Saat Gelas Pecah Menjadi Titik Balik Saya sebagai Ibu

Parenting & Kids

Keluarga Kita・in 3 hours

detail-thumb

Sebuah kisah reflektif tentang momen gelas pecah yang mengubah cara seorang ibu mencintai anaknya, dari tuntutan kesempurnaan menuju koneksi dan empati.

“Praaaaang!!!!!”
Jam 7 malam, suara yang terdengar itu sudah seperti alarm bencana di telinga saya. Gelas kristal berisi susu di tangan mungil anak saya terlepas dari genggamannya. Pecahan kaca dan susu mengotori lantai yang baru saja saya pel beberapa menit lalu.

Mata saya melotot, suara meninggi, dan tanduk seolah keluar dari kepala saya. “Ini bisa, nggak, ya, lebih hati-hati, gitu?! Baru aja di pel, kok, udah dikotorin aja, sih!” Desahan frustrasi super panjang saya membuat bahu kecilnya terkulai lesu.

Saya adalah Ibu ‘serba benar dan selalu ingin menjadi sempurna’. Mulai dari rumah yang harus rapi, anak harus jadi penurut, dan jadwal harus presisi. Apakah saya mencintai anak saya? Ya, tentu saja. Namun cinta ini seolah terbungkus rapat dalam standardisasi dan ekspektasi yang tinggi. Jujur saja hal-hal seperti ini membuat saya kelelahan kronis. Saya hanya fokus pada lantai yang kotor karena tumpahan susu dan pecahan kaca yang berserak-serakan di lantai, bukan pada tangan kecilnya yang mungkin gemetar karena kaget.

Malam itu, setelah drama gelas pecah (untuk yang kesekian kalinya), saya melihatnya tertidur sambil memeluk boneka kesayangannya. Ada bekas air mata kering di pipinya dan hati saya tertegun. Inikah cinta yang ingin kuberikan pada seorang anak, titipan dan amanah Sang Maha Pencipta? Cinta yang penuh syarat seperti ini? Sejak itu saya teringat saat pertama kali bergabung dengan Rangkul (Relawan Keluarga Kita), “Kita nggak sendirian”. Saya skeptis. Apa yang bisa diajarkan orang lain tentang anak saya?

Namun waktu itu saya lebih putus asa daripada skeptis. Akhirnya saya putuskan untuk membaca modul dan ikut pelatihan online dan berdiskusi bersama teman-teman sesama Rangkul. Saya mengikuti sesi Rangkul dan belajar istilah-istilah baru dalam prinsip cinta: Cari cara, Ingat impian tinggi, Nerima tanpa drama, Tidak takut salah, dan Asyik bermain bersama. Susah? Luar biasa.

Berkali-kali saya ‘kambuh’. Saat mainan berserakan dilantai sangat berantakan, mulut saya gatal seolah sudah siap ingin berteriak. Saat anak menolak, saya ingin sekali memaksa. Namun saya terus mencoba. Saya menggigit lidah, menarik napas, dan mencoba kalimat baru: “Bunda perhatikan, kakak sedang kesal, ya?” alih-alih, “Jangan marah-marah!”

Foto: Freepik

Lalu, datanglah momen sederhana itu. Sepulang sekolah, anak saya membanting tasnya dan bilang “Aku benci sekolah!” sambil berteriak. Diri saya yang lama akan langsung menceramahinya tentang rasa syukur. Kali ini saya berbisik sambil mengingatkan diri sendiri: koneksi sebelum koreksi. Saya duduk di sebelahnya. Namun, diam. Lama sekali. Lalu bertanya “Hmmmm, coba Bunda mau nebak, nih, ya, kayaknya ada yang bikin kakak marah di sekolah, ya?”

Dia menatap saya penuh curiga. Tiba-tiba air matanya mengalir membasahi pipinya dan dia menceritakan teman yang mengejeknya terus-terusan, sedang gurunya tidak melihatnya. Saya tidak menawarkan solusi. Saya juga tidak menyalahkannya sama sekali. Saya hanya mendengarkan, dan di akhir ceritanya, saya memeluknya dengan erat. “Terima kasih, kakak sudah cerita sama Bunda,” kata saya.

Malam itu, tidak ada yang berubah di dunia. Namun segalanya berubah di rumah kami.

Dan di pagi ini sebuah gelas pecah lagi. Kali ini gelas jus. Wajahnya membeku, menatap saya, seperti sedang menunggu ‘badai’ datang, dan tanduk di kepala saya segera keluar. Saya berjalan perlahan menghampirinya, meringkuk di antara genangan lantai yang lengket itu, sambil memegang dan menatap wajahnya. “Kamu nggak apa-apa, kan? Ada yang kena pecahan gelasnya?” Dia menggelengkan kepalanya pelan, matanya tampak masih terkejut. “Yuk, kita bersihkan bareng-bareng. Kakak ambil lap, sementara Bunda ambil sapu, ya.”

Rumah saya mungkin tidak serapi dulu. Namun rumah saya kini jauh lebih hangat. Saya menulis ini bukan karena saya sudah jadi ibu sempurna. Jauh dari itu. Saya menulis ini karena saya berhenti mencoba menjadi sempurna. Saya memilih menjadi ‘utuh’. Belajar mencintai lebih baik itu butuh ilmu, butuh latihan, dan yang terpenting, butuh komunitas agar kita tidak merasa sendirian. Bagi saya, Rangkul adalah tempatnya. Jika kita sering merasa lelah di penghujung hari, merasa gagal karena rumah berantakan atau anak yang sulit diatur, mungkin ini saatnya kamu tidak hanya merangkul anakmu tapi juga meRANGKUL bantuan.

*RANGKUL (Relawan Keluarga Kita)

BACA JUGA: Bisa Bikin Anak Trauma, Ketahui 9 Dampak Memarahi Anak!

Cover: Freepik