Tips Menjauhkan Anak dari Teman Toksik, Kenali Juga Ciri-Cirinya!

Parenting & Kids

Rahmasari Muhammad・15 Aug 2023

detail-thumb

Kenali ciri-ciri anak berada dalam lingkungan pertemanan toksik dan bantu dia keluar dari lingkaran teman tersebut demi masa depannya!

Pertemanan menjadi salah satu faktor pendukung penting dalam pembentukan karakter anak, dan kita sebagai orangtua tentu berharap anak-anak berada di lingkungan yang tepat serta menjalin pertemanan sehat yang membawa pengaruh positif. Tapi pada faktanya, banyak anak yang terjebak di lingkaran pertemanan toksik. Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai orangtua?

BACA JUGA: 6 Alasan Kenapa Saya Melarang Anak Saya Berteman dengan Siapa Saja

Ciri-ciri Anak Berada di Pertemanan Toksik

Awalnya, kita harus mendeteksi jika anak menjalin pertemanan yang toksik. Dilansir dari artikel How to Help A Child with a Toxic Friendship yang ditulis oleh Sarah Stein, ada beberapa ciri anak yang berada di lingkungan pertemanan toksik. Lihat di bawah ini!

1. Perubahan Sikap, Kebiasaan atau Mood Mendadak

Jika anak mengalami perubahan mendadak, menarik diri atau mengalami penurunan nafsu makan, perhatikan baik-baik dan jangan abaikan. Sadari kebiasaan kecilnya yang biasa dia lakukan atau nikmati, misalnya bermain dengan binatang peliharaan, atau kegiatan favoritnya yang mendadak tidak lagi disukainya. Mungkin saja dia mengalami masalah internal.

2. Terjadi Tindak Manipulasi atau Gaslighting

Teman toksik biasanya memiliki karakter narsistik, egosentris, manipulative, dan insecure, yang seringkali mengancam anak yang baik dan empatik. Mereka akan memprovokasi dengan kata-kata kasar atau merendahkan, dan ketika korbannya bersikap defensive sebagai bentuk pertahanan diri, mereka akan memutar balikkan fakta, mengatakan bahwa anak kita bersikap dramatis atau berlebihan hingga teman-temannya malah menjauhi korban.

3. Sikap Teman yang Membuat Anak Menyalahkan Diri Sendiri

Teman yang toksik seringkali mengontrol keadaan dan menciptakan kebingungan, hingga korban merasa bahwa apa yang terjadi di sekelilingnya merupakan salahnya. Teman yang toksik sangat cemburu kepada anak yang sensitif dan empatik, karena memiliki kekuatan untuk bergaul dengan orang lain dan dapat menempatkan diri di lingkungannya dengan baik, kekuatan yang tidak dimiliki oleh si teman toksik. Anak seringkali merasa kebingungan dan kerap menyalahkan diri sendiri jika berada di lingkungan yang toksik, karena keberadaannya tidak dihargai atau situasi yang sering dimanipulasi oleh teman toksik.

4. Teman Toksik Menggunakan Masalahnya Sebagai Pembenaran Aksi

Teman yang toksik biasanya kekurangan empati dan tidak cerdas sosial emosional. Jika teman toksik melakukan bully, dia akan menggunakan trauma atau masalah pribadinya sebagai pembenaran aksinya, alih-alih bertanggungjawab. Teman toksik juga tidak memiliki hati nurani yang baik. Jika dikonfrontasi, mereka akan bertindak sebagai pahlawan atau korban, dan tidak pernah mau mengakui kesalahannya.

Tips Menjauhkan Anak dari Teman Toksik

Dilansir dari artikel Six Ways To Help a Children with Toxic Friends yang ditulis oleh Erin Leonard, PhD, ada beberapa tips yang dapat dilakukan orangtua untuk menarik anak dari pertemanan toksik. Yuk, simak tipsnya!

1. Dengarkan Anak dan Validasi Perasaannya

Dengarkan baik-baik ketika anak bercerita, validasi perasaannya karena korban pertemanan toksik seringkali tidak menyadari bahwa dia di bawah kontrol orang lain & anak memerlukan safe space untuk dirinya bercerita. Misalnya anak mengatakan, “Aku gak baik” atau “Ini salahku”, Mommies bisa mengatakan “memang, gak, enak, ya, punya perasaan seperti itu, mama paham dan pernah mengalaminya.” Ini juga membuat anak lebih tenang, merasa dipahami, dan tidak sendirian dalam menghadapi masalahnya.

Kita juga dapat mengingatkan bahwa walaupun berada di situasi yang kurang nyaman, anak tidak dapat lari selamanya dan perlu menghadapi situasi tersebut, tetapi dia tidak sendirian dan orangtua akan selalu mendampingi dalam menemukan solusi terbaik.

2. Tanyakan Pertanyaan Terbuka sebagai Bahan Diskusi

Minta anak menjelaskan dengan rinci melalui pertanyaan terbuka. Harapannya, anak tidak berlaku defensif dan lebih terbuka kepada orangtua. Misalnya, “Kenapa kamu merasa seperti itu?” atau “Apa yang membuat kamu merasa begitu?” Ketika anak bercerita, berikan respon dengan empati, contohnya “Kamu berhak kesal, marah atau sedih. Kalau Mama di posisi kamu, Mama juga akan merasa begitu, apa yang terjadi sama kamu itu tidak baik atau tidak wajar.”

3. Tumbuhkan Kepercayaan Anak Kembali

Yakinkan anak bahwa kita tidak akan mengkonfrontasi pihak sekolah atau orangtua lain tanpa seijin anak. Anak sedang mengalami trust issue ketika kepercayaannya dilukai oleh teman toksik, maka penting untuk kita menumbuhkan kepercayaan anak kembali.

4. Berdiskusi dengan Sekolah dengan Hati-Hati dan Pertimbangan Matang

Di kasus bully yang lebih serius, dapat dipertimbangkan untuk berdiskusi dengan pihak sekolah untuk mengawasi interaksi anak-anak, namun sebelum lakukan itu penting untuk kita jelaskan secara detail alasan kita perlu bicara dan berdiskusi dengan pihak sekolah agar anak tidak merasa dibohongi.

Orangtua juga harus berhati-hati karena biasanya pembully atau anak dengan karakter toksik menyembunyikan “kejahatannya” dengan baik, bisa jadi di depan guru dia anak yang baik atau pintar, tetapi dia akan memrundung anak lain ketika dia merasa tidak ada yang melihat.

Kita dapat mengatakan bahwa anak ini terlihat baik-baik saja tapi ada yang janggal dengan interaksi diantara dia dengan anak lain, hingga jika pihak sekolah setuju untuk memperhatikannya, pastikan di luar sepengetahuan anak ini.

5. Tekankan Sikap Amoral Teman Toksik & Cara Menghadapinya

Coba tanyakan ke anak “Apa kamu akan bersikap seperti itu ke teman kamu?” untuk membuat anak sadar bahwa bukan dirinya yang menjadi masalah, tetapi si teman toksik.

Jika mendapat perlakuan tidak baik dari teman toksik, lebih baik anak mengatakan “Kamu mengajak bertengkar, ini tidak baik, aku tidak mau terlibat” atau “Kamu mengintimidasi aku, kamu harus berhenti” dibandingkan “Kamu jahat,” atau “Kamu kejam,” karena teman toksik akan memutar balikkan fakta dan berkata anak kita yang merundungnya jika mengatakan hal yang berhubungan dengan karakter.

6. Membantu Anak Menjaga Jarak dengan Teman Toksik

Semangati anak untuk meluaskan pertemanannya melalui lingkaran pertemanan lain, misal melalui klub atau komunitas kegiatan favoritnya. Bantu mereka mendapatkan teman dan lingkaran pertemanan sehat yang menghargai dan menerima mereka dengan baik.

Lingkungan yang sehat akan membuat anak bisa membedakan dan membandingkannya dengan lingkungan pertemanan toksik. Hal ini juga bermanfaat agar anak bisa memilih dan menyaring lingkungan terbaik untuknya di masa depan.

BACA JUGA: Kenali 8 Tanda Pertemanan Tidak Sehat Pada Anak Kita

Cover: Freepik