pinjaman

Jangan meminjam atau memberi pinjaman apa pun, terutama uang, pada saat Imlek. Meminjamkan uang dimaknai sebagai kerugian ekonomi, sehingga dianggap pertanda buruk. Menagih utang juga merupakan pantangan di Tahun Baru Imlek.

9. Menggunakan benda-benda tajam

Foto: Image by freepik

Menggunting, memotong, atau menggunakan jarum dan menjahit dipercaya dapat menimbulkan pertengkaran atau perselisihan dengan orang lain. Jika ingin menjalani tahun ini dengan damai, hindari menggunakan gunting selama bulan lunar pertama.

10. Berpakaian lusuh atau memakai baju hitam atau putih

Memakai baju lusuh atau kotor melambangkan kemiskinan dan kemalangan. Sementara, berpakaian hitam atau putih sering diasosiasikan dengan suasana berkabung. Kenakanlah pakaian warna merah atau emas yang dipercaya melambangkan keberuntungan, kemakmuran, dan kebahagiaan.

11. Menangis

Tangisan dianggap sebagai pertanda kemalangan yang dapat membawa nasib buruk bagi seluruh keluarga. Hindari juga pertengkaran, berkata-kata dengan kasar karena bisa membawa sial. Jagalah perilaku agar suasana tetap hangat, penuh senyum dan ucapan baik.

12. Membangunkan orang yang tidur

Hindari membangunkan orang lain yang sedang tidur pada hari pertama Festival Musim Semi. Sebab, orang yang dibangunkan akan terdorong untuk bekerja sepanjang tahun, mengalami kelelahan dan gugup.

13. Tidur siang

Sebaliknya, hindari juga tidur siang saat Imlek, karena dipercaya akan menjadi malas sepanjang tahun Selain itu, ketika ada tamu pada hari itu, tidak sopan jika tuan rumah sedang tidur.

14. Anak perempuan yang sudah menikah pulang ke rumah

Wanita yang sudah menikah disarankan untuk tidak mengunjungi orang tuanya sendiri pada hari pertama Tahun Baru. Jika dilakukan, dikhawatirkan orang tua mereka akan kemalangan atau kesulitan ekonomi.

15. Tempat beras kosong

Tempat beras menunjukkan standar hidup masyarakat. Jika kosong, menandakan akan ada beberapa hari kelaparan. Jadi, isilah tempat beras hingga penuh sebelum Malam Tahun Baru.

Pantangan-pantangan di atas sebetulnya bukan hal yang harus ditakuti. Namun, nilai yang ingin dimaknai selama merayakan tahun diri yaitu untuk mendekatkan diri pada hal-hal yang kesehatan, kesejahteraan, kebersihan, kerukunan dan keberuntungan, serta menjauhkan diri dari hal-hal yang sebaliknya.

Gong Xi Fa Cai!

Baca juga: 40 Restoran Chinese Food Legendaris di Indonesia: Dari Jakarta hingga Kalimantan

Cover: Image by pressfoto on Freepik

Share Article

author

Sisca Christina

Ibu dua anak yang berprofesi sebagai digital nomad, yang juga suka menulis. Punya prinsip: antara mengasuh anak, bekerja dan melakukan hobi, harus seimbang.


COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan