banner-detik
PARENTING & KIDS

Parenting Reset: Apa yang Perlu Dipertahankan dan Dilepas di Tahun Baru

author

Sisca Christina20 minutes ago

Parenting Reset: Apa yang Perlu Dipertahankan dan Dilepas di Tahun Baru

Awali tahun baru dengan parenting reset: merefleksikan cara-cara pengasuhan kita, kemudian mengambil langkah konkrit menuju relasi dengan anak yang lebih empatik.

Dari sekian daftar resolusi tahun baru yang kita buat setiap tahunnya, ada satu yang sering luput dari perhatian kita: resolusi parenting. Padahal, merefleksikan kembali fungsi dan peran kita sebagai orang tua dalam pengasuhan anak tak kalah penting dengan resolusi-resolusi lainnya.

Bukan perkara ingin menjadi orang tua yang lebih sempurna dari tahun lalu. Bukan pula sekadar ingin menambah aturan-aturan baru. Namun di momen tahun baru ini, mari bertumbuh menjadi orang tua yang lebih sadar dan lebih hadir.

Mari sejenak lakukan parenting reset. Mengambil waktu sejenak untuk berhenti, berefleksi, mengevaluasi perjalanan kita sebagai orang tua dalam mengasuh anak, sampai di titik ini. Merenungkan apa strategi-strategi apa yang perlu dilepas. Mengganti cara dan program lama yang tidak lagi relevan dan efektif; yang sekiranya bukannya membuat relasi dengan anak makin hangat, mungkin malah makin merenggang.

Sebaliknya, mari kita juga menilik apa yang perlu dipertahankan. Mempertahankan apa yang efektif, bahkan mengimprovisasinya di tahun ini demi membangun relasi yang lebih empatik dengan anak.

Sekali lagi, fokusnya bukanlah untuk menjadi orang tua sempurna, namun menjadi orang tua yang senantiasa bertumbuh dan berprogres demi hubungan keluarga yang sehat.

Parenting Reset: Hal yang Perlu Dipertahankan di 2026

1. Koneksi Emosional, Bukan Sekadar Kontrol

Di momen tahun baru ini, mari ingat kembali prinsip dasar ketaatan dan disiplin anak yaitu bersumber dari relasi yang hangat dengan orang tua, bukan sekadar hukuman atau konsekuensi. Ingat, hadir secara fisik saja nggak cukup, lho. Orang tua perlu proaktif untuk mewujudkan hubungan emosional yang sehat dengan anak dengan cara mendengar tanpa menghakimi, memvalidasi perasaan anak dan membangun rasa aman. Anak akan cenderung lebih kooperatif ketika merasa diterima, dipahami dan aman, ketimbang hanya “ditertibkan”.

2. Nilai-nilai Dasar Keluarga

Jika kita ingin anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang berintegritas di tengah gempuran teknologi dan gaya hidup di era modern ini, maka nilai-nilai dasar keluarga berupa kejujuran, konsistensi, tanggung jawab, empati, disiplin, respek, keadilan tetap perlu dipegang teguh.

3. Batasan yang Jelas, Masuk Akal, Konsisten Namun Tetap Hangat

Menerapkan aturan atau batasan tetap penting. Namun, dalam pelaksanaannya, perlu pendekatan yang lebih manusiawi agar anak mampu melaksanakan dengan sadar ajaran-ajaran baik yang kita terapkan, bukan dengan paksaan atau sekadar memenuhi tuntutan.

4. Konsisten Menuntun, Bukan Menuntut

Anak perlu teladan dalam mengimplementasikan berbagai-bagai aturan, ajaran, kewajiban sehari-hari. Mereka perlu dituntun sampai sanggup mengerjakannya sendiri tanpa diminta. Menuntut sekadar memberi beban tanpa arahan yang konkret hanya akan menghasilkan pertentangan.

5. Rutinitas Kecil yang Bermakna

Bonding dibangun dari kebiasaan harian yang tampak sederhana seperti makan bersama, ngobrol sebelum tidur, piknik sesekali, saling bertanya perasaan, kebutuhan dan kondisi; bukan momen-momen besar, liburan megah atau hadiah-hadiah sesekali.

Baca juga: 30 Resolusi Parenting yang Realistis dari para Orang Tua. Nggak Kebanyakan Teori, Anti Burn-Out!

Hal yang Perlu Dilepas di Tahun Ini

1. Pola Asuh Otoriter

Mungkin kita bukan orang tua otoriter. Tetapi, bisa jadi cara-cara kita masih mengandung gaya pengasuhan lama yang menciptakan strata antara orang tua dan anak. Misalnya berprinsip: “Pokoknya saya orang tua, kamu anak, maka kamu wajib patuh sama saya.” Selain itu, saatnya kita juga melepaskan ancaman, bentakan, paksaan dan sejeisnya lainnya yang membuat hubungan orang tua dan anak makin berjarak.

2. Ekspektasi Tidak Realistis

Anak bukanlah perpanjangan tangan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan ekspektasi kita. Jadi, stop memaksakan kehendak kita kepada anak. Tugas orang tua adalah memotivasi, mengarahkan dan mendampingi anak dengan sepenuh hati.

3. Prinsip Orang Tua Tak Pernah Salah hingga Orang Tua yang Sering Merasa Bersalah

Sadar atau tidak, orang tua sering merasa lebih benar, hanya karena usia lebih tua, dan pengalaman hidup lebih banyak. Sebaliknya, ada juga orang tua yang kerap diliputi rasa bersalah, karena merasa kurang hadir karena sibuk bekerja, kurang sabar, kurang waktu, kurang tenaga hingga merasa gagal. Tahun ini, saatnya melepaskan prinsip-prinsip tersebut. Orang tua perlu belajar lebih rendah hati, belajar merasa cukup dan mencintai diri sendiri dan punya keinginan bertumbuh.

4. Mindset “Anak Harus Selalu Menurut”

Saatnya menyambut mindset “agree to disagree”. Seiring pertumbuhan anak, mereka akan punya pendapatnya sendiri. Menerima pendapatnya nggak berarti kita selalu setuju, namun kita jadi bisa membuka ruang diskusi yang sehat yang penting untuk pertumbuhan percaya diri dan sikap kritis anak.

Parenting itu bukan sesuatu yang statis. Seiring pergerakan hidup yang dinamis dan pertambahan usia yang membawa perubahan diri anak dalam berbagai aspek, di situ pulalah kita perlu menyesuaikan cara mengasuh anak agar tujuan kita membesarkan anak dengan rasa aman diri yang kuat, serta berkarakter utuh, tercapai.

Baca juga: 12 Cara Cerdas Mengelola Keuangan untuk Anak dan Remaja

Cover: Image by Lifestylememory on Freepik

Share Article

author

Sisca Christina

Ibu dua anak yang berprofesi sebagai digital nomad, yang juga suka menulis. Punya prinsip: antara mengasuh anak, bekerja dan melakukan hobi, harus seimbang.


COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan