Aditya Naratama: Kasih Anak Kesempatan untuk Jadi Lebih Setara Melalui Kebebasan yang Lebih Luas, Tapi Tetap Lakukan Bersama Sebagai Tim

Dad's Corner

RachelKaloh・3 hours ago

detail-thumb

Simak cara seorang Aditya Naratama menjalani perannya sebagai ayah, meski sehari-hari bekerja, hanya ada sedikit waktu yang tersisa.

Sebagai seorang pekerja dan pencari nafkah, “sibuk” adalah alasan paling klise yang sering dijadikan sebagai penghambat bagi seorang ayah untuk bisa dekat dengan anak. Padahal, “sibuk” semestinya menjadi tantangan bagi para Ayah untuk terus berusaha, bagaimana caranya, agar tetap punya waktu yang berkualitas dengan anak. Seperti yang sehari-hari dilakukan oleh Aditya “Ndit” Naratama (41), sebagai seorang Ayah yang sehari-harinya sibuk bekerja di dunia radio, bermusik, dan kadang menulis untuk film pendek. 

Dengan sederet pekerjaan yang pastinya mengambil sebagian besar waktu yang ada, lewat cara apa Ndit mempertahankan untuk tetap memiliki quality time bersama keluarga?

Di Weekdays, sudah pasti hanya ada sedikit waktu tersisa. Namun saya punya pola sendiri untuk mengatur kegiatan saya bersama Sema (6). Pagi hari saat Sena bersiap sekolah adalah kesempatan saya menerapkan disiplin. Dengan menyiapkan sarapan, saya mau ia melihat act of service dan merasa lebih akrab dengan ayahnya. Selama perjalanan ke sekolah, saya ajak dia berimajinasi, seakan-akan kita sedang dalam petualangan kecil. Malam hari adalah saat yang paling intimate, yaitu dengan mendongeng dan sebisa mungkin menyelipkan sedikit permainan, sebelum ia “mencampakkan saya” dan beralih memeluk mamanya, setiap kali ceritanya selesai! Hahaha, jadi kesempatan itu tak boleh disia-siakan.

Aditya Naratama: Kasih Anak Kesempatan untuk Jadi Lebih Setara Melalui Kebebasan yang Lebih Luas, Tapi Tetap Lakukan Bersama Sebagai Tim

Foto: Dokumentasi Pribadi

Di weekend, kami punya waktu lebih lowong, dengan kegiatan yang lebih bervariasi. Saya merasakan betul perbedaan besar saat kami jalan bertiga (dengan istri) dan saat kami hanya berdua saja. Biasanya kalau lagi berduaan, saya kasih Sema kesempatan untuk jadi lebih setara melalui kebebasan yang lebih luas, tapi tetap diberikan beberapa tugas untuk kami lakukan bersama, sebagai tim.

Bicara soal pengasuhan anak, menurutmu seberapa penting peran seorang ayah?

Meski menurut saya tidak bisa dibandingkan dengan level seorang ibu, namun ayah sangat berperan dalam pembentukan (mapping) pola pikir anak, mengasah persepsi anak terhadap dunia, dan bagaimana menyikapinya. Peran ayah yang ideal pada level dasar, menurut saya adalah dengan menyiapkan anak untuk bisa jadi ujung tombak dalam survival keluarga. Ini bukan hanya menyangkut soal nafkah dan mengurus rumah tangga, tapi dalam menyiapkan jika, amit-amit, terjadi cobaan eksternal maupun internal. 

Nilai-nilai apa saja yang ingin kamu tanamkan pada anak dan apa yang membuat nilai tersebut penting?

Menurut saya, ada empat hal yang harus ditumpukan pada ayah, yaitu ketuhanan (iman), pengetahuan, martabat, dan tidak lupa, memastikan anak selalu tahu cara untuk bersenang-senang. Tapi untuk sekarang, yang kerap saya katakan pada anak adalah: “Kamu boleh jadi anak nakal, asal sayang sama Mama”. Buat saya, nakal itu adalah sebuah proses penting dalam perkembangan nalar anak, itu harus difasilitasi supaya tidak jadi “aneh-aneh”, dan batasannya adalah penilaian dari ibunya. 

Selain itu, berhubung anak saya laki-laki, ia harus paham, bahwa laki-laki punya tendensi untuk bertindak semaunya. Tapi saat dihadapkan dengan hal prinsipil, kita harus segera bersikap dewasa, terutama jika berhubungan dengan ibu, jantung hati keluarga. Ketika anak berani melanggar itu, saya yang tadinya sekutu, bisa mendadak jadi “polisi” yang turun menegakkan aturan. Hal ini saya lakukan demi  menunjukkan bagaimana mengambil sikap sebagai pelindung. “She’s my woman, don’t you dare playing games bro, you gonna have a big problem!”, itu yang saya katakan dengan lagak sok mengancam, bila anak saya sudah berani main fisik dengan ibunya (dorong/pukul).

Ini mungkin kurang ideal, tapi saya juga memperbolehkan anak saya untuk memukul diri saya, sambil saya bilang, “Kalau kamu memang segitu marahnya sampe ngerasa butuh mukul, pukul Papa aja, jangan yang lain.”

Apa kalimat andalan yang paling sering kamu ucapkan ke anak?

Saat anak saya minta satu hal ─tidak melulu barang atau camilan, bisa juga jawaban dari pertanyaan yang membuatnya penasaran, saya selalu tahan-tahan, dan jika dia mulai kesal lalu marah, saya akan menggumam, “There is one weapon, the most powerful weapon in the entire universe…” dia akan langsung tahu kalau saya sedang minta dia melancarkan “Tonjokan Bibir” alias cium, hehehe.

Baca juga: 75 Jokes Bapak-Bapak Receh yang Garing tapi Selalu Bikin Ketawa

Sebagai seorang ayah, punya kekhawatiran apa di jaman sekarang ini?

Ketakutan saya hari ini dan di masa depan adalah diskoneksi, entah antara dia dengan kami, dengan sosial, dengan nurani, dengan akar kebangsaannya, dengan Tuhan, atau bahkan dengan dirinya sendiri. Saya pernah membayangkan anak saya menjadi seorang ateis, tapi buat saya pribadi, bukan soal keimanannya dulu yang saya cemaskan, melainkan diskoneksi dengan kami orangtuanya. Saya membayangkan bagaimana dia akan menganggap kami terbelakang, dan akhirnya tak lagi menganggap penting apapun yang kami pikir dan rasakan. Maka menurut saya, sangat penting untuk kita bisa kembali ke roots kita sebagai manusia yang ber-Tuhan. 

Jadi apapun yang terjadi nanti dan bila ia tersesat, saya ingin pintu rumah selalu terbuka untuk ia pulang. Di situ dialog bisa terjadi kembali, dan dia dapat reconsider pilihan-pilihan yang akan dia ambil selanjutnya.

Dukungan keluarga yang bikin selalu semangat?

Satu hal yang selalu saya lontarkan dalam doa syukur pada momen-momen ulang tahun, adalah bahwa kami diberkati dengan kerekatan antar satu-sama-lain. Modal saling mengasihi itu membuat saya selalu merasa kaya, dan saya pikir, dengan modal itu pula, ujian apapun akan sepadan untuk dilalui dan diperjuangkan. Jadi dukungan itu bentuknya halus dan apa adanya, stick together, love and respect each other, and stay true to our roots.