
Peran dan keterlibatan ayah sejak anak belum lahir penting dan bisa berpengaruh besar pada tumbuh kembang dan karakter anak. Ini alasannya!
Selama ini kita sering dengar kalau ikatan ibu dan anak sudah terjalin sejak bayi masih di dalam kandungan dan keterlibatan ayah sering kali baru dianggap penting setelah bayi lahir. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa peran ayah sudah berpengaruh besar sejak anak masih dalam kandungan. Kehadiran ayah, baik secara fisik maupun emosional, berdampak pada karakter anak, perkembangan emosi, kemampuan sosial, hingga keberhasilan mereka di masa depan.
Yuk, kita bahas satu per satu kenapa peran ayah itu penting banget buat karakter dan perkembangan anak bahkan sebelum anak lahir.
Ikatan antara ayah dan bayi tidak harus menunggu momen kelahiran. Father-baby bonding bisa dimulai sejak masa kehamilan, misalnya ketika ayah sering berbicara pada janin, menemani ibu kontrol ke dokter, atau terlibat aktif dalam persiapan menyambut bayi.
Penelitian menunjukkan bahwa ayah yang terlibat sejak awal berkontribusi besar pada rasa aman dan kelekatan emosional anak. Ikatan ini menjadi dasar penting bagi kesehatan mental dan kemampuan anak membangun hubungan di masa depan.
Anak yang merasakan kehadiran dan afeksi ayah sejak dini juga cenderung memiliki rasa percaya diri lebih baik. American Psychological Association menyebutkan bahwa dukungan emosional dari ayah membantu anak merasa dihargai dan dicintai sejak awal kehidupannya.
Selain itu, keterlibatan ayah juga berdampak pada perkembangan kognitif. Ayah sering membawa sudut pandang dan gaya interaksi yang berbeda dari ibu, sehingga anak mendapatkan pengalaman belajar yang lebih beragam dan seimbang.
BACA JUGA: 13 Tanda Kamu Siap Punya Anak: Emosional dan Finansial
Ayah memiliki peran unik dalam pengasuhan yang melengkapi peran ibu. Kombinasi keduanya membantu menciptakan pola asuh yang seimbang.

Ayah sering berperan sebagai figur pelindung, baik secara fisik maupun emosional. Kehadiran ayah memberikan rasa aman dan kepercayaan diri pada anak. Dengan menetapkan batasan yang jelas, ayah membantu anak memahami aturan dan belajar menghadapi situasi sosial dengan aman.
Peran ayah sebagai penyedia tidak hanya soal finansial. Dukungan emosional, kehadiran, dan keterlibatan aktif juga membantu anak membangun rasa harga diri dan kemandirian. Anak belajar bahwa kebutuhan mereka diperhatikan dan dihargai.
Dalam hal disiplin, ayah sering menggunakan pendekatan yang mendorong anak berpikir dan memahami konsekuensi. Pola disiplin yang seimbang ini membantu perkembangan karakter anak tanpa menghilangkan kedekatan emosional.
Ini beberapa alasan pentingnya keterlibatan ayah dalam pertumbuhan dan perkembangan anak.
Keterlibatan ayah sejak awal kehidupan berdampak besar pada perkembangan otak dan kesehatan anak. Hubungan ayah-anak sama pentingnya dengan hubungan ibu-anak dalam masa perkembangan dini.
Penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan ayah berkaitan dengan hasil kesehatan bayi yang lebih baik, seperti peningkatan berat badan pada bayi prematur dan tingkat keberhasilan menyusui yang lebih tinggi. Sebaliknya, kurangnya keterlibatan ayah dapat berdampak jangka panjang, mulai dari masa bayi hingga dewasa.
Banyak yang mengira peran ayah lebih berdampak pada anak laki-laki. Faktanya, anak perempuan juga mendapat manfaat besar dari keterlibatan ayah. Kehadiran figur ayah yang suportif membantu anak, tanpa memandang gender, membangun rasa aman dan hubungan interpersonal yang sehat.
Anak yang tumbuh dengan ayah yang terlibat aktif cenderung memiliki kemampuan sosial yang lebih baik. Mereka lebih percaya diri, mampu mengendalikan diri, dan memiliki hubungan yang lebih sehat saat dewasa.
Penelitian menunjukkan bahwa anak dengan keterlibatan ayah yang tinggi memiliki tingkat perilaku bermasalah dan risiko kenakalan remaja yang lebih rendah. Pada anak perempuan, keterlibatan ayah juga dikaitkan dengan risiko depresi dan masalah psikologis yang lebih kecil.

Keterlibatan ayah berpengaruh langsung pada prestasi akademik. Anak dengan ayah yang aktif tercatat 43% lebih mungkin mendapatkan nilai A dan 33% lebih kecil kemungkinannya mengulang kelas.
Saat ayah terlibat dalam aktivitas sekolah seperti melakukan komunikasi dengan guru atau mendukung kegiatan anak, anak lebih menikmati sekolah, memiliki perilaku yang lebih sehat, dan lebih aktif secara sosial.
Dampaknya berlanjut hingga dewasa. Anak yang merasa dekat dengan ayahnya lebih mungkin melanjutkan pendidikan tinggi, memiliki pekerjaan stabil, serta terhindar dari berbagai risiko sosial.
Analisis dari lebih dari 100 studi menunjukkan bahwa memiliki ayah yang penuh kasih sama pentingnya dengan memiliki ibu yang penuh kasih dalam membentuk kebahagiaan dan kesejahteraan anak.
Anak dengan ayah yang terlibat cenderung lebih aman secara emosional, berani mengeksplorasi lingkungan, dan memiliki pandangan hidup yang lebih positif.
Keterlibatan emosional ayah membantu anak belajar mengelola stres dengan lebih baik, bahkan hingga dewasa. Sebaliknya, ayah yang hadir secara fisik tapi tidak terhubung secara emosional dapat menghambat perkembangan regulasi emosi anak.
Permainan fisik khas ayah, seperti rough-and-tumble play, membantu anak mengenali batas aman dalam mengambil risiko. Anak belajar mengendalikan impuls, memahami aturan, dan menyalurkan energi secara sehat yang merupakan keterampilan penting untuk mencegah perilaku agresif di kemudian hari.
Keterlibatan ayah bisa dimulai dari langkah-langkah sederhana sejak masa kehamilan, seperti:
BACA JUGA: “Kapan Punya Anak?”, Ini 5 Cara Menjawabnya dengan Tenang
Cover: Pavel Danilyuk/Pexels