Anak Menjadi Korban Bullying? Orang tua Perlu Lakukan Hal Ini

Parenting & Kids

fiaindriokusumo・03 Mar 2024

detail-thumb

Kenali ciri-ciri anak yang rentan menjadi korban bullying dan apa saja yang perlu dilakukan orang tua agar tidak salah langkah dan membuat anak mau bercerita.

Dalam durasi kurang dari satu bulan, berita tentang bullying di kalangan anak-anak di Indonesia sangat ramai. Mulai dari issue bullying yang terjadi di sebuah sekolah swasta berbiaya mahal yang membuat korban masuk rumah sakit, kasus bullying di Pondok Pesantren yang mengakibatkan korban meninggal dunia hingga yang terbaru kejadian bullying di kota Batam. Orang tua seakan tidak dikasih waktu jeda untuk berhenti memikirkan issue bullying dan kekerasan ini.

Sejujurnya, sebagai orang tu dari anak remaja, issue bullying ini lumayan menyita perhatian saya karena menurut saya, dari pemerintah dan pihak sekolah juga kadang berkesan lambat penanganannya.

Baca juga: Ini Alasan Kenapa Anak Menjadi Pelaku di Bullying

Alasan kenapa sekolah sering tidak terbuka tentang issue bullying yang terjadi di sekolah

Kekhawatiran terhadap publisitas negatif yang berdampak pada reputasi sekolah (apalagi jika sekolah itu dikenal sebagai sekolah favorit).

Khawatir potensi tuntutan hukum yang dilakukan oleh orang tua dari korban bullying

Tidak punya kemampuan yang cukup di dalam menangani kejadian bullying

Kurangnya pemahaman mengenai issue  bullying dan menganggap itu hanya hal normal yang dilakukan oleh anak-anak

Minimnya komunikasi dan kolaborasi antara pihak sekolah dan orang tua murid

Sejujurnya dibutuhkan kerja sama dan kolaborasi antara orang tua murid, para murid itu sendiri, pihak sekolah, masyarakat dan terutama pemerintah.

Kenapa anak korban bullying cenderung diam dan tidak mau cerita?

Orang tua seringkali mengetahui anaknya menjadi korban bullying setelah anak mengalami banyak bullying dan sudah berlangsung cukup lama, karena anak bisa jadi enggan menceritakan apa yang dialaminya. Ada banyak alasan kenapa anak cenderung dia, antara lain: Anak takut karena mendapat ancaman, anak takut malah disalahkann oleh orang tua, anak khawatir malah diminta menyelesaikan sendiri, anak merasa percuma cerita karena tidak ada yang bisa membantu atau anak bahkan tidak tahu kalau dirinya adalah korban.

Siapa saja yang beresiko menjadi korban?

Antara lain, anak baru, paling muda usianya, anak yang punya ciri fisik menonjol, anak yang terlihat lemah, anak yang dianggap mengganggu atau anak yang berada pada waktu dan tempat yang salah (misalnya, pelaku lalu ikut menjadi korban). 

Baca juga: Kasus Bullying Pernah Terjadi di 10 Sekolah Ini

Bagaimana mengenali ciri-ciri bahwa anak Anda telah menjadi korban?

Lewat tanda-tanda dalam perilakunya, orangtua dapat mendeteksinya. Ciri-cirinya antara lain, ada luka fisik yang anak sulit/enggan menjelaskan penyebabnya saat ditanya, ada gangguan makan dan tidur, malas ke sekolah, menarik diri dari pergaulan, murung, marah berlebihan, minta uang untuk keperluan yang tidak jelas, sering menyalahkan diri sendiri dan enggan bercerita tentang teman atau sekolah.

Apa yang perlu dilakukan orang tua jika anak menjadi korban bullying?

Walau emosi sebagai orang tua korban tentu saja terusik, namun tetap usahakan untuk tenang karena fokus utama di sini adalah emosi anak bukan emosi orangtuanya.

Dengarkan anak dan hargai perasaannya.

Yakinkan anak bahwa ada banyak pihak yang akan membantu. Ini sangat penting karena seringkali korban itu merasa tidak berdaya. Maka buktikan ke anak bahwa perasaannya yang ini salah. Anda bisa membantunya sebagai orang tuanya. 

Jalin kerja sama dengan sekolah untuk mengatasi hal ini sambil di rumah juga berusaha memulihkan kepercayaan diri anak.

Hindari memojokkan atau menyalahkan anak atas apa yang terjadi.

Diskusikan dengan anak apa yang dapat ia lakukan untuk menghentikan bully.

Kuatkan anak bahwa dia punya daya untuk menghentikan bully dengan cara berani mempertahankan atau membela diri.

Latih anak untuk bersikap asertif atau berani untuk mengungkapkan pikiran/perasaannya.

Hargai setiap kemajuan atau hal positif yang ditunjukkan anak, sekecil apapun itu.