
Menjalankan peran ayah tentu ada bahagianya, tapi juga ada stresnya. Maka menjaga kesehatan mental ayah sangatlah penting.
Ayah memainkan peran penting dalam perkembangan anak sehingga mengasuh anak secara aktif tidak hanya dapat meningkatkan kesehatan jangka panjang bagi anak, namun juga dapat membentuk hubungan yang manis dan akrab antara suami dan istri. Efek positifnya tentu saja pada kesehatan mental ayah.
Tapi, menjadi seorang ayah, baik yang baru punya anak atau yang sudah bertahun-tahun bukannya tanpa tantangan.
Menurut Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., Psikolog, Psikoterapis, Psikolog Klinis Keluarga yang akrab dipanggil Mbak Nina, di bawah ini adalah masalah yang biasa dihadapi para ayah (termasuk ayah baru) saat membesarkan anak:
BACA JUGA: Tidak Ada Peran Ayah, Ini 10 Cara Mengatasi Fatherless pada Anak
Dampak jika ayah tidak menjaga kesehatan mentalnya:
Dampaknya terhadap keluarga:

Menurut Psikolog Nina, penting bagi seorang ayah menjaga dan terbuka tentang kondisi mentalnya. Apabila ayah tak menjaga kesehatan mentalnya, termasuk tidak menyadari bahwa ia rentan pula mengalami masalah atau gangguan kesehatan mental, maka ia juga rentan bermasalah dalam pekerjaan dan kariernya, perannya sebagai suami dan ayah, juga peran sebagai individu dalam masyarakat.
Perlu disadari bahwa ayah yang mengalami postpartum depression sebetulnya angkanya cukup tinggi. Bisa sampai 10% dari ayah baru juga mengalami postpartum depression atau perinatal depression/anxiety, bukan karena ia hamil dan melahirkan, namun karena stres di periode baru saja menjadi seorang ayah atau baru saja bertambah anak.
Seringkali ini tidak disadari baik oleh ayah sendiri ataupun orang-orang lain. Banyak yang mengira hanya ibu yang memang melahirkanlah yang bisa mengalami postpartum depression. Apalagi karena bentuknya agak berbeda, cukup sering ayah tak membiarkan diri menangis atau terlihat sedih, sehingga dikira tak mengalami depresi. Reaksi ayah misalnya marah atau lebih lama kabur dari rumah, atau bahkan mengonsumsi alkohol-rokok-narkoba lebih banyak.
Pastikan dari awal Daddies dan pasangan punya prinsip dan pemikiran yang sama dalam hal merawat anak. Dengan punya prinsip dan pemikiran yang sama, ini akan membuat Mommies dan Daddies terhindar dari konflik-konflik yang tak perlu.
Menjadi seorang ayah tentu disertai dengan banyak perubahan dan tantangan baru setiap hari. Jangan takut karena tidak seorang pun yang akan benar-benar siap. Wajar jika terkadang merasa kewalahan atau bingung. Jangan malu untuk belajar dan bertanya kepada anggota keluarga lain yang sudah berpengalaman atau dokter untuk meminta nasihat.
Sebagian besar jadwal Daddies dan Mommies akan berkisar pada bayi kalian, jadi berupayalah untuk fleksibel. Bekerjasamalah dengan pasangan dan berbagi tugas agar kalian berdua tidak kewalahan.
Jika memungkinkan ambil cuti kerja untuk menjalin ikatan dengan bayi, anak, dan pasangan Daddies. Bekerja sama mengurus semuanya akan mendekatkan seluruh anggota keluarga dan bikin kalian makin kompak.
Ayah yang terlibat dalam perkembangan anak-anak mereka memberikan dampak positif bagi anak. Tidak hanya meningkatkan kesehatan anak, tetapi juga dapat memperkuat ikatan ayah dengan pasangan, juga kesehatan mental ayah.
Bermain dan menghabiskan waktu bersama anak sangat penting untuk perkembangannya dan berdampak besar pada cara mereka berinteraksi dan memperlakukan orang lain seiring pertumbuhannya. Ini juga memperkuat ikatan ayah dengan anak dan mendukung kesehatan mental ayah.
Hanya karena punya anak bukan berarti hubungan romantis suami dan istri boleh berkurang. Pastikan untuk tetap menjaga kemesraan dengan melakukan aktivitas menyenangkan bersama.
Saat baru punya bayi, menikmati waktu tidur yang cukup memang nggak gampang tapi coba usahakan. Salah satunya dengan berbagi tugas dengan pasangan. Daddies bisa minta tolong anggota keluarga yang lain untuk menjaga bayi saat Daddies istirahat.
Orang tua, kakek-nenek, dan anggota keluarga lainnya seringkali memberi banyak saran tentang cara terbaik merawat anak. Beberapa di antaranya mungkin terasa seperti kritik daripada nasihat yang bermanfaat. Tetapkan batasan sejak awal. Jika ada yang terlalu memaksakan pandangan mereka, tolaklah dengan tegas tapi sopan.
Sebuah penelitian terhadap lebih dari 4.000 ayah menemukan bahwa 23% ayah merasa sangat terisolasi dan 20% mengaku kehilangan banyak teman. Ini berarti ayah harus tetap menjaga pertemanan. Pergilah ngopi atau berolahraga bersama. Ayah juga bisa mengikuti forum, blog, dan komunitas yang membantu kalian terkoneksi dengan ayah-ayah lain untuk berbagi pengalaman.
BACA JUGA: 7 Ketakutan Para Ayah saat Membesarkan Anak Laki-laki
Psikolog Nina juga menyarankan para ayah untuk berkomunikasi secara terbuka tentang stres yang mereka alami, baik kepada pasangan maupun orang lain yang dapat dipercaya. Carilah bantuan, baik untuk mengatasi urusan rumah tangga ataupun untuk membantu keluarganya.
Para ayah juga harus melakukan self-care misalnya rutin berolahraga, makan sehat, dan bertemu teman. Baik sekali kalau dalam melakukan self-care juga melibatkan istri. Saran lain, pelajari strategi parenting dan berusaha terlibat dalam proses pengasuhan anak. Jika diperlukan, berkonsultasilah dengan konselor, psikolog klinis, atau psikiater.
Cover: user18526052 on Freepik