Anak Pemarah? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya Menurut Psikolog

Parenting & Kids

Mommies Daily・27 Mar 2024

detail-thumb

Anak Mommies suka marah berlebihan? Yuk, simak penyebab dan cara mengatasi anak pemarah agar anak memahami cara mengelola emosinya dengan benar.

Marah merupakan salah satu bentuk emosi yang pasti dialami oleh semua orang, termasuk anak-anak. Marah adalah respons alami manusia terhadap situasi yang kurang menyenangkan atau merugikan. Biasanya, anak mengeluarkan amarahnya karena berbagai alasan, seperti merasa sedih atau frustasi karena tidak bisa melakukan sesuatu dan marah tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkannya.

Namun, jika kemarahan anak tidak bisa dikontrol dan berlebihan, hal ini dapat menjadi masalah bagi anak dan orang-orang di sekitar karena tidak semua orang bisa memahami perasaannya. Untuk mengatasi masalah tersebut, Mommies Daily berkesempatan untuk bertanya pada Paramita Estikasari, M.Psi, Psikolog Klinis Anak dan Remaja mengenai penyebab dan cara mengatasi anak yang suka marah berlebihan. Yuk, simak penjelasannya di bawah ini.

Penyebab Anak Suka Marah Berlebihan

Jika emosi anak tidak bisa dikendalikan, Mommies harus mengetahui pemicu perilaku marah anak sebagai berikut.

  1. Tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkannya, hal ini dapat menyebabkan anak merasa distres atau frustasi.
  2. Overstimulasi, anak yang memiliki masalah sensori biasanya akan cenderung lebih mudah merasakan sensory overload atau kelelahan akibat banyaknya rangsangan dari lingkungan di sekitar.
  3. Indikasi adanya gangguan perkembangan atau psikologis, seperti ADHD, autisme, kecemasan, gangguan belajar, dan sebagainya.

BACA JUGA: 5 Cara Efektif Mengajari Anak Mencintai Diri Sendiri, Ajarkan Sejak Dini!

Cara Mengatasi Anak yang Suka Marah Berlebihan

Dalam sesi wawancara, Psikolog Mita juga memberikan cara mengatasi anak pemarah yang berlebihan dengan mencari tahu penyebabnya sebagai berikut.

  1. Jika anak marah karena tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkannya, Mommies bisa memberikan pengasuhan dan konsekuensi yang konsisten dengan mengajarkan teknik mengelola emosi negatif, tidak memberikan apa yang anak minta jika memang tidak dibutuhkan, dan memberikan pujian pada perilaku positif anak.
  2. Kalau anak marah karena overstimulasi, Mommies dapat memberikan aktivitas yang membuat anak menjadi lebih rileks, seperti memberikan pijatan, mandi air hangat, minum air dingin, memenuhi kebutuhan tidur/istirahat serta makan dan nutrisi.
  3. Apabila ada permasalahan psikologis, anak harus melakukan asesmen oleh ahli sehingga dapat ditangani dengan lebih tepat melalui terapi tertentu.

Foto: Alexander Dummer on Pexels

Tips Mengontrol Emosi Anak Agar Tidak Mudah Marah

Untuk mengatasi masalah emosi anak, pastikan emosi orang tuanya sudah teregulasi dengan baik agar lebih siap untuk membantu anak mengelola emosinya sebagai berikut.

  1. Membiarkan dan mendampingi anak untuk mengeluarkan emosi negatif sekaligus memvalidasi perasaannya.
  2. Tetap tenang dan konsisten, respons yang kasar atau marah cenderung meningkatkan agresi anak, baik secara verbal maupun fisik. Dengan tetap tenang, Mommies juga memberikan contoh dan mengajari anak terkait perilaku yang tepat untuk dilakukan.
  3. Saat anak sudah lebih tenang, ajak anak untuk berbicara atau negosiasi.
  4. Bantu anak untuk melakukan aktivitas atau teknik-teknik untuk menenangkan diri, seperti bernapas dengan perlahan, melompat, minum air putih, berhitung sampai 10, dipeluk, berjalan, melompat-lompat, dan sebagainya.

Tanda Perilaku Marah pada Anak yang Harus Diwaspadai

Marah adalah bentuk emosi yang normal dan harus diungkapkan. Hal ini dapat memberitahu anak-anak ketika sesuatu terjadi secara tidak adil atau tidak benar, mereka bisa mengutarakan kebutuhannya. Meski begitu, Mommies tetap harus waspada jika perilaku marah anak menjadi tidak terkendali dan agresif sampai menyakiti dirinya sendiri atau orang lain.

Tips Menerapkan Cara Marah yang Baik pada Anak

Orang tua harus mampu untuk mencontohkan kepada anak bagaimana cara mengekspresikan emosi marah dengan tepat (Co-regulasi) sehingga emosi mereka dapat tersalurkan dengan baik tanpa menyakiti diri sendiri atau orang lain. Sebagai contoh, orang tua dapat mengidentifikasi hal yang membuat anak marah, mengajarkan anak menyampaikan hal yang membuatnya marah, melakukan regulasi emosi (dengan bernafas atau minum), bernegosiasi, dan tetap tenang.

BACA JUGA: Hati-hati, Bullying pada Anak Juga Bisa Terjadi di Rumah! Ini Tandanya!

Itulah penyebab dan cara mengatasi anak yang suka marah berlebihan. Semoga artikel ini dapat membantu Mommies untuk mengelola emosi anak dengan baik dan mengatasi masalah kemarahannya.

Ditulis oleh: Shandya Pricilla

Cover: mohamed abdelghaffar on Pexels