
Anak sering salah atau sulit mengenali warna? Bisa jadi ini ciri buta warna pada anak. Kenali ciri lainnya, penyebab, dan apa yang harus orang tua lakukan.
Mommies, bayangkan dunia di mana warna merah jambu bunga tampak mirip hijau daun, atau kuning cerah matahari sulit dibedakan dari warna lain. Bagi sebagian anak, inilah realitas sehari-hari yang mereka jalani tanpa sadar. Buta warna pada anak sering kali luput terdeteksi, bukan karena kondisinya jarang, tetapi karena anak belum mampu menjelaskan apa yang mereka lihat.
Padahal, kemampuan mengenali warna berperan besar dalam proses belajar dan interaksi sehari-hari. Mulai dari aktivitas sederhana seperti mewarnai, bermain, hingga memahami instruksi di sekolah semuanya kerap melibatkan warna.
BACA JUGA: Gejala dan Penyebab Mata Malas pada Anak, serta Cara Mengatasinya
Buta warna bukan berarti seseorang hanya bisa melihat hitam dan putih. Istilah medis yang lebih tepat adalah color vision deficiency, yaitu kondisi ketika seseorang mengalami keterbatasan dalam membedakan warna tertentu.
Menurut Dr. Jane Edmond, MD, buta warna sebenarnya tidak berarti seseorang sama sekali tidak bisa melihat warna. Anak dengan kondisi ini tetap bisa melihat warna dengan cukup jelas, hanya saja mereka mengalami kesulitan dalam membedakan warna-warna tertentu atau melihatnya dengan cara yang berbeda.
Karena perbedaannya sering kali tidak terlihat jelas, buta warna kerap baru disadari ketika anak mulai kesulitan mengikuti aktivitas belajar yang melibatkan warna.
Kondisi ini biasanya terjadi akibat gangguan pada sel kerucut (cone cells) di retina mata, yang berfungsi menangkap warna. Pada anak, keterbatasan ini sering baru terasa saat mereka mulai berhadapan dengan aktivitas belajar yang mengandalkan warna sebagai penanda.
Tanpa disadari, anak bisa tampak kesulitan mengikuti pelajaran, padahal masalahnya bukan pada kemampuan kognitif. Menurut Dr. Rohit Varma, MD ini bukan soal anak kurang pintar. Mereka hanya melihat dunia dengan cara yang berbeda.
Karena itu, kondisi ini tidak boleh disepelekan.

Ada anggapan bahwa semua anak dengan buta warna selalu tertukar antara merah dan hijau, atau bahkan melihat dunia dalam warna abu-abu. Faktanya, kondisi tersebut sangat jarang. Menurut Dr. Ananya Mandal, MD, sebagian besar anak dengan buta warna masih dapat melihat warna, hanya saja mengalami kesulitan membedakan kombinasi warna tertentu.
Artinya, pengalaman visual setiap anak bisa berbeda, tergantung jenis dan tingkat defisiensinya. Pemahaman ini penting agar orang tua tidak salah menilai perilaku anak sehari-hari.
Secara umum, buta warna terbagi menjadi beberapa tipe dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda:
Agar bisa mencegahnya atau jika sudah terlanjur terjadi pada anak, orang tua harus mengetahui penyebab buta warna pada anak.

Sebagian besar kasus buta warna diturunkan secara genetik, terutama melalui kromosom X. Inilah alasan mengapa lebih banyak anak laki-laki mengalami buta warna dibandingkan anak perempuan.
Jika ibu membawa gen buta warna, anak laki-laki memiliki risiko lebih tinggi mengalaminya. Riwayat keluarga menjadi petunjuk penting yang tidak boleh diabaikan oleh orang tua. Namun, tidak semua anak dengan gen bawaan pasti menunjukkan gejala berat. Ada juga yang hanya mengalami defisiensi ringan.
Selain faktor genetik, buta warna juga bisa bersifat didapat (acquired). Beberapa kondisi medis yang dapat memengaruhi persepsi warna antara lain:
Paparan zat berbahaya seperti pestisida, logam berat, dan pelarut kimia juga dapat memengaruhi kemampuan melihat warna. Bahkan, beberapa obat, termasuk antibiotik tertentu dan obat malaria seperti chloroquine diketahui bisa memicu gangguan persepsi warna.
Penelitian oleh Multi-Ethnic Pediatric Eye Disease Study Group yang dipublikasikan di “Journal of Ophthalmology” menunjukkan bahwa tes buta warna dapat dilakukan sejak usia 4 tahun.
Dr. David L. Hunter, MD, pediatric ophthalmologist dari Boston Children’s Hospital, menjelaskan bahwa skrining dini sangat membantu anak beradaptasi sejak awal, terutama sebelum masuk usia sekolah formal.
Banyak anak (terutama usia balita dan prasekolah) belum menyadari bahwa cara mereka melihat warna berbeda dari orang lain, sehingga jarang mengeluh secara langsung. Di sinilah peran orang tua sangat dibutuhkan:
Anak terlihat bingung saat diminta menyebutkan warna merah, hijau, biru, atau ungu. Mereka bisa berulang kali salah menyebut warna yang sama, meskipun sudah diajari berkali-kali hingga sering disalahartikan anak “belum hafal warna”, padahal bisa jadi ada gangguan persepsi warna.
Misalnya, anak mewarnai daun menjadi cokelat, langit menjadi ungu, atau matahari berwarna hijau. Ini bukan soal kreativitas semata, tetapi bisa menjadi petunjuk bahwa anak memang melihat warna tersebut berbeda.
Anak tampak kebingungan saat mengerjakan aktivitas seperti mewarnai, menyusun balok warna, membaca grafik sederhana, atau mengikuti instruksi “ambil pensil merah”. Akibatnya, anak bisa merasa tertinggal dibanding teman-temannya.
Sebagian anak menjadi enggan menggambar, mewarnai, atau mengikuti pelajaran seni karena merasa sering “salah”. Rasa frustrasi ini bisa berdampak pada kepercayaan diri, terutama jika mereka sering dikoreksi tanpa memahami penyebabnya.
Beberapa anak mungkin berkata warna tertentu “terlihat sama”, “pudar”, atau “membingungkan”, meski tidak bisa menjelaskannya secara detail.
Misalnya, anak mengenali lampu lalu lintas berdasarkan posisi (atas, tengah, bawah), bukan warnanya. Atau mengenali benda dari bentuk dan letaknya, bukan dari warna.

Kabar baiknya, buta warna bukan penghalang bagi anak untuk berkembang dan berprestasi. Dengan dukungan yang tepat dari orang tua, anak justru bisa tumbuh menjadi pribadi yang adaptif dan percaya diri.
Berikut peran penting orang tua yang bisa dilakukan sehari-hari:
Alih-alih hanya menyebut “merah” atau “hijau”, orang tua bisa menambahkan deskripsi seperti “warna yang lebih terang”, “lebih gelap”, atau “yang mirip daun”. Memberi label tulisan pada crayon, spidol, atau pensil warna juga sangat membantu.
Saat mengajar atau memberi instruksi, sertakan petunjuk tambahan selain warna. Misalnya, “ambil buku yang paling kiri” atau “lingkaran bergaris”, bukan hanya mengandalkan warna.
Sangat penting bagi guru mengetahui kondisi anak. Dengan begitu, guru dapat menyesuaikan metode pengajaran, menghindari tugas yang terlalu bergantung pada warna, dan memberi penilaian yang lebih adil.
Saat ini tersedia berbagai aplikasi dan alat digital yang dapat membantu anak mengenali warna atau mengonversi warna menjadi teks dan simbol yang lebih mudah dipahami.
Ajarkan anak bahwa buta warna bukan kelemahan, melainkan perbedaan cara melihat dunia. Dukungan emosional dari orang tua sangat penting agar anak tidak merasa “berbeda” secara negatif apalagi minder.
Jika buta warna disebabkan oleh kondisi medis tertentu, seperti gangguan saraf atau efek obat, orang tua perlu mengikuti saran dokter. Dalam beberapa kasus, penanganan penyakit utama dapat membantu memperbaiki persepsi warna.
BACA JUGA: Waspada! 7 Makanan dan Minuman Favorit Anak Ini Ternyata Bikin Gigi Cepat Rusak
Seperti ditegaskan oleh Dr. Paul R. Langer, MD, spesialis retina dari Amerika Serikat, adaptasi lingkungan dan edukasi yang tepat jauh lebih berdampak bagi kualitas hidup anak dibanding sekadar fokus pada keterbatasannya.
Cover: RDNE Stock project/Pexels