Anak Menjadi Saksi Bullying? Ajarkan Anak Lakukan Hal Ini!

Parenting & Kids

Mommies Daily・11 Mar 2024

detail-thumb

Anak menjadi saksi bullying bisa jadi karena dia berada di tempat dan waktu yang salah. Maka penting bagi orang tua untuk ajarkan anak beberapa hal ini agak anak tak tinggal diam.

Dalam satu bulan terakhi rini kasus bullying di lingkungan pendidikan semakin marak terjadi.  Dari berita tersebut jelas tergambar bahwa bullying memang menyakitkan bagi korbannya.

Baca juga: Saat Anak Menjadi Pelaku Bullying, Orang tua Wajib Lakukan Ini!

love scamming

Tapi apa sih sebenarnya bullying itu?

Bullying atau perundungan diartikan sebagai tindakan yang menyakiti, disengaja, dilakukan berulang kali dan melibatkan kekuatan yang tidak seimbang (ada si kuat yang menyakiti dan si lemah sebagai korban yang tidak bisa melawan). Bullying banyak jenisnya: fisik, verbal, relasional dan cyberbullying.

Ketika kita berbicara tentang bullying, seringkali fokusnya hanya pada korban saja atau pelaku saja, padahal ada tiga pihak yang terlibat dalam suatu peristiwa bullying. Ketiga itu adalah pelaku, korban dan saksi/bystander.

Kami sudah membahas mengenai apa yang perlu dilakukan ketika anak menjadi pelaku maupun korban. Kali ini mari kita bahas saat anak menjadi saksi terjadinya tindakan bullying.

Baca juga: Saat Anak Menjadi Korban Bullying

Apa itu saksi bullying atau bystander?

Saksi ini adalah mereka yang melihat peristiwa bully terjadi. Ada banyak peran yang diambil oleh para saksi ini, antara lain ada yang ikut menyoraki, ada yang ingin menghentikan tapi tidak punya keberanian dan ada pula yang tidak peduli karena merasa bukan urusannya. Saksi ini sebenarnya punya peran besar dalam menghentikan bully. Saksi ini yang sangat bisa diharapkan untuk paling tidak melaporkan pada pihak yang dapat membantu seperti guru dan sebagainya untuk menghentikan bully. 

pesantren

Bagaimana jika anak Anda menjadi saksi dari peristiwa bully?

Ajaklah anak bicara untuk membahas apa dampak dari bullying ini. Anak perlu tahu bahwa bully merupakan tindakan salah yang membawa dampak negatif. Dengan memahami ini, anak diharapkan tidak meniru menjadi perilaku dan mau melakukan sesuatu untuk menghentikan bully. Sadarkan anak bahwa ini merupakan tanggung jawabnya juga untuk menghentikan bully meskipun dia bukan korban atau tidak kenal dengan korban. Seringkali yang menghambat saksi untuk melapor adalah alasan takut dibilang pengadu. Oleh karenanya, ketika anak sudah sadar bahwa dia harus melakukan sesuatu untuk menghentikan bully, diskusikan dengan anak cara-cara yang dapat dia gunakan untuk menghentikan bully. Misalnya melaporkan tindakan bully secara diam-diam pada guru sehingga tidak dicap pengadu atau tidak setia kawan. Diskusikan pula dengan anak bagaimana dia bisa membantu memulihkan korban, seperti tetap mengajak korban bermain bersama.

Dalam menangani bullying, dibutuhkan pendekatan yang menyeluruh dari semua pihak. Tentu orangtua tidak bisa sendiri, perlu gerakan serentak dari sekolah, pemerinta dan juga masyarakat umum. Namun sebagai orang dewasa terdekat dengan anak, orangtua punya peranan besar dalam mendidik anak agar dia tumbuh menjadi anak yang penuh empati terhadap orang lain dan sekaligus punya keberanian untuk mempertahankan diri atau membela orang lain yang tertindas.