banner-detik
#MOMMIESWORKINGIT

10 Mental Load Ibu Bekerja yang Jarang Terlihat Tapi Berbahaya

author

RachelKaloha day ago

10 Mental Load Ibu Bekerja yang Jarang Terlihat Tapi Berbahaya

Ini nih, deretan mental load ibu bekerja yang sebenarnya terlihat saat dia mulai nggak konsen diajak ngomong, atau tiba-tiba nge-blank; tubuh di sini; pikiran entah di mana.

Ibaratnya, nih, smartphone kita aja mungkin sering tiba-tiba loading, error, atau nge-lag, bahkan baterainya panas, saat sedang aktif-aktifnya digunakan. Nah, kurang lebih, begitulah keadaan para ibu bekerja, saat sedang dipenuhi oleh mental load. Sayangnya, hal ini seringkali diabaikan. Padahal, kalau dibiarkan begini terus, bisa berbahaya. Nggak cuma buat ibu, tapi buat sekeluarga. Yuk, mulai sadari lagi, deh, sebetulnya mental load ini kelihatan jelas, kok, lewat perilaku kita sehari-hari. Yang paling sering adalah ketika kita mulai nggak konsen saat diajak ngomong. Kelihatannya, sih, kaya lagi bengong, padahal pikiran di dalam otak jalan terus, nggak ada berhentinya. Apa saja, sih, isi pikiran ibu, khususnya ibu bekerja, yang katanya jarang terlihat ini?

1. Beban mengatur dan mengingat semua hal

Dari bangun pagi, ibu sudah harus menyiapkan banyak hal sebelum mulai kerja, yakni urusan rumah, dari sarapan anak dan suami, PR dan tugas sekolah anak (usia dini, terutama), jadwal kegiatan si mbak, jadwal antar jemput anak, dan kebutuhan rumah lainnya, yang ajaibnya, cuma ibu saja yang tahu. 

2. Standby 24 jam, meski di luar jam kerja

Begitu pulang kerja, sampai di rumah masih harus standby dengan urusan di rumah. Rumah tidak bisa semudah itu disebut sebagai tempat beristirahat, karena sebelum semua anggota keluarga tertidur pulas, tanggung jawab ibu masih berjalan. Kebayang, kan, bagaimana rasanya kalau pekerjaan kantor ada yang harus dibawa pulang? 

3. Merasa harus bisa segalanya

Selain pekerja profesional, di rumah tetap harus menjadi istri yang ideal, ibu yang bisa mendidik anak menjadi sempurna, dan mengasuh anak tanpa cela. Tekanan demi tekanan pun kian berdatangan. Meski katanya pandangan seperti ini perlu dilawan, realitanya, tidak semua pasangan bisa semudah itu diajak bertukar pikiran. Pahitnya lagi, tidak semua orang dekat bisa sepemahaman. 

4. Terus dihantui rasa bersalah 

Saat anak lagi ngambek, kita sudah harus berangkat kerja. Pertaruhan besar karena jam kantor yang tidak bisa ditawar. Sampai di kantor, nggak bisa fokus bekerja, akibatnya kita lalu merasa kurang profesional karena mendahulukan keluarga. Rasanya harus selalu menelan pil pahit, bahwa ibu bekerja tidak akan pernah cukup di dua dunia.

5. Takut dianggap mengeluh

Predikat “ibu bekerja” seringkali menjadi senjata makan tuan, karena kita tertuntut untuk bersyukur, daripada menjadi tidak berdaya. Maka sekalinya kita mengeluh, rasanya seperti kurang bersyukur. Padahal, mengeluarkan isi perasaan itu adalah obat saat burnout. Sayangnya, pandangan sosial tidak selalu berpihak pada kita, inginnya didengar, seringkali malah dihujat.

6. Kehilangan waktu untuk diri sendiri

Bukan karena tidak mau, tapi karena tidak ada lagi waktu. Padahal, pertaruhannya, lagi-lagi, sama diri sendiri. Menyempatkan waktu untuk berolahraga sebentar demi fisik yang kuat, rasanya sulit karena energi sudah habis, badan sudah terlalu lelah. Self-care terasa seperti barang mewah, bukan kebutuhan. 

Baca juga: 7 Cara Ampuh Hindari Stres untuk Ibu Bekerja, Stop Bornout! 

7. Berdaya dan mandiri, sekalinya ada masalah, selalu dianggap jadi biang keladi

Ketika seorang istri jauh lebih sukses dibandingkan suami, seringkali dianggap sebagai ancaman. Maka ketika rumah tangganya runtuh, tidak jarang orang akan mencibirnya dengan kata-kata, seperti, “Istri yang mandiri itu bikin suami merasa tidak dibutuhkan.” Padahal, mandiri itu bukanlah pilihan. Karena ketika terjadi apa-apa dengan suami, kemana kita berpegang, selain hanya menguatkan diri untuk bertahan? 

8. Tidak punya banyak pilihan

Lagi-lagi, meski kini sudah banyak perusahaan yang ramah ibu, tetap saja sulit untuk menjamin bahwa pekerjaan dan peran ibu akan selalu seimbang. Masih banyak para ibu yang merasa tidak sanggup kembali bekerja setelah cuti melahirkan, lalu memilih untuk resign. Demikian pula mereka yang jejak karirnya sudah cukup panjang, begitu menghadapi tantangan besar dalam pengasuhan anak, pada akhirnya membuat mereka harus siap mundur merelakan karirnya. 

9. Karier dan keluarga, tidak pernah bisa seimbang tanpa usaha

Usaha di sini mencakup tenaga, waktu, pengorbanan, dan air mata. Bila hingga saat ini karir dan keluarga Anda masih bisa berjalan dengan selaras dan seimbang, maka Anda patut menghargai usaha yang terus Anda lakukan. You should be proud of yourself!

10. Kelelahan mental yang dipendam terus

Mayoritas ibu bekerja pasti punya moto: “Biarlah kita terlihat kuat seperti baja. Sakit, emosi, dan semua yang berat cukup kita rasakan sendiri.” Tujuan mulianya, ingin anak bisa meneladani kekuatan kita. Namun, kita juga perlu tahu batasnya. Jangan sampai moto hidup ini pelan-pelan menggerogoti hati, relasi, bahkan kesehatan mental kita sendiri.

Sebuah pengingat untuk para Ibu Bekerja dari seorang konsultan karir, Simon Ingari:

10 Mental Load Ibu Bekerja yang Jarang Terlihat Tapi Berbahaya10 Mental Load Ibu Bekerja yang Jarang Terlihat Tapi Berbahaya

It takes a village to raise a child! Semua ibu bekerja tidak akan mampu sampai di tempat mereka sekarang, tanpa adanya support system dan lingkungan yang sehat. Suami yang supportif dan terlibat, pengertian dan selalu sejalan, ART yang jujur dan penyayang, supir yang sabar, orang tua maupun mertua yang ikut andil dalam pengasuhan, daycare yang bisa diandalkan, dan tentunya perusahaan dan lingkungan kerja yang menjunjung tinggi, bukan hanya “ibu bekerja”, tetapi peran “ibu yang bekerja”.

Image by YuliiaKa on Freepik

Share Article

author

RachelKaloh

Ibu 2 anak yang hari-harinya disibukkan dengan menulis artikel dan content di media digital dan selalu rindu menjalani hobinya, menjahit.


COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan