
Merasa kebutuhan emosional diabaikan dalam pernikahan? Kenali dan ketahui cara menghadapi emotional neglect dari pasangan.
Pernikahan tidak selalu retak karena pertengkaran besar atau konflik yang meledak-ledak. Justru, salah satu masalah paling sunyi namun paling menyakitkan dalam pernikahan adalah emotional neglect atau pengabaian emosional. Tidak ada teriakan, tidak ada drama besar, yang ada justru jarak yang makin terasa, meski secara fisik masih tinggal di rumah yang sama.
Emotional neglect dalam pernikahan sering muncul perlahan. Awalnya hanya obrolan yang semakin singkat, respons yang makin datar, atau perhatian yang terasa setengah hati. Lama-kelamaan, koneksi emosional memudar, keintiman berkurang, dan rasa didukung oleh pasangan pun menghilang.
Menurut Dr. K, psikolog berlisensi dan terapis bersertifikasi Gottman, dampak emosional dari keterputusan ini sering kali tidak disadari karena bukan tentang apa yang terjadi, melainkan tentang apa yang tidak terjadi. Yang hilang adalah empati, perhatian, dan momen-momen kecil untuk saling terhubung. Padahal, justru hal-hal kecil inilah yang menjaga pernikahan tetap hangat.
BACA JUGA: 13 Kesalahan Komunikasi Pasangan Baru, Bisa Bikin Pernikahan Gagal!
Secara sederhana, emotional neglect (yang juga kerap disebut emotional negligence) adalah kondisi ketika kebutuhan emosional seseorang diabaikan secara konsisten. Sarah O’Leary, terapis pernikahan dan keluarga, menjelaskan bahwa emotional neglect terjadi saat kebutuhan keterikatan emosional seseorang tidak diperhatikan atau dianggap tidak penting.
Akibatnya, pasangan sulit merasa aman secara emosional. Hubungan pun kehilangan rasa nyaman, kedekatan, dan kepercayaan. Lebih jauh lagi, kondisi ini tidak hanya memengaruhi kualitas pernikahan, tetapi juga kesehatan mental dan fisik individu yang mengalaminya.
Dalam konteks pernikahan, emotional neglect muncul ketika salah satu pasangan gagal menyadari, merespons, dan hadir untuk kebutuhan emosional pasangannya. Perasaan kesepian, tidak dihargai, bahkan tidak berharga bisa muncul meski status masih “menikah”.
Psikolog Sherrie Sims Allen menambahkan bahwa pengabaian emosional bisa terjadi ketika seseorang menahan dirinya baik secara emosional, mental, fisik, bahkan spiritual. Entah karena memang tidak pernah belajar cara hadir secara emosional, atau secara sadar menutup ruang intim bagi pasangannya. Perlahan tapi pasti, koneksi dalam pernikahan pun terkikis.
Life coach Jaclyn Hunt juga menekankan bahwa emotional neglect sering luput dikenali karena tidak kasat mata seperti kekerasan fisik. Bahkan, dalam banyak kasus, pengabaian ini terjadi tanpa disengaja karena pasangan yang melakukan tidak menyadari kebutuhan emosional pasangannya.

Secara teknis, ya, pernikahan bisa saja terus berjalan. Namun, tanpa koneksi emosional, hubungan tersebut jarang terasa sehat atau membahagiakan. Koneksi emosional adalah “lem” yang menyatukan pasangan: membangun keintiman, rasa aman, dan kebersamaan.
Tanpa ikatan ini, pernikahan terasa dingin, penuh jarak, dan sering diselimuti kesepian. Dalam jangka panjang, kurangnya koneksi emosional meningkatkan risiko konflik, komunikasi yang buruk, hingga perceraian. Jadi meski pernikahan mungkin bertahan di atas kertas, secara emosional hubungan tersebut perlahan akan runtuh.
Emotional neglect tidak muncul begitu saja. Ada banyak faktor yang bisa memicunya, di antaranya:
Individu yang tumbuh dengan pengabaian emosional cenderung kesulitan membangun kedekatan saat dewasa. Pola lama ini tanpa sadar terbawa ke dalam pernikahan.
Pekerjaan, tanggung jawab mengasuh anak, dan masalah keuangan sering menguras energi emosional. Akibatnya, koneksi dengan pasangan jadi terabaikan.
Perbedaan cara mengekspresikan emosi bisa menciptakan jarak jika suami dan istri tidak mau belajar saling memahami.
Jika sejak kecil emosi dianggap tidak penting, seseorang akan kesulitan hadir secara emosional untuk pasangannya.
Masalah yang dipendam membuat pasangan memilih menarik diri demi menghindari pertengkaran.
Rutinitas dan kesibukan harian bisa membuat pasangan lupa merawat kedekatan mereka.

Pengabaian emosional sering kali terasa “kecil” dan mudah dianggap sepele. Tidak ada bentakan, tidak ada pertengkaran hebat, bahkan dari luar pernikahan terlihat baik-baik saja. Namun justru karena sifatnya yang sunyi inilah, emotional neglect bisa meninggalkan luka yang dalam dan berkepanjangan. Berikut beberapa contoh yang sering terjadi dalam pernikahan sehari-hari:
Jika beberapa hal ini terasa familiar, bisa jadi emotional neglect sedang terjadi.
Membangun kembali koneksi emosional memang membutuhkan waktu, kesabaran, dan komitmen dari kedua belah pihak. Proses ini nggak instan, tetapi perubahan kecil yang konsisten sering kali membawa dampak besar dalam jangka panjang. Kabar baiknya, emotional neglect bukan akhir dari segalanya. Penyembuhan dimulai dari langkah kecil yang konsisten.
Pilih waktu ketika suasana sedang tenang dan tidak terburu-buru. Sampaikan perasaan tanpa menyalahkan, misalnya dengan kalimat, “Aku merasa sendirian akhir-akhir ini dan aku rindu kedekatan kita.” Pendekatan ini membantu pasangan mendengar tanpa merasa diserang.
Sering kali pasangan tidak membutuhkan nasihat atau jawaban cepat, melainkan didengarkan dengan penuh perhatian. Kontak mata, bahasa tubuh yang terbuka, dan respons empatik bisa membuat pasangan merasa aman secara emosional.
Koneksi emosional tidak selalu lahir dari percakapan panjang. Lima hingga sepuluh menit obrolan tanpa distraksi, tanpa ponsel, tanpa multitasking, sudah cukup untuk membangun kembali rasa kedekatan.
Ucapan terima kasih atas hal-hal sederhana, seperti usaha pasangan di rumah atau dukungan kecil yang diberikan, dapat menghangatkan kembali hubungan. Apresiasi membantu pasangan merasa dilihat dan dihargai.
Orang berubah seiring waktu. Apa yang dulu membuat pasangan merasa dicintai belum tentu masih sama sekarang. Bertanya, mendengarkan, dan terbuka pada perubahan membantu memperbarui koneksi emosional.
Jika komunikasi terasa buntu atau luka emosional terlalu dalam, konselor pernikahan dapat menjadi pihak netral yang membantu membuka dialog sehat. Terapi bukan tanda kegagalan, melainkan bentuk kepedulian terhadap hubungan.
BACA JUGA: Attachment Style dalam Pernikahan, Tipe Manakah Kamu?
Emotional neglect dalam pernikahan tidak harus berujung pada perpisahan. Banyak pasangan justru menemukan kedekatan yang lebih dewasa setelah melalui masa terjadinya jarak emosional ini. Dengan kesadaran, kejujuran, dan usaha bersama, pernikahan bisa kembali menjadi ruang aman untuk tumbuh dan saling terhubung.
Cover: Gustavo Fring/Pexels