banner-detik
PARENTING & KIDS

Sering Dianggap Sama, Apa Beda Childfree dan Childless?

author

Sisca Christinain 2 hours

Sering Dianggap Sama, Apa Beda Childfree dan Childless?

Fenomena childfree dan childless bukan untuk diperdebatkan, tapi untuk dipahami agar bisa saling menghargai dengan empati dan toleransi.

Sejak zaman dahulu, adalah wajar jika pasangan ingin memiliki memiliki anak setelah menikah. Bahkan bagi kebanyakan pasangan, memiliki anak sangat diharapkan. Selain untuk untuk melanjutkan garis keturunan, memiliki anak membuat kehidupan keluarga dirasa lengkap. Oleh karena itu, tak sedikit pasangan menikah yang melakukan berbagai upaya demi hadirnya sang buah hati di keluarga.

Namun seiring berkembangnya zaman, pemikiran tersebut ikut mengalami pergeseran. Tak semua pasangan menikah berprinsip sama tentang anak. Anak kini tak lagi sebuah kemutlakan dalam pernikahan. Bahkan, beberapa di antaranya dengan lantang mengikrarkan untuk tidak memiliki anak alias memilih childfree. Alasannya beragam, mulai dari kondisi medis, kesiapan mental hingga nilai hidup. Sayangnya, pemahaman ini sering memicu pro dan kontra.

Apa Itu Childfree?

Childfree adalah sebuah keputusan sadar dari seorang individu maupun pasangan untuk tidak memiliki anak atas pertimbangan-pertimbangan tertentu. Berdasarkan pandangan psikolog dan berbagai studi, pada umumnya keputusan tidak memiliki anak didasari oleh beberapa pertimbangan berikut:

  • Finansial atau ekonomi: biaya membesarkan anak semakin tinggi, sehingga pasangan merasa tidak memiliki kemampuan finansial yang cukup untuk membesarkan anak sesuai dengan kualitas hidup yang diinginkan.
  • Kesiapan mental dan emosional: beberapa individu atau pasangan memiliki trauma atau luka masa kecil sehingga membuatnya merasa tak siap mental menjadi orang tua. Beberapa merasa takut jika di kemudian hari menyakiti anaknya atau takut menjadi orang tua yang tidak sesuai harapan, sehingga memilih untuk tidak punya anak.
  • Nilai-nilai hidup: ada pula yang memilih untuk fokus membangun relasi berdua dengan pasangan saja, sambil membangun karir dan kehidupan yang lebih layak.
  • Kebebasan personal: ada juga yang ingin memiliki kebebasan personal untuk melakukan hal-hal lain yang dianggap lebih bermakna.
  • Populasi: beberapa orang memutuskan childfree karena merasa peduli dan prihatin dengan populasi yang semakin padat, sehingga tidak ingin menambah kepadatan penduduk.
  • Kondisi medis: memiliki penyakit tertentu yang membuat kehamilan berisiko, atau khawatir mewariskan kondisi medisnya ke anak.

Baca juga: 50 Pertanyaan yang Perlu Didiskusikan Bersama Pasangan Sebelum Punya Anak

Apa Bedanya dengan Childless?

Tak semua pasangan yang tidak memiliki anak didasari atas keputusan sendiri. Beberapa karena kondisi yang di luar kendalinya. Misalnya infertilitas, kondisi medis yang memengaruhi kesuburan, atau penyakit atau kondisi psikologis tertentu yang membuatnya tidak memungkinkan untuk bereproduksi maupun merawat anak. Kondisi ini disebut childless.

Stigma Sosial Tentang Childfree dan Childless

Hingga saat ini, childfree masih ramai diperbincangkan. Masih ada stigma negatif yang menempel pada orang yang membuat pilihan ini, terutama perempuan. Mereka acap dibilang egois, hanya ingin memikirkan diri sendiri.

Namun di sisi lain, semakin banyak figur publik yang terbuka untuk membahas perihal hal ini dan memberikan pandangan yang lebih luas untuk membuka cakrawala masyarakat tentang childfree.

Sesungguhnya, childfree dan childless bukanlah sebuah penolakan terhadap keberlanjutan kehidupan, melainkan respon jujur atas kondisi, nilai dan kapasitas masing-masing pasangan. Ini pilihan personal, bukan untuk dihakimi. Masyarakat perlu untuk belajar bersikap netral dan empatik terhadap perbedaan prinsip dan nilai-nilai perihal memiliki anak. Kondisi seperti mengajak kita untuk saling menghormati, memberi ruang untuk tak sepaham, tanpa mengkritik.

Baca juga: Parenting Reset: Apa yang Perlu Dipertahankan dan Dilepas di Tahun Baru

Cover: Image by freepik

Share Article

author

Sisca Christina

Ibu dua anak yang berprofesi sebagai digital nomad, yang juga suka menulis. Punya prinsip: antara mengasuh anak, bekerja dan melakukan hobi, harus seimbang.


COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan