10 Tanda Adanya Kecenderungan Bunuh Diri pada Remaja, Orang Tua Harus Peka!

Behavior & Development

Fannya Gita Alamanda・07 Sep 2023

detail-thumb

Mengetahui faktor yang mendorong keinginan bunuh diri pada remaja, tanda-tanda peringatan, dan langkah-langkah pencegahannya akan membantu orang tua melindungi anak remaja mereka.

Di Amerika Serikat, bunuh diri adalah penyebab tertinggi kematian dan menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), meski beragam bentuk bantuan banyak tersedia dan mudah diakses, kasus bunuh diri terus meningkat.

Penelitian menunjukkan bahwa angka bunuh diri di kalangan remaja meningkat selama pandemi COVID-19. Lebih dari 5.500 remaja meninggal karena bunuh diri selama 10 bulan pertama pandemi.

Apa yang membuat remaja rentan melakukan bunuh diri?

Banyak remaja yang mencoba bunuh diri karena menderita penyakit mental. Akibatnya, mereka kesulitan mengatasi stres. Berbeda dengan kawan-kawannya yang bisa santai dan segera move on ketika menghadapi problem, remaja yang memiliki kencederungan untuk bunuh diri justru kebalikannya. Mereka kesulitan menghadapi penolakan, kekecewaan, kehilangan, dan kegagalan.

Kurangnya perhatian orang tua juga dianggap sebagai sumber terjadinya bunuh diri pada remaja. Banyak anak tumbuh dalam rumah tangga yang bercerai atau memiliki orang tua yang lengkap tetapi terlalu sibuk bekerja sehingga waktu berkualitas untuk keluarga sangat minim. Menurut sebuah penelitian, 90 persen remaja yang ingin bunuh diri percaya bahwa keluarga mereka tidak memahami mereka. Sedihnya, ketika para anak remaja yang rapuh ini mencoba bicara kepada orang tua mereka, berniat mencurahkan rasa sesak di dada karena merindukan kehadiran orang tua mereka secara fisik dan emosi, ibu dan ayah mereka justru mengabaikan.

BACA JUGA: Ramai Soal Rafathar Ditonjok Teman, Ini Tiga Pesan dari Raffi Ahmad

Limbung dan tak punya pendukung

Sepanjang masa remaja dan menuju usia dewasa muda anak-anak mengalami perubahan besar secara fisik, sosial, emosional dan psikologis. Perubahan-perubahan ini, dan perasaan stres, ketidakpastian, ketakutan, kebingungan, keputusasaan, dan tekanan eksternal dapat membuat sebagian besar remaja merasa kewalahan. Bingung, limbung, dan tanpa dukungan orang tua membuat remaja yang rapuh secara mental dan emosional menganggap bunuh diri sebagai satu-satunya jalan keluar.

Faktor risiko bunuh diri pada remaja

Masa remaja adalah masa perubahan, dinamis, bak roller coaster. Masa ketika mereka mulai terpapar beragam masalah. Tanpa pendampingan dan perhatian yang sesuai takaran dari orang tua mereka, remaja yang umumnya masih sering labil bisa terombang-ambing bingung tak punya pegangan. Psikolog Nicole L. Francen Schmitt, PsyD, mengatakan faktor-faktor di bawah ini berkontribusi terhadap meningkatnya angka bunuh diri di kalangan remaja:

  • Semakin mudahnya mengakses konten negatif di media sosial dan media online.
  • Perasaan terisolir.
  • Kurangnya perawatan diri secara fisik dan mental.
  • Stigma negatif tentang orang-orang yang membutuhkan perawatan mental.
  • Lebih mudah mendapatkan alat untuk bunuh diri (tali, pil tidur, racun serangga, pisau, dan lain lain).
  • Semakin besarnya tekanan hidup di dunia modern.
  • Persaingan untuk berprestasi dan ketatnya syarat masuk sekolah atau perguruan tinggi favorit.
  • Semakin banyak dan sering munculnya berita kekerasan di surat kabar dan televisi.
  • Gangguan kesehatan mental atau penggunaan narkoba — depresi, kecemasan, dan penyalahgunaan minuman beralkohol adalah yang paling umum terjadi.
  • Perilaku dan kecenderungan bertindak impulsif.
  • Patah hati.
  • Kecenderungan seksual yang berbeda dan tidak berterima di masyarakat umum sehingga menyebabkan terjadinya tindakan perundungan, konflik di dalam keluarga dan dengan lingkungan sekitar.
  • Mudahnya mendapatkan senjata tajam dan atau senpi.
  • Sejarah bunuh diri di keluarga.
  • Paparan terhadap perilaku bunuh diri yang dilakukan oleh orang lain.
  • Ada riwayat pelecehan fisik atau seksual, mengalami intimidasi, kekerasan, dan perundungan.
  • Pernah berusaha (berkali-kali) melakukan percobaan bunuh diri.

BACA JUGA: Ibu Mau Buang Bayi ke Rel KA, Benarkah Karena Baby Blues? Ini Kata Pakar!

Waspadai tanda-tanda adanya niat bunuh diri pada remaja

Sepuluh tanda bahaya yang menunjukkan adanya gejala depresi di bawah ini bisa menjadi pengingat bagi orang tua dan orang-orang di sekitar untuk mengulurkan bantuan:

  1. Berbicara atau menulis tentang bunuh diri. Misalnya membuat pernyataan seperti “Aku ingin mati”; “Dunia akan menjadi lebih baik jika aku tidak ada”; “Kalian pasti bahagia kalau aku mati”.
  2. Perubahan kebiasaan makan dan tidur.
  3. Konsumsi minuman beralkohol secara berlebihan dan penyalahgunaan obat-obatan terlarang.
  4. Menarik diri dari teman-teman dan keluarga.
  5. Mengabaikan penampilan pribadi.
  6. Tidak memberi respon positif jika ada yang memujinya.
  7. Iritabilitas.
  8. Sering sedih dan menangis.
  9. Postingannya di media sosial menunjukkan perasaan terisolasi dan depresi.
  10. Membicarakan atau mengindikasikan rencana ingin bunuh diri atau melukai diri sendiri.

Francen Schmitt mengingatkan kesalahpahaman yang umum terjadi yaitu anggapan bahwa perilaku melukai diri sendiri, seperti memotong, mengiris, membakar, atau mengorek kulit adalah tendensi perilaku ingin mengakhiri hidup pada remaja.

“Melukai diri sendiri tidak selalu merupakan awal dari bunuh diri, namun Anda harus mencari bantuan dari profesional kesehatan mental untuk menolong anak remaja Anda,” kata Schmitt. Ini adalah cara anak remaja memberitahu orangtuanya bahwa ada sesuatu yang salah dan ia memerlukan bantuan.

Cara membantu anak remaja yang memiliki kecenderungan bunuh diri

Jika Mommies dan Daddies mencurigai si anak remaja memiliki niat bunuh diri, jangan merasa diri berlebihan. Segeralah bertindak. Bunuh diri bisa dicegah, tapi Mommies dan Daddies harus bertindak cepat.

  • Biarkan pintu kamar atau pintu ruang kerja di rumah terbuka. Ingatkan anak remaja bahwa Mommies dan Daddies selalu siap mendengarkan cerita dan keluhannya. Beri tahu anak juga bahwa orang tuanya adalah orang dewasa yang dapat ia percaya dan jika ia melihat ada teman-temannya yang memiliki kencenderungan untuk bunuh diri, temannya bisa mendatangi Mommies dan Daddies untuk mendapatkan bantuan.
  • Berempatilah, jangan mengkritik. Katakan kepada anak remaja bahwa Mommies dan Daddies pun pernah remaja dan paham bahwa apa yang mereka alami sangatlah sulit. Ucapkan terima kasih karena dia mau memercayai Anda. Hindari bilang, “Sudahlah, ngapain sedih segala,” atau, “Kamu tu lebay banget sih.” Sebaliknya tanyakan, “Kamu butuh apa, Sayang?”
  • Jangan meremehkan perasaannya dengan bilang, “Kamu seharusnya bersikap positif,” atau, “Jangan gampang nyerah gitu dong.” Sebaliknya katakan, “Bagaimana Mama bisa bantu kamu?”
  • Jangan takut untuk mengucapkan kata “bunuh diri” dan tanyakan tentang hal itu jika Mommies dan Daddies merasa anak remaja punya kecenderungan untuk melakukannya. Menyampaikan sebuah topik serius secara terbuka dapat membantu anak remaja berpikir bahwa seseorang telah mendengar teriakannya meminta tolong.
  • Yakinkan dia bahwa Mommies dan Daddies mencintainya. Ingatkan dia bahwa betapapun buruk masalahnya, pasti dapat diselesaikan dan Mommies dan Daddies bersedia membantu.
  • Minta anak untuk menceritakan perasaannya. Jangan marah, dengarkan baik-baik dan jangan memotong ucapannya.
  • Singkirkan semua peralatan mematikan termasuk senjata api, pil, racun serangga, peralatan dapur, dan tali.
  • Please, jangan malu meminta bantuan psikolog atau psikiater. Harga diri kita sebagai orang tua tidak lebih penting daripada keselamatan anak-anak kita.

BACA JUGA: Saya Ingin Mengakhiri Hidup Karena Post Partum Depression

Cover: Image by Freepik