Sorry, we couldn't find any article matching ''

"Kapan Punya Anak?", Ini 5 Cara Menjawabnya dengan Tenang
Lelah ditanya “kapan punya anak?” sampai bikin sedih dan stres? Coba lakukan 5 cara ini untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan elegan.
Bagi banyak pasangan yang sudah menikah, pertanyaan tentang momongan seolah menjadi “menu wajib” di setiap acara keluarga atau reuni dengan teman lama. Meskipun seringkali diajukan sebagai bentuk basa-basi, bagi pihak yang ditanya, hal ini bisa terasa sangat personal, sensitif, bahkan menyakitkan.
Pengalaman seperti ini juga masih saya rasakan sampai detik ini. Pertanyaan seperti “udah isi?”, “kapan hamil?” atau “kapan punya anak?” masih sering saya terima, khususnya dari saudara yang jarang berkomunikasi dengan saya. Padahal menurut saya, alangkah lebih baik jika mereka bertanya kabar terlebih dulu. Barulah kalau ingin basa-basi atau ingin tahu soal kapan punya anak bisa ditanyakan dengan cara yang lebih lembut dan sopan seperti, “Kira-kira sudah ada rencana untuk punya anak atau belum?”
Karena, pastinya banyak pasangan yang sudah menikah juga menginginkan anak. Mungkin ada Mommies dan Daddies yang seperti saya, karena pacarannya hanya sebentar dan tidak lebih dari satu tahun, akhirnya memutuskan untuk menunda punya anak di satu tahun awal pernikahan. Tapi, mungkin juga ada pasangan yang sudah menikah lebih dari lima tahun dan belum diberikan anak. Padahal, segala usaha sudah dilakukan dan diperjuangkan.
Sebelum Menjawab Pertanyaan “Kapan Punya Anak”, Pahami 5 Hal Ini
Memang, pertanyaan keramat ini sulit untuk dihindari karena datangnya tidak bisa ditebak. Meski seringkali ingin marah atau bahkan menangis, tapi Mommies bisa menyikapinya tanpa harus merusak suasana atau mengorbankan kesehatan mental kita sendiri.
Berikut adalah beberapa tips yang bisa Mommies terapkan.

Foto: cottonbro studio/Pexels
1. Sadari Bahwa Mommies Tidak Berutang Penjelasan
Hal pertama yang perlu ditanamkan adalah Mommies memiliki hak penuh atas privasi kehidupan rumah tangga. Tidak ada kewajiban untuk menjelaskan kondisi medis, rencana masa depan, atau pilihan hidup kepada siapa pun jika Mommies tidak merasa nyaman.
2. Pilih Respons Berdasarkan Kedekatan
Cara menjawab sangat bergantung pada siapa yang bertanya. Mommies bisa membaginya ke dalam tiga kategori:
Jawaban Santai (Untuk Teman/Kenalan):
- “Doakan saja ya, semoga di waktu yang tepat.”
- “Masih menikmati masa pacaran berdua, nih. Mohon doanya, ya!”
Jawaban Humoris (Untuk Mencairkan Suasana):
- “Wah, masih latihan terus, nih, biar nanti jadi orang tua yang jago!”
- “Belum ada, slotnya masih penuh buat traveling dulu.”
Jawaban Tegas namun Sopan (Untuk yang Terlalu Ikut Campur):
- “Terima kasih perhatiannya, tapi kami lebih nyaman tidak membahas ini sekarang.”
- “Itu topik yang cukup personal bagi kami, jadi kita bahas yang lain saja ya?”
3. Teknik “Balikkan Pertanyaan”
Jika Mommies merasa tidak nyaman terus-menerus menjadi pusat perhatian, cobalah mengalihkan topik pembicaraan kembali kepada si penanya.
- “Belum nih. Eh, gimana kemarin sekolah anak kamu? Katanya juara lomba, ya?”
- “Masih proses. Ngomong-ngomong, resep kue yang kamu bawa tadi enak banget, cara buatnya gimana?”
4. Kelola Emosi di Dalam Diri
Seringkali, rasa sakit bukan datang dari pertanyaannya, melainkan dari asumsi kita terhadap niat si penanya. Cobalah untuk:
- Asumsikan niat baik: Anggap mereka hanya bingung mencari topik pembicaraan.
- Atur ekspektasi: Saat akan datang ke acara keluarga, siapkan “template” jawaban di kepala agar Mommies tidak kaget saat pertanyaan itu muncul.
5. Kompak dengan Pasangan
Pastikan Mommies dan suami memiliki kesepakatan tentang bagaimana cara menjawab pertanyaan ini. Dukungan pasangan sangat penting agar Mommies tidak merasa berjuang sendirian menghadapi tekanan sosial.

Foto: RF._.studio _/Pexels
Intip Jawaban dari para Mommies, Yuk!
Saya juga sempat bertanya kepada beberapa Mommies di WhatsApp Group MD Community soal bagaimana cara mereka menjawab pertanyaan “kapan punya anak?”. Berikut jawaban mereka dari yang santai hingga, humoris, hingga sedikit sarkas.
- “Disenyumin aja dan minta doanya, hahaha walau hati nyesek.”
- Aku jawabannya gini, “Pengen pacaran halal dulu dan jalan-jalan.” 🤭
- “Hehe iya, masih disuruh fokus mesra-mesraan, nih, sama ayang.”
- Kalau aku lihat siapa yang nanya biasanya. Kalau teman aku atau suami, biasanya kita jawab, “Ya kita mau nikmatin dulu jadi pasangan suami istri sekalian nyiapin diri kalau dikasih titipan anak nantinya.”
- Kalau yang nanya julid jawabannya, “Cuma Allah yang Maha Pemberi dan Maha Tahu kapan waktu yang tepat buat kasih rezeki berupa anak ke kami. Kalau mau tau pastinya kapan, coba tanya langsung aja sana ke Allah. Yang penting saya dan suami sudah berusaha.”
- “Anak kan rezeki dari Tuhan, ya. Mungkin Tuhan pengennya kami happy-happy dulu berdua dan memang belum rezekinya. Emang kalau belum rezeki bisa maksa Tuhan buat ngasih?”
- “Nanti kalo aku hamil jadi donatur buat kontrol USG-nya, ya.”
Untuk Orang yang Suka Bertanya “Kapan”, “Kapan”, dan “Kapan”
Sebelum bertanya, usahakan untuk tahu dulu kondisi orang yang akan ditanya. Kalau memang usia pernikahan baru 1 bulan atau 1 tahun, cukup wajar jika memang belum hamil dan belum punya anak.
Bila ingin bertanya, usahakan agar pertanyaan tersebut bukan sebagai basa-basi sekadar ingin tahu dan cobalah menggunakan kalimat yang lebih sopan. Karena, daripada bertanya tapi malah meninggalkan rasa sedih dan membuat stres orang yang ditanya, fokuslah untuk lebih mendoakannya. Masih banyak cara berbasa-basi dan topik yang bisa jadi obrolan yang lebih berbobot, kok.
Cover: KATRIN BOLOVTSOVA/Pexels
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS