
Pengantin baru, bingung pilih posisi seks yang nyaman dan nggak sakit? Yuk, simak panduan dan posisi yang paling direkomendasikan di sini.
Apa, sih, yang paling ditunggu-tunggu pasutri baru? Selain sah menyebut satu sama lain “suami” dan “istri”, tentu saja malam pertama. Momen ini sering dibayangkan sebagai saat yang romantis, intim, dan… deg-degan.
Tenang, para pasutri baru. Malam pertama nggak mesti langsung jago, apalagi langsung coba semua posisi seks yang ada di internet. Selalu utamakan rasa nyaman, aman, dan terhubung secara emosional. Dari situlah kenikmatan dan bahkan mencapai klimaks bersama bisa pelan-pelan dibangun.
Menurut terapis seks dan pernikahan Pat Love, Ed.D., fase awal pernikahan memang dipenuhi euforia. Ia menjelaskan bahwa kegembiraan menikah memicu pelepasan dopamin, zat kimia di otak yang bikin mood bahagia sekaligus meningkatkan gairah seksual. Dan posisi seks bagi para pasutri baru bukan sekadar tentang variasi gaya, tapi bagian dari proses saling mengenal, menyesuaikan ritme, dan membangun keintiman jangka panjang.
BACA JUGA: Istri Menolak Ajakan Berhubungan Seks? Ini 9 Sikap Suami yang Bijak
Psikolog sekaligus profesor di American University, Barry McCarthy, Ph.D., menekankan bahwa tantangan pasangan baru adalah menyeimbangkan rasa aman dengan unsur gairah.
“Hubungan seksual yang sehat berperan sekitar 15–20 persen dalam memberi energi pada pernikahan. Tapi ketika seks menjadi masalah, dampak negatifnya bisa terasa jauh lebih besar,” ujarnya. Karena itu, jangan mengecilkan manfaat seks. Memilih posisi seks yang mudah dan tidak sakit sangat penting, terutama di fase awal pernikahan.
Bagi pengantin baru, posisi seks sebaiknya dipilih berdasarkan rasa nyaman, kesiapan tubuh, dan kedekatan emosional, bukan karena ingin “membuktikan” apa pun. Tidak semua posisi harus dicoba di malam pertama. Justru, menikmati proses pelan-pelan akan membuat pengalaman intim terasa lebih menyenangkan.

Suami dan istri berbaring menyamping dengan tubuh saling menempel. Kontak kulit yang luas membuat tubuh terasa lebih rileks dan aman. Gerakannya lembut dan tidak terlalu dalam, sehingga cocok untuk malam pertama atau saat istri masih beradaptasi. Posisi ini juga membantu membangun rasa intim tanpa tekanan.
Misionaris adalah posisi paling umum dan sering menjadi pilihan aman bagi pengantin baru. Posisi ini memungkinkan kontak mata, sentuhan wajah, dan komunikasi verbal selama berhubungan. Selain mudah dilakukan, posisi ini membantu pasangan merasa terhubung secara emosional dan fisik.
Dalam posisi ini, istri berada di atas sehingga bisa mengontrol ritme dan kedalaman gerakan. Bagi banyak pasutri baru, posisi ini terasa lebih aman karena istri dapat menyesuaikan gerakan sesuai kenyamanan tubuhnya. Cocok dicoba sejak awal jika istri merasa siap dan percaya diri.
Lotus dilakukan dengan posisi duduk saling berhadapan dan tubuh saling menempel. Gerakannya cenderung pelan, sehingga fokus utamanya bukan penetrasi, melainkan kedekatan emosional, pelukan, dan ciuman. Posisi ini cocok untuk momen ketika pasangan ingin merasa dekat dan terhubung secara batin.
Masih termasuk variasi woman on top, posisi ini memberi ruang eksplorasi sudut yang berbeda tanpa harus terburu-buru. Gerakan bisa disesuaikan sepenuhnya dengan kenyamanan istri. Cocok dicoba setelah pasangan mulai memahami ritme dan respons tubuh masing-masing.
Pada posisi ini, istri berbaring di tepi tempat tidur sementara suami berada di depan. Posisi ini relatif stabil dan tidak membutuhkan banyak tenaga. Banyak pasangan merasa posisi ini cukup nyaman karena memberi ruang gerak yang fleksibel tanpa membuat tubuh cepat lelah.
Flatiron dilakukan dengan posisi tengkurap, sehingga seluruh tubuh mendapat dukungan dari kasur. Dibandingkan doggy style biasa, posisi ini terasa lebih lembut dan intim. Cocok dicoba setelah pasangan merasa lebih rileks dan tidak lagi tegang saat berhubungan intim.
Posisi berdiri membutuhkan keseimbangan dan koordinasi. Karena itu, sebaiknya dicoba ketika pasangan sudah saling memahami ritme tubuh. Menggunakan sandaran seperti meja atau kursi dapat membantu menjaga kenyamanan dan keamanan.
The Waterfall merupakan variasi dari woman on top dengan sensasi yang berbeda. Karena posisinya cukup unik, pasangan disarankan mencobanya setelah hubungan seksual terasa lebih santai dan menyenangkan. Lakukan perlahan dan tetap berkomunikasi.
Posisi ini melibatkan koordinasi dan keseimbangan dari kedua pasangan. Tidak perlu dilakukan dengan sempurna. Anggap saja sebagai eksperimen ringan yang bisa dicoba ketika pasangan sudah lebih terbuka dan tidak lagi canggung satu sama lain.
BACA JUGA: Malu tapi Penting: Obrolan Seks yang Perlu Dibahas Calon Pengantin dan Pengantin Baru
Buat pengantin baru, eksplorasi seks sebaiknya dilakukan dengan satu prinsip utama: pelan-pelan tapi konsisten. Jangan merasa harus langsung “sempurna”. Seks dalam pernikahan adalah proses belajar bersama, bukan ajang unjuk kemampuan.
Sebelum bicara soal posisi seks apa yang ingin dicoba, pastikan komunikasi antara suami dan istri berjalan terbuka. Ungkapkan apa yang terasa nyaman, bagian mana yang masih canggung, atau posisi apa yang ingin dicoba pelan-pelan.
Mencoba posisi baru memang seru, tapi tidak semua posisi cocok untuk semua pasangan. Kalau suatu posisi terasa tidak nyaman atau menimbulkan rasa sakit, tidak ada kewajiban untuk memaksakan diri. Penting untuk saling peka terhadap respons tubuh masing-masing.

Banyak pengantin baru merasa tertekan karena ingin cepat mencapai klimaks bersama. Padahal, seks bukan hanya soal orgasme. Sentuhan, pelukan, ciuman, dan kontak mata adalah bagian penting dari keintiman.
Barry McCarthy, Ph.D., menjelaskan bahwa eksplorasi sentuhan tanpa target orgasme membantu pasangan memahami tubuh dan kebutuhan satu sama lain. Kedekatan emosional dan rasa nyaman ini justru membuat hubungan seksual terasa lebih memuaskan dalam jangka panjang.
Perlu diingat, bahkan pada pasangan yang sangat bahagia sekalipun, tidak semua sesi seks berjalan sempurna. Ada kalanya tubuh lelah, pikiran terdistraksi, atau suasana kurang mendukung. Itu bukan tanda ada masalah besar dalam pernikahan, itu hanya bagian dari kehidupan nyata.
Menurunkan ekspektasi “harus selalu luar biasa” justru membuat pasangan lebih rileks dan menikmati momen kebersamaan.
Di tengah rutinitas harian, seks singkat alias quickie sering kali dianggap kurang ideal. Padahal, momen intim singkat tetap bisa menjaga koneksi emosional dan fisik pasangan. Quickie membantu pasangan tetap merasa dekat, dicintai, dan diinginkan, meski waktu sedang terbatas.
Tertawa, bercanda, atau momen canggung justru sering membuat pengalaman seksual terasa lebih hangat dan manusiawi. Ketika suasana fun tercipta, pasangan jadi lebih berani mencoba hal baru tanpa takut “gagal”.
Sedikit usaha ekstra bisa membuat suasana kamar tidur terasa berbeda. Menyalakan lilin, menggunakan massage oil, sex toys, atau kostum seks (lingerie cosplay) bisa meningkatkan gairah dan keintiman.
BACA JUGA: 7 Cara Seks Kilat dan Anti Berisik saat Rumah Ramai oleh Keluarga
Cover: cottonbro studio/Pexels