
Nggak cuma asal main, tapi juga bisa melatih fisik dan sosial anak dengan rekomendasi permainan jadul yang bikin Mommies ikutan nostalgia.
Mommies, mari sejenak kita tarik napas dalam-dalam dan pejamkan mata. Bayangkan sebuah sore di tahun 1980 dan awal tahun 1990-an, sekitar pukul empat. Matahari sudah tidak terlalu terik, dan aroma tanah kering yang tersiram air keran dari halaman rumah tetangga mulai tercium. Tanpa perlu janji temu melalui grup WhatsApp atau mengirim lokasi via Google Maps, kita semua tahu di mana pusat semesta berada: lapangan komplek atau gang depan rumah.
Saya masih ingat betul rasanya menjadi anak kecil di era 80-an dan 90-an. Hiburan kami bukan layar sentuh berukuran 6 inci, melainkan bentangan alam dan interaksi nyata. Rutinitas saya dulu sangat sederhana namun penuh petualangan, meskipun sering menjadi “anak bawang’ mengingat tubuh saya yang kecil mungil saat itu.
Pulang sekolah, buru-buru ganti baju, makan siang, tidur satu jam, bangun karena kaget (tapi sumringah) karena ada yang berteriak di depan pagar rumah saya, “Anggiiiii… main yuuk!”. Bagaikan alarm, suara teriakan itu adalah “notifikasi” paling canggih di zaman itu setelah jam ayam warna putih yang ada di sebelah tempat tidur.
Lutut saya sering sekali penuh dengan bekas luka yang mengering, atau istilahnya koreng. Luka itu bukan karena jatuh dari kasur, tapi karena aksi heroik saat mencoba menyelamatkan diri dari kejaran penjaga petak umpet, atau saat mencoba melompat setinggi kepala dalam permainan tali karet.
BACA JUGA: Tips Menjauhkan Anak dari Teman Toksik: Kenali Ciri-cirinya dan Peran Orang Tua
Tidak ada rasa trauma, yang ada justru rasa bangga karena luka itu adalah “medali” keberanian untuk saya Si Anak Bawang. Lucu dan sangat menyenangkan yah! Kita tumbuh dengan keringat yang mengucur, tawa yang lepas tanpa filter kamera, dan pelajaran hidup yang didapat langsung dari aspal jalanan atau rumput lapangan.
Itulah sebabnya sekarang, saat saya mencoba sesekali berdamai dengan anak-anak di rumah, yang bengong sedikit langsung menunduk menatap gadget, rasanya ada kerinduan untuk menularkan energi “masa kecil bahagia” itu kepada mereka.
Nah, pasti Mommies sudah rindu kan permainan jadul pas masih anak-anak. Kita nostalgia dulu sambil senyum-senyum, yuk! Kita kembali ke masa lalu untuk melihat permainan apa saja yang asyik untuk diajarkan ke anak-anak. Selain seru, permainan tradisional ini jauh lebih baik dari gadget karena melatih otot, mental, dan cara mereka berteman, kan?

Permainan zaman dahulu yang tidak kalah asyik adalah bermain petak umpet. Mommies tentu sudah sering bermain dengan Si Kecil, kan? Permainan ini dahulu sangat digemari anak-anak karena bisa dimainkan lebih dua orang, dan pastinya seru banget karena melibatkan canda tawa, sampai teriakan-teriakan usil lainnya.
Cara bermainnya juga mudah dan tidak memerlukan alat khusus. Anak-anak cukup memiliki skill berlari yang kencang dan handal dalam bersembunyi.
Cara bermainnya adalah cukup menunjuk satu anak sebagai penjaga, lalu pemain yang lainnya harus bersembunyi. Agar adil untuk memilih siapa yang bertugas sebagai penjaga, biasanya anak-anak akan memilihnya dengan cara hompimpa, setelah itu baru si penjaga menutup matanya dan menghitung dari satu sampai sepuluh, setelah hitungan selesai maka si penjaga akan mencari pemain yang lain yang sudah bersembunyi dan ditangkap satu per satu.
Pelajaran berharga dari permainan ini adalah agar anak-anak memiliki kemampuan yang teliti, mengatur strategi dan bersosialisasi.

Permainan ular naga panjang semakin asyik jika bermainnya ramai-ramai. Biasanya pemain akan memilih tempat yang lapang dan dimainkan oleh lebih tujuh orang untuk bermain permainan satu ini.
Cara bermain permainan ini adalah dengan memilih dua orang sebagai penjaga dan dipilih secara hompimpa, kemudian dua penjaga yang sudah ditentukan tersebut menyatukan kedua tangannya ke atas membentuk lorong, anak-anak yang lain harus berbaris dan meletakkan tangan di pundak tangan yang ada di depannya. Setelah itu, melingkar melewati si penjaga yang membentuk lorong tadi sambil menyanyikan lagu “Ular Naga Panjangnya” sampai selesai.
Ketika lagu yang dinyanyikan selesai, maka seorang anak yang terjebak dalam tangan penjaga lorong harus menentukan pilihan akan bergabung dengan tim A atau tim B. Tim yang jumlah anggotanya lebih sedikit bertugas menangkap tim lawan.
Tapi selain cara di atas, ada juga yang memiliki aturan jika ada yang terjebak di tangan penjaga lorong maka si anak harus keluar dari barisan. Yang saya ingat, di setiap area komplek rumah, ada aturannya sendiri. Mereka akan mengikuti sistem permainan yang mana, harus dikomunikasikan dan didiskusikan di awal permainan. Permainan ini sangat bagus untuk melatih kerja sama tim dan komunikasi antar anak.

Permainan zaman dahulu yang tidak kalah menarik ialah bola bekel. Permainan ini terdiri dari satu bola bekel dengan ukuran besar atau kecil dan enam biji bekel. Cara memainkannya adalah dengan menyusun enam biji bekel tersebut dalam posisi berdiri. Kemudian pantulkan bola bekel ke lantai.
Sebelum bola bekel menyentuh lantai lagi, maka pemain harus mengambil satu biji bekel untuk digenggam di tangan. Lakukan secara berulang sampai semua biji bekel habis diambil. Jika ada satu saja biji bekel yang tidak diambil atau terjatuh dari genggaman maka permainannya harus diulang lagi dari awal.
Ketika bola bekel memantul lebih dari satu kali, maka anak yang memainkannya tersebut juga dianggap kalah lho! Permainan bola bekel ini cukup memberikan tantangan dan melatih ketangkasan serta koordinasi mata dan tangan (motorik halus) untuk anak-anak.

Permainan anak yang tidak boleh terlupakan selanjutnya adalah lompat tali. Tali yang digunakan biasanya menggunakan karet gelang yang disambung satu per satu sehingga menjadi rangkaian yang panjang.
Dibutuhkan kelenturan dan kegesitan tubuh yang ekstra untuk melompati beberapa level rangkaian karet tersebut, mulai dari setinggi lutut, pinggang, hingga “merdeka” (tangan diacungkan ke atas di atas kepala). Permainan ini bisa dimainkan anak laki-laki maupun perempuan dengan melibatkan minimal tiga orang. Semakin banyak pemain, pastinya semakin seru. Fungsinya untuk Si Kecil? Ini adalah latihan kardio alami yang sangat baik untuk pertumbuhan fisik anak.
BACA JUGA: Orang Tua Bisa Blokir YouTube Shorts untuk Anak, Ini Caranya!

Kelereng atau yang dikenal dengan sebutan gundu memiliki bentuk seperti kaca bening dan memiliki motif serta warna yang beragam. Permainan ini identik dimainkan oleh anak laki-laki. Permainan ini cukup mudah dimainkan namun perlu kehati-hatian, karena dikhawatirkan akan tertelan oleh anak di bawah umur.
Saat saya kecil, permainan kelereng ini umumnya dimainkan di tanah yang lapang atau lantai yang luas. Cara memainkannya juga cukup mudah, Mommies hanya perlu menjentikkan kelereng milik Moms ke arah kelereng lawan menggunakan jari tengah dan ibu jari. Jika ada kelereng lawan yang kena jentik dengan kelerengmu, maka kelereng tersebut menjadi milik kamu.
Meski demikian ada beberapa tipe permainan kelereng yang umumnya dimainkan oleh anak-anak saat itu seperti tipe pot, tipe lubang atau adu gundu, atau tipe garis. Coba deh ingat-ingat lagi cara mainnya bersama suami sebelum mengajarkannya kea nak. Permainan ini melatih fokus, konsentrasi tinggi, dan akurasi pada anak.

Permainan yang wajib anak-anak coba berikutnya adalah congklak atau dakon. Permainan yang menggunakan biji kerang atau batu-batu kecil dengan papan lubang ini hanya bisa dimainkan oleh dua anak saja dan biasanya dimainkan anak perempuan. Papan congklak ini memiliki 16 lubang dengan isian 98 buah biji-bijian.
Permainan ini dimulai dengan suit untuk menentukan siapa yang bermain terlebih dahulu. Jika ada yang menang maka pemain harus mengambil semua biji dari salah satu lubang dan biji tersebut diisi satu per satu ke lubang papan congklak hingga biji habis. Begitu seterusnya hingga siapa yang mendapat biji paling banyak maka ia yang menang. Permainan ini memberikan keuntungan bagi anak-anak untuk belajar motorik halus, berhitung, kejujuran, dan kesabaran.

Permainan yang tidak kalah menarik selanjutnya adalah gasing. Anak-anak bisa memainkan gasing ketika jam istirahat sekolah atau sepulang sekolah. Gasing terbuat dari kayu atau bambu yang dimainkan dengan cara diputar menggunakan tali.
Kemudian gasing dimainkan secara bersamaan untuk diadu, gasing yang berputar paling lama maka ia pemenangnya. Permainan gasing ini juga memberi manfaat untuk anak lho, Moms! Keterampilan tangan anak-anak Moms akan terlatih karena terbiasa memutar gasing dengan teknik yang benar. Hal ini juga meningkatkan jiwa kompetitif anak serta menambah relasi dengan sesama temannya. Si Kecil pun bisa tumbuh menjadi pribadi yang sportif.

Jika Mommies mencari permainan yang benar-benar menguras keringat dan melatih jiwa kepemimpinan anak, coba ajarin bentengan, deh! Permainan ini biasanya dimainkan oleh dua kelompok. Setiap kelompok masing-masing memiliki “benteng” berupa pohon, atau pilar bangunan.
Cara mainnya, setiap pemain dalam kelompok harus “berusaha” menyentuh benteng lawan sambil meneriakkan kata “Benteng!”. Namun, ini tidak mudah karena lawan akan berusaha menangkap siapa pun yang keluar dari area aman bentengnya. Kuncinya ada pada strategi “tawan-menawan”.
Orang yang paling terakhir menyentuh bentengnya sendiri memiliki “kekuatan” untuk menangkap lawan yang sudah lebih dulu berada di lapangan. Pemain yang tertangkap akan ditawan di samping benteng lawan dan harus menunggu diselamatkan oleh rekan setimnya dengan cara disentuh tangannya.
Ini adalah simulasi perang-perangan yang sangat sehat. Anak belajar tentang pembagian tugas (ada yang jadi mata-mata, penyerang, dan penjaga benteng), melatih kecepatan lari, serta ketahanan fisik yang luar biasa.
Meskipun teknologi memberikan kemudahan, permainan tradisional memiliki “jiwa” yang tidak bisa digantikan oleh algoritma.
Ingatkah Mommies, saat kita bermain petak umpet atau ular naga, kita pun belajar tentang negosiasi. Kita pun belajar cara berdamai saat ada perselisihan, cara mengikuti aturan, dan cara menerima kekalahan tanpa harus rage quitting atau membanting controller.
Secara fisik, permainan ini memastikan anak tetap aktif bergerak. Obesitas pada anak dan masalah postur tubuh akibat terlalu lama menunduk bisa diminimalisir jika kita kembali menghidupkan budaya bermain di luar ruangan. Sosialisasinya pun nyata; mereka melihat ekspresi teman secara langsung, belajar berempati, dan membangun ikatan batin yang kuat.
Mengenalkan kembali permainan ini kepada anak-anak kita adalah cara terbaik untuk memberi mereka masa kecil yang berwarna, sama seperti yang kita rasakan dulu. Jadi, akhir pekan ini, yuk, ajak si Kecil beli karet gelang (dan mengajaknya menjalin karet gelang menjadi tali panjang) atau kelereng dan mulai bermain bersama!
BACA JUGA: Orang Tua Memaksakan Cita-cita ke Anak? Ini 7 Cirinya!
Cover: Pexels/RDNEStockProject