
Slow TV yang berciri tempo lambat, suara lebih pelan, visual dan warna yang lebih kalem bisa menjadi pilihan tontonan yang lebih ramah anak.
Tumbuh di era digital, anak-anak di zaman sekarang tak lepas dari paparan layar dengan segudang pilihan tayangan penuh warna, suara keras dan tempo cepat (active TV). Dari tontonan yang notabene edukatif, hingga video pendek beberapa detik saja yang di-scroll terus-terusan, membuat anak terstimulasi secara berlebihan. Stimulasi yang berlebihan ini bisa berdampak pada perilaku anak seperti mudah bosan, sulit fokus, lebih rewel, sulit mengekspresikan perasaan dengan kata-kata, mudah marah hingga kelelahan.
Cara menyiasati agar anak tak terkena dampak buruk paparan layar gadget yaitu dengan membuat aturan waktu layar (screen time), termasuk durasi dan pilihan tontonan yang lebih ramah buat anak-anak, salah satunya slow TV.
Slow TV adalah konten video dengan visual yang menenangkan, bertempo lambat dan konsisten, minim dialog dan minim konflik. Contohnya: video pemandangan alam, proses sederhana seperti ikang berenang, hujan turun dan kereta berjalan atau kegiatan sehari-hari yang direkam secara kontinyu tanpa banyak potongan gambar (footage) dan transisi. Berbeda dengan tayangan anak yang serba cepat (banyak dan cepat berganti adegan) dan penuh suara yang kebanyakan ditujukan sebagai hiburan, slow TV memberi ruang bagi otak anak untuk mengamati, mencerna dan bernafas.
Ciri tayangan slow TV yaitu temponya lambat, musiknya tenang dan nggak berisik, dan ada nilai moral atau edukasi yang bisa dipelajari anak-anak.
Menurut psikolog, tayangan dengan stimulasi lambat dapat membantu anak lebih fokus memahami isi pesan tanpa overstimulasi.
Baca juga: Orang Tua Bisa Blokir YouTube Shorts untuk Anak, Ini Caranya!
Menurut Jamie Krenn, PhD, seorang dosen bidang ilmu perkembangan kognitif dan media di Sarah Lawrence seperti dilansir dari situs Parent.com, slow TV dapat bermanfaat bagi perkembangan atensi anak hingga membantu meregulasi emosi anak. Karena, tayangan jenis ini umumnya menggambarkan tema-tema tentang kebaikan, kerja sama, hidup bermasyarakat dengan warna dan suara yang tidak terlalu menyolok. Tambahnya lagi, slow TV juga dapat mengajak anak untuk menumbuhkan sikap empati, memecahkan masalah dan persahabatan.
Berikut ini beberapa manfaat slow TV bagi anak-anak.
1. Memperkuat rentang atensi mereka
Menurut Zishan Khan, M.D., seorang psikiater, “Tayangan slow TV dapat membantu dalam meningkatkan regulasi emosi dan rentang perhatian,” katanya. Acara-acara yang termasuk dalam kategori tayangan lambat memberi ruang bagi anak-anak untuk memproses apa yang mereka tonton, dan mencerminkan jenis kecepatan dan komunikasi seperti di kehidupan nyata yang dialami anak-anak di dunia sekitar mereka.
2. Membawa energi yang lebih tenang ke rumah

Tontonan bertempo lambat sangat cocok untuk saat-saat ketika anak membutuhkan istirahat mental. Misalnya setelah menghadapi hari yang berat atau menantang, atau selama transisi ketika anak yang lebih kecil mungkin tidur siang.
“Acara seperti ini dapat menawarkan bentuk kesadaran diri dan membantu anak-anak untuk rileks,” kata Dr. Khan.
3. Mengembangkan keterampilan seperti komunikasi dan pemecahan masalah
Gaya acara ini mendorong perkembangan verbal dan keterampilan bahasa ekspresif, koordinasi motorik, dan melibatkan perhatian mereka daripada menarik perhatian melalui rangkaian aksi yang mencolok dan transisi cepat.
Namun, jangan senang dulu. Terlepas dari manfaat dan kebaikan tayangan slow TV dibanding tayangan active TV, tetap ada risikonya, terutama jika penggunaannya tidak diatur.
Menurut psikolog, meskipun lambat, tetap saja itu tetap screen time. Jadi, orang tua tetap wajib memberi batasan durasi menonton kepada anak-anak; dan ini tidak boleh menggantikan waktu aktif anak-anak yang disertai interaksi sosial (bermain).
Selain itu, anak-anak tetap membutuhkan dampingan orang tua saat menonton agar anak-anak tidak menjadi penonton pasif dan kemudian menghambat inisiatif mereka.
Slow TV juga tak selalu cocok untuk setiap anak. Anak yang tipe aktif mungkin malah bosan diberikan tontonan lambat, lalu mencari stimulasi lain seperti lompat-lompat atau tantrum. Sebaliknya, ”Tayangan TV aktif terkadang lebih membantu bagi anak-anak yang butuh stimulasi tinggi atau mengalami keterlambatan perkembangan atau berada dalam spektrum autisme,” kata Dr. Khan.
Jika mommies ingin beralih ke slow TV, berikut rekomendasinya:
Sebagai informasi saja, tayangan seperti Sesame Street, Unyil dan Blue’s Clues tidak termasuk di dalam kategori slow TV murni.
Baca juga: Nostalgia, Ini 8 Permainan Jadul yang Melatih Fisik dan Sosial Anak
Cover: Puffin Rock dari YouTube