
Salah satu tantangan buat pasangan yang baru menikah adalah menghadapi keluarga besar. Jangan khawatir, ini tips lengkapnya.
Jangan terlalu naif dan jujur saja, kalau pernikahan bukan hanya tentang belajar hidup bersama pasangan. Pernikahan juga tentang belajar hidup bersama keluarga besar! Orang tua, mertua, bibi, paman, sepupu, saudara kandung. Buat sebagian ini menyenangkan tapi kalau mereka suka mencampuri urusan orang lain, pasti menyebalkan.
Apalagi buat yang baru menikah, dinamika keluarga besar bisa terasa menakutkan. Terutama saat momen besar seperti Lebaran. Beberapa cerita horor mertua dan keluarga yang sering tampil di media sosial terkadang ada benarnya juga.
Nah, dari pasangan satu ke pasangan lainnya, ada tips mengatasi keluarga besar oleh pasangan yang sudah cukup lama menikah.

Keluarga mungkin mencoba mendekati salah satu dari kalian secara terpisah. Entah itu mau tanya-tanya hal sensitif atau pinjam uang. Berbicara sebagai “kami” menunjukkan kesatuan dan mencegah misinformasi.
Sebelum menanggapi permintaan, komentar, atau tekanan dari keluarga, diskusikan terlebih dahulu dengan pasangan. Misalnya, sebelum setuju untuk tinggal bersama orang tua, lebih baik diskusikan dengan suami.
Terlalu banyak kunjungan dapat membebani pernikahan baru menikah, sementara terlalu sedikit dapat menyakiti perasaan keluarga. Keseimbangan adalah kunci, dan harus diputuskan sebagai pasangan. Setelah disepakati, komunikasikan dengan jelas.
Pasangan yang baru menikah membutuhkan ruang untuk menjalin ikatan dan beradaptasi. Kehadiran keluarga yang terus-menerus dapat mengganggu proses tersebut. Misalnya, nih, malam hari menjadi waktu “tanpa tamu” agar kalian dapat bersantai bersama.
Banyak keluarga biasanya banyak yang mau ikut campur. Tetapkan batasan dengan mereka. Ketika Mommies atau suami menjelaskannya dengan tenang dan konsisten, keluarga lebih cenderung menghormatinya.
Adil tidak selalu berarti sama, tetapi berarti penuh pertimbangan. Rasa dendam bisa tumbuh ketika salah satu pihak merasa diabaikan. Contohnya, jika Lebaran tahun lalu bersama keluarga suami, tahun ini bersama keluarga Mommies.
Ekspektasi yang tidak diungkapkan seringkali menimbulkan kekecewaan. Ini bisa apa saja. Dulu sebelum menikah suami berjanji akan membiayai adiknya. Namun beda ketika sudah menikah. Keluarga suami mungkin menganggap segala sesuatunya akan tetap sama kecuali Mommies mengatakan sebaliknya.
Saran sering kali datang dari rasa sayang, tetapi itu tidak berarti Mommies harus mengikuti semuanya. Akui, ucapkan terima kasih, dan putuskan secara pribadi.
Musim liburan penuh dengan emosi. Merencanakan sejak dini menghindari tekanan dan rasa bersalah di menit-menit terakhir. Hal ini juga menunjukkan rasa hormat kepada kedua keluarga.
Perkawinan menandai awal dari unit keluarga baru. Simpel saja, seperti Mommies dan suami memulai liburan di rumah setelah Lebaran hanya untuk berdua.
BACA JUGA: Suami Istri Lebih Baik Rekening Bersama atau Pisah? Ini Kata Pakar Finansial
Yang penting kita jaga silaturahmi. Nah, kalimat tersebut bisa jadi jawaban saat ada salah satu keluarga yang protes dan merasa ditinggalkan. Ingat kalian sudah menjadi keluarga lain sehingga sebenarnya tak perlu terlalu terlibat dalam urusan keluarga besar.
Jagan terlalu sering sakit hati. Biarkan komentar kecil berlalu karena tidak semua hal perlu ditanggapi. Lebih baik hemat energi!
Perbandingan memicu rasa iri. Setiap keluarga berbeda. Untuk itu, hindari mengatakan, “Orang tuaku tidak melakukan itu.”
Menghadapi keluarga besar bisa membuat semua orang kewalahan. Menjauh sejenak boleh saja. Misalnya saat ada arisan keluarga, boleh kok sekali-kali tidak datang. Yang penting siapkan alasan yang masuk akal.
Humor membantu melepaskan ketegangan. Terdengar klise, ya. Namun saat ada masalah keluarga yang bikin sebel, atau menghadapi pertanyaan seperti “Kapan hamil?”, terkadang dianggap lucu dan ditertawakan saja, ya.
Meskipun kita mau ditertawakan saja, bisa jadi perkataan dan perilaku mereka buat kita tersakiti. Jangan dipendam, setidaknya bicarakan perasaan Mommies ke pasangan secara terbuka.
Tidak ada keluarga yang sempurna. Itu normal. Mommies bisa fokus pada momen, bukan kekurangan Ketika bertemu keluarga besar.
Mengatakan “tidak” adalah bagian dari kedewasaan. Tidak perlu diturutin semua maunya keluarga.
Alternatif dapat meredakan kekecewaan dan menjaga hubungan tetap hangat. Tidak bisa datang ke rumah mertua, mungkin bisa jadwalkan waktu di tempat lain seperti makan di restoran.
Masalah keuangan, kesuburan, dan masalah pernikahan harus diputuskan bersama. Jawaban yang konsisten mengurangi tekanan dari pihak luar.

Selesaikan masalah secara pribadi terlebih dahulu. Alih-alih menelepon orang tua setelah bertengkar, Mommies dan suami bisa membicarakannya bersama.
Tegangan dengan mertua bisa menyakitkan. Dukungan emosional membangun kepercayaan. Hindari mengkritik keluarga pasangan dengan keras.
Mommies dan suami beda suku? Perbedaan ini mungkin memiliki nilai-nilai budaya yang berbeda. Baiknya, sih, sebelum menikah sudah tahu tentang hal ini, ya.
Jika kalian mengatakan tidak boleh ada kunjungan mendadak, jangan sering membuat pengecualian untuk keluarga yang lain. Tetaplah pada apa yang telah dikatakan.
Bahasa yang tenang menjaga diskusi tetap produktif, walau Mommies dan suami mungkin sudah gatal ingin bicara kasar.
Keluarga sering khawatir kehilangan kedekatan setelah menikah. Jaminan membantu mereka menerima batasan dengan lebih baik.
Jika ada sesuatu terasa tidak nyaman saat salah satu anggota keluarga minta bantuan, berhentilah sejenak sebelum setuju. Coba bicarakan dengan pasangan.
Memang, sih, saling minta maaf itu baik. Tapi apa jadinya kalau Mommies yang selalu minta maaf sedangkan anggota keluarga besar tidak sadar tindakan atau perkataannya menyakitkan. Beri Waktu agar ia tahu konsekuensinya.
Tunjukkan komunikasi yang sehat daripada menjelaskannya. Orang lain akan memperhatikan.
Batasan-batasan berubah seiring kematangan pernikahan. Apa yang terasa penting sekarang mungkin akan berubah di kemudian hari. Mommies bisa perlahan-lahan meningkatkan kunjungan keluarga setelah komunikasi membaik.
BACA JUGA: Dulu Pacaran Romantis, Setelah Menikah kok ‘Beda’? Ini Kata Psikolog!
Saran sering kali datang dari kepedulian, meskipun terasa mengganggu. Kesal karena dikejar kapan hamil oleh keluarga? Tetap tanggapi dengan ramah, meski tetapkan batas.
Bereaksi dengan lembut mencegah konflik yang lebih besar. Mommies bisa tetap tenang daripada membalas argument keluarga besar. Kedamaian lebih berharga daripada menang.
Tidak setiap pertemuan harus sempurna. Kunjungan keluarga tanpa drama adalah kesuksesan juga, loh.
Perkawinan itu harus terasa mendukung, bukan melelahkan. Batasi interaksi yang melelahkan. Bisa, kok, memperpendek kunjungan dengan kerabat yang menegangkan.
Mau ada masalah gonjang ganjing di keluarga besar, ingat untuk utamakan pernikahan. Pada akhirnya kan, kini kalian sudah menikah dan menjadi satu.
Tinggal bersama orang tua dapat memicu kebiasaan lama. Tetaplah bertanggung jawab dan mandiri dalam perilaku. Misalnya, kalian mengelola keuangan sendiri.
Tips lagi buat yang tinggal dengan mertua. Kontribusi bantu-bantu rumah tangga bisa membangun hubungan baik. Contoh, Mommies membantu memasak atau membersihkan tanpa diminta.
Masih baru menikah mungkin masih hangat hubungannya. Jangan terlena dan jadi malas, karena keintiman tetap penting. Rencanakan momen Bersama bahkan sekadar minum kopi bersama.
Diskusikan apa yang boleh dan tidak boleh. Sampaikan keputusan sebagai tim.
Jika tinggal bersama keluarga bersifat sementara, bicarakan tentang deadline kapan pindah. Memiliki tujuan membantu secara emosional.

Tekanan seringkali datang dari rasa penasaran anggota keluarga. Tetap tenang, jangan defensif.
Menghormati orang tua sangat penting, terutama dalam keluarga yang erat atau tradisional, tetapi menghormati tidak berarti menyerahkan otonomi kalian sebagai pasangan suami istri. Mendengarkan nasihat menunjukkan kedewasaan, namun keputusan akhir harus selalu diambil bersama sebagai suami dan istri.
Dukungan keluarga bisa memberikan kenyamanan, tetapi membagikan terlalu banyak tentang perselisihan pribadi seringkali mengundang pendapat, penilaian, atau campur tangan jangka panjang.
Kesalahpahaman kecil dapat perlahan berubah menjadi dendam jika dibiarkan tanpa dibicarakan. Ketika kebiasaan keluarga suami membuat Mommies tidak nyaman, sebutkan hal itu dengan lembut sejak awal.
Mendukung pasangan Mommies tidak berarti menyerang keluarga, dan menghormati keluarga tidak berarti mengabaikan suami. Tujuannya adalah keseimbangan dan melindungi pernikahan.
Tidak setiap komentar keluarga memerlukan tanggapan. Diam dapat mencegah konflik yang tidak perlu, lho.
Ini tips buat pasangan baru yang punya anak. Nenek dan kakek mungkin bermaksud baik dalam ikut membesarkan cucu, tetapi orang tua tetap yang mengambil keputusan akhir.
Anak-anak tidak boleh menyaksikan pertengkaran atau merasa terjebak di antara anggota keluarga yang dewasa. Keamanan emosional sangat penting.
Hadapi tantangan keluarga sebagai tim. Dukung satu sama lain melalui proses belajar.
Pasangan dalam pernikahan adalah prioritas utama. Pernikahan yang kuat menguntungkan semua orang, termasuk keluarga besar.
BACA JUGA: Awal Pernikahan Tak Selalu Manis: 7 Hal Ini Sering jadi Sumber Konflik
Penulis: Imelda Rahma
Cover: pressfoto/Freepik