
Saat istri menolak ajakan suami untuk berhubungan seks, jangan langsung marah dan tersinggung. Cari tahu alasannya terlebih dulu dan bijak menyikapinya.
Ada masa dalam pernikahan ketika istri menolak ajakan suami berhubungan seks. Bagi sebagian suami, situasi ini bisa terasa membingungkan, menyakitkan, bahkan menguras emosi. Pertanyaan yang sering muncul pun sederhana tapi berat: “Salah aku di mana?” atau “Apakah dia masih menginginkanku?”
Padahal, penolakan seksual dalam perkawinan tidak selalu berarti hilangnya cinta atau ketertarikan. Relationship coach Dionne Eleanor menjelaskan bahwa penolakan seksual memang bisa menjadi pengalaman yang menantang dalam perkawinan, tetapi tidak harus menjadi akhir segalanya. Dengan komunikasi yang terbuka, empati, dan kedewasaan, pasangan masih bisa melewati situasi ini.
Lalu, apa sebenarnya dampak penolakan seksual dalam pernikahan, dan bagaimana seharusnya suami bersikap ketika istri menolak berhubungan intim? Yuk, kita bahas pelan-pelan.
BACA JUGA: Pasangan Terlalu Sibuk? Ketahui 10 Bahaya Jika Jarang Bercinta!
Penolakan seksual yang terjadi berulang kali bisa meninggalkan dampak emosional yang cukup besar, baik bagi individu maupun hubungan secara keseluruhan. Perasaan tidak diinginkan, bingung, dan frustrasi sering kali muncul tanpa disadari.
Dalam jangka pendek, penolakan ini dapat menciptakan jarak emosional antara suami dan istri. Kehangatan berkurang, kedekatan terasa menipis, dan hubungan yang seharusnya menjadi ruang aman justru terasa dingin. Tak jarang, suami mulai meragukan diri sendiri dan merasa kurang berharga.
Jika dibiarkan terlalu lama, kondisi ini bisa berkembang menjadi masalah yang lebih serius: rendah diri, hilangnya rasa percaya, komunikasi yang tersendat, hingga konflik yang terus berulang. Karena itu, penolakan seksual sebaiknya dihadapi dengan sikap positif dan penuh kesadaran, bukan dihindari atau dipendam.

Setiap hubungan tentu unik, tetapi ada beberapa alasan umum yang kerap membuat istri menarik diri dari hubungan intim. Memahami alasan istri menolak ajakan suami berhubungan seks adalah langkah awal untuk membangun kembali kedekatan.
Rutinitas harian yang padat seperti mengurus anak, pekerjaan, rumah, dan urusan sosial bisa menguras energi. Saat malam tiba, rasa lelah sering kali lebih dominan daripada keinginan untuk berhubungan intim.
Tidak semua pasangan memiliki pandangan yang sama tentang seks. Jika suami melihat seks sebagai bentuk utama keintiman, sementara istri memaknainya secara berbeda, ketidaksinkronan ini bisa memicu jarak emosional.
Tekanan adalah “pembunuh libido” yang nyata. Ketika istri merasa seks adalah kewajiban atau tuntutan, bukan pilihan, keinginannya bisa langsung menghilang. Psikolog Dr. Emily Nagoski dalam bukunya “Come As You Are” menjelaskan bahwa otak memiliki “akselerator” dan “rem” seksual. Rasa tertekan memicu otak menginjak rem tersebut.
Preferensi seksual tiap orang berbeda. Jika istri merasa kebutuhannya tidak diperhatikan atau gaya bercinta terasa tidak menyenangkan, keinginan untuk berhubungan intim pun bisa menurun.
Bagi banyak perempuan, kedekatan emosional adalah pintu masuk menuju keintiman fisik. Tanpa rasa terhubung, seks bisa terasa hampa atau bahkan tidak menyenangkan.
Konflik yang dipendam, pertengkaran yang tak pernah tuntas, atau rasa kesal yang menumpuk bisa membuat istri enggan untuk dekat secara fisik.
Motherhood mengubah banyak hal seperti tubuh, prioritas, dan energi. Kelelahan fisik dan mental sering membuat hasrat seksual berada di urutan paling bawah.
Perubahan tubuh setelah melahirkan, bertambahnya usia, atau standar kecantikan yang tidak realistis bisa memicu rasa tidak percaya diri, sehingga istri merasa tidak seksi.
Penurunan gairah seksual adalah hal yang wajar, dipengaruhi oleh hormon, stres, atau fase kehidupan tertentu.
Gangguan hormon, nyeri kronis, atau penyakit tertentu dapat menurunkan hasrat seksual tanpa disadari.
Masalah kesehatan mental seperti anxiety dan depresi sering membuat keintiman terasa berat dan melelahkan.
Kadang alasannya sesederhana itu. Tidak selalu ada makna besar di balik penolakan, bisa jadi istri hanya sedang tidak mood.

Jika istri menolak berhubungan intim, jangan buru-buru kesal. Ada langkah-langkah penuh empati yang bisa dilakukan:
Bagi banyak perempuan, keintiman dimulai jauh sebelum berada di kamar tidur. Perhatian kecil, bantuan-bantuan di dapur, dan kata-kata hangat sepanjang hari membangun rasa aman emosional. Ketika seorang istri merasa diperhatikan, dihargai, dan didukung secara emosional, kedekatan fisik otomatis akan terjadi secara alami.
Penolakan seksual tidak selalu mencerminkan nilai diri suami. Pisahkan harga diri dari situasi yang sedang terjadi.
Berkali-kali mendapatkan penolakan dari istri sering kali mencerminkan ikatan emosional yang putus. Apakah kalian sering bertengkar? Merasa seperti teman sekamar daripada pasangan suami istri? Apakah suami dan istri memiliki pandangan yang sama tentang hal-hal yang sangat prinsip atau tujuan bersama?
Keintiman emosional adalah fondasi untuk keintiman fisik. Semakin suami dan istri selaras secara emosional, semakin istri akan merasa aman untuk membuka diri, terutama tentang hubungan seks.
Perkawinan tanpa seks sering kali berakar dari jarak emosional. Membangun kembali komunikasi, kebersamaan, dan rasa saling memahami adalah fondasi penting.
Banyak perempuan membutuhkan waktu untuk masuk ke suasana yang intim dan sensual. Mulailah dulu dengan sentuhan-sentuhan lembut, obrolan yang hangat dan romantis, serta afeksi tanpa tekanan. Terburu-buru justru bisa membuat istri menjadi cemas dan akhirnya malah berujung pada penolakan. Tanyakan kepada istri apa yang bisa membuatnya nyaman. Prioritaskan untuk membuatnya senang dulu, bukan suami ingin segera disenangkan.
Jika ada rasa sakit atau ketidaknyamanan saat berhubungan intim, dukung, jika perlu temani istri untuk memeriksakan diri ke dokter kandungan. Pastikan istri merasa nggak sendirian dan mendapatkan bantuan serta dukungan yang ia butuhkan.
Jangan langsung menyimpulkan bahwa istri sudah tidak cinta atau tidak tertarik. Bisa jadi ia sedang melalui masa sulit yang sementara.
Bicarakan perasaan dengan nada lembut, bukan menyalahkan. Kalimat seperti, “Aku rindu banget dekat-dekat kamu,” bisa membuka ruang dialog yang aman.
Setelah bicara dari hati ke hati dan suami memahami bahwa penolakan seksual dapat disebabkan oleh beberapa alasan, seperti kecemasan, kelelahan, masalah keuangan, atau masalah lain, maka penting untuk mempraktikkan empati. Bersikaplah penuh pengertian terhadap keinginan dan kebutuhan istri.
Ini sangat penting terkait apa yang harus dilakukan ketika istri menolak ajakan suami berhubungan intim. Cobalah memahami kondisi istri, bukan hanya menuntut kebutuhan sendiri. Keinginan untuk dimengerti sering kali lebih penting daripada seks itu sendiri.
Jika masalah terus berlanjut, konselor atau terapis seks dapat membantu pasangan memahami akar masalah dan menemukan solusi bersama.
Keintiman seksual adalah pengalaman bersama yang membutuhkan rasa aman, saling menghargai, dan komunikasi yang sehat. Saat istri menolak ajakan berhubungan seks, itu bukan akhir dari hubungan melainkan sinyal untuk berhenti sejenak, mendengar, dan memperbaiki koneksi yang mungkin sempat terabaikan.
BACA JUGA: Malu tapi Penting: Obrolan Seks yang Perlu Dibahas Calon Pengantin dan Pengantin Baru
Cover: Alex Green/Pexels